Turki Tegaskan Serangan ‘Israel’ atas Suriah Ancam Stabilitas & Tingkatkan Eskalasi Kekerasan di Kawasan

SALAM-ONLINE.COM: Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan bahwa serangan “Israel” di Suriah merupakan salah satu ancaman terbesar bagi stabilitas negara tersebut. Ia menuduh penjajah itu meningkatkan eskalasi kekerasan di seluruh kawasan.
“Serangan ‘Israel’ yang menyasar kedaulatan dan integritas wilayah Suriah merupakan salah satu ancaman terbesar bagi stabilitas negara itu,” ujar Fidan dalam konferensi pers bersama di Ankara dengan mitranya dari Suriah, As’aad Hassan al-Shaibani, usai pertemuan mereka, Kamis (6/8/2026), lapor Kantor Berita Turki, Anadolu.
Fidan mengatakan bahwa Damaskus turut berperan menjaga stabilitas kawasan selama konflik AS-“Israel” dengan Iran. Menurutnya, melindungi keamanan serta stabilitas Suriah merupakan tanggung jawab bersama seluruh negara di kawasan tersebut.
Ia menyatakan bahwa masyarakat internasional harus merespons lebih tegas terhadap kebijakan pendudukan “Israel” dan memberikan tekanan yang diperlukan guna memastikan kepatuhan terhadap Perjanjian Pemisahan Pasukan tahun 1974 serta penghormatan terhadap kedaulatan Suriah.
Fidan menyatakan bahwa Turki dan Suriah terus menjalin koordinasi erat melalui komunikasi rutin antarpejabat. “Kerja sama yang berkelanjutan telah berkontribusi pada peningkatan stabilitas di Suriah serta mempererat hubungan bilateral,” katanya. Ia berharap momentum positif ini akan membawa manfaat bagi kedua negara maupun kawasan yang lebih luas.
Ia menyebutkan bahwa Turki dan Suriah tidak hanya berbagi perbatasan sepanjang lebih dari 900 kilometer, tetapi juga memiliki sejarah, budaya, dan masa depan yang sama. Ia menambahkan bahwa kemakmuran dan stabilitas kedua negara merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan.
Fidan mengatakan bahwa peningkatan keamanan di kota-kota Suriah seperti Damaskus dan Aleppo akan berdampak positif bagi kota-kota di Turki—termasuk Gaziantep, Mersin, dan Istanbul—sementara ketidakstabilan di wilayah mana pun di Suriah juga akan menjadi ancaman bagi Turki.
Ia menyatakan bahwa Turki akan semakin memperdalam kerja sama dan koordinasi dengan Suriah di bidang kontra-terorisme, pertahanan, dan keamanan, seraya menegaskan bahwa penyelesaian proses integrasi yang sedang berlangsung di Suriah tanpa hambatan tetap menjadi prioritas bagi Ankara.
Ia menegaskan bahwa integrasi seluruh kelompok dan formasi bersenjata ke dalam struktur nasional yang terpusat dan sah merupakan hal yang krusial bagi persatuan Suriah serta stabilitas kawasan.
Rencana perdamaian Gaza
Menyinggung kesepakatan terbaru mengenai rencana perdamaian Gaza, Fidan mengatakan bahwa serangan “Israel” yang terus berlanjut “sekali lagi menunjukkan bahwa Netanyahu (perdana menteri penjajah – red) tidak menginginkan perdamaian.”
Fidan menyatakan bahwa peta jalan untuk tahap kedua rencana perdamaian Gaza telah disepakati dan diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, namun “Israel” tetap melanjutkan serangannya.
“Kami melihat bahwa rezim Netanyahu telah meningkatkan aksi terornya di Tepi Barat dan Yerusalem,” tambahnya.
Fidan juga menyambut baik pernyataan yang mengisyaratkan kemungkinan kembalinya perundingan antara AS dan Iran. Ia berharap gencatan senjata dapat segera dipulihkan dan Selat Hormuz dibuka kembali. Fidan menegaskan bahwa Turki akan terus berkontribusi pada upaya-upaya tersebut.
Ia mengingatkan bahwa “Israel” ingin menyabotase upaya perdamaian dan memisahkan warga Palestina dari Gaza, namun “Netanyahu tidak akan berhasil dengan kebijakan ini”. “Warga Gaza akan terus tinggal di Gaza dan membangun masa depan mereka di sana,” ujarnya.
Fidan menyatakan bahwa tidak ada alternatif selain menjadikan gencatan senjata di Gaza sebagai gencatan senjata permanen, melangkah ke tahap kedua rencana perdamaian, serta memulai proses rekonstruksi wilayah tersebut.
Merujuk pada pertemuan tingkat menteri mengenai Yerusalem yang diselenggarakan oleh Yordania sehari sebelumnya, Fidan mengatakan para peserta membahas langkah-langkah bersama dalam merespons tindakan “Israel” yang menyasar Masjid Al-Aqsha, menyuarakan penolakan keras terhadap pelanggaran status quo historis situs-situs suci umat Islam di Yerusalem, serta menegaskan kembali dukungan bagi Yordania dalam perannya sebagai penjaga sah situs-situs tersebut.
Ia mengatakan bahwa stabilitas dan keamanan di Lebanon tetap krusial bagi perdamaian kawasan. Karenanya, ia menyambut baik langkah-langkah menuju normalisasi dan peningkatan kerja sama antara Suriah dan Lebanon.
“Suriah kini semakin menjadi sumber solusi, bukan sumber masalah di kawasan tersebut,” tutupnya. (is)