Al-Sisi: Tentara Mesir Bekerja Sama dengan Zionis di Sinai

Dalam wawancaranya, presiden tidak sah Mesir, Abdel Fattah Al-Sisi mengungkapkan hubungan Mesir dengan Zionis (penjajah, red) adalah yang paling dekat saat ini dibandingkan pemerintahan Mesir sebelumnya.

Presiden tidak sah rezim kudeta Mesir, Abdel Fattah Al-Sisi, mengunjungi tentara Mesir di Sinai.

SALAM-ONLINE: Presiden tidak sah rezim kudeta Mesir, Abdel Fattah Al-Sisi, mengatakan bahwa Zionis (penjajah) telah bekerja sama dengan Mesir dalam operasi Sinai. Dia menekankan bahwa hubungan antara kedua pihak telah menguat selama masa jabatannya.

Dalam wawancara yang disiarkan televisi—di mana saluran berita AS CBS News hanya menyiarkan kutipannya—Al-Sisi mengatakan bahwa “hubungan dengan Zionis adalah yang paling dekat sekarang dibandingkan dengan pemerintahan Mesir sebelumnya, itu termasuk kerja sama di berbagai bidang”.

Sisi, seperti dilansir Middle East Monitor (MEMO), Sabtu (5/1/2018) menambahkan bahwa tentara Mesir bekerja sama dengan mitranya dari Zionis “untuk menghadapi ‘terorisme’ di Sinai” yang berbatasan dengan wilayah jajahan Zionis di timur laut Mesir.

Selama empat tahun, tentara Mesir telah melancarkan operasi militer di Sinai. Mereka menyebut tujuannya adalah untuk memerangi kelompok-kelompok “teroris”, terutama kelompok “Provinsi Sinai” yang menyatakan kesetiaannya kepada ISIS pada akhir 2014.

Namun, organisasi seperti Human Rights Watch (HRW) menyatakan bahwa “pertempuran di Sinai telah dirusak oleh pelanggaran rezim yang meluas, termasuk penahanan rahasia, eksekusi di luar pengadilan dan pengadilan militer terhadap warga sipil”.

Pada topik lain, situs web CBS News mengatakan bahwa Al-Sisi menahan diri untuk menjawab pertanyaan tentang tanggung jawabnya atas pembubaran sit-in (Aksi Duduk) di “Rabaa Square”. Dia hanya mengatakan, “Ada ribuan militan dalam ‘aksi duduk’ selama lebih dari 40 hari tersebut. Kami telah berusaha dengan segala cara damai untuk membubarkan mereka.”

Pada 14 Agustus 2013, pasukan Mesir dan kepolisian secara paksa membubarkan dua “sit-in pro-Mohammad Mursi, presiden sah sipil pertama yang terpilih secara demokratis di Mesir, di alun-alun Nahda, sebelah barat ibu kota Mesir, Kairo, dan Lapangan Rabaa, di sebelah timur ibu kota.

Pembubaran “Aksi Duduk mengakibatkan terbunuhnya 632 orang demonstran, termasuk delapan polisi, menurut Dewan Nasional Hak Asasi Manusia di Mesir (NCHR). Sementara organisasi hak asasi lokal dan internasional mengatakan bahwa jumlah korban terbunuh melebihi 1.000 orang.

Ketika ditanya tentang validitas laporan hak asasi manusia bahwa 60.000 tahanan politik telah ditahan di Mesir, Al-Sisi menjawab, “Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkan angka ini. Tidak ada tahanan politik di Mesir. Ketika ada minoritas yang mencoba memaksakan ideologi ekstremisnya, kita harus campur tangan berapapun jumlahnya.”

CBS News menambahkan bahwa duta besar Mesir untuk AS di Washington, Yasser Reda, meminta stasiun TV itu untuk tidak menyiarkan wawancara. Namun channel tersebut mengonfirmasi siaran penuh akan dilanjutkan pada Minggu (6/1). (mus)

Sumber: MEMO

Baca Juga