Nasihat Terbuka untuk Ma’ruf Amin

-OLEH: ATHIAN ALI M DA’I-

Terpanggil oleh harus bisa membuktikan rasa cinta kepada sesama mukmin seperti mencintai diri sendiri (Al-Hadist) juga demi terhindar diri dari ancaman “lafii khusrin”, maka saya laksanakan kewajiban “tawaa shau bil haq” kepada Saudara Ma’ruf Amin terkait beberapa dari sekian banyak sikap dan pernyataannya yang mudah-mudahan hanya lahir dari kekhilafan akibat terlalu semangatnya mengejar mimpi jadi wapres.

KH Athian Ali M Da’i, Lc, MA dan KH Ma’ruf Amin

SALAM-ONLINE: Sejak “memaksakan diri” (seperti dinyatakan Mahfud MD) untuk dicalonkan sebagai cawapres, terlebih setelah munculnya berbagai pernyataan kontroversial, belum pernah saya menjumpai Tokoh Masyarakat, Ulama, Cendekiawan dan juga Umat pada umumnya, kecuali rasa kekecewaan dan penyesalan mereka terhadap berbagai sikap dan pernyataan Ma’ruf Amin. Sosok yang doeloe sempat menjadi panutan dan harapan umat.

Saya pribadi yang sedikit banyak mengenal bahkan pernah beberapa kali bersentuhan dalam menangani berbagai upaya menyelamatkan akidah umat, sangat terkejut melihat perubahan yang bersangkutan akhir-akhir ini.

Terpanggil oleh harus bisa membuktikan rasa cinta kepada sesama mukmin seperti mencintai diri sendiri (Al-Hadist) juga demi terhindar diri dari ancaman “lafii khusrin”, maka saya laksanakan kewajiban “tawaa shau bil haq” kepada Saudara Ma’ruf Amin terkait beberapa dari sekian banyak sikap dan pernyataannya yang mudah-mudahan hanya lahir dari kekhilafan akibat terlalu semangatnya mengejar mimpi jadi wapres.

Saudara Ma’ruf Amin… beberapa sikap dan pernyataan “aneh” saudara yang karenanya saya merasa wajib untuk mengingatkan saudara, di antaranya:

Pertama, saya sangat terkejut membaca pernyataan saudara ketika dimintai tanggapan terhadap hasil Ijtima Ulama II, yang secara resmi menyatakan dukungan sepenuhnya kepada pasangan bakal Capres-cawapres Prabowo-Sandi. Saudara menyatakan, “Ya saya kira enggak ada masalah karena para Ulama yang mendukung Jokowi-Ma’ruf adalah orang-orang yang memiliki keilmuan tentang Islam. Ulamanya benar-benar Ulama, Kiai, dan itu mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, jadi enggak ada masalah.” (REPUBLIKA, Senin 17 September 2018, hlm 3 kol 2).

“Mafhum mukholafah” atau pengertian yang terkandung di balik pernyataan saudara tersebut bahwa para Ulama, Kiai yang tergabung dalam Ijtima Ulama, bukanlah Ulama dan kiai yang sesungguhnya. Hinaan terhadap para Ulama seperti ini tentu saja tidak layak dinyatakan oleh seorang Ulama. Saya yakin, hinaan sekeji itu tidak akan pernah saudara lakukan jika saja saudara tidak dalam posisi seperti sekarang sebagai cawapres, karena sebagian dari para Ulama yang saudara rendahkan tersebut adalah mereka yang sebelumnya sangat setia berjuang bersama saudara di MUI.

Jika hinaan tersebut dimaksudkan agar umat tidak memilih capres-cawapres saingan saudara dan tetap memilih saudara, maka sikap tersebut menurut saya malah justru yang akan menyebabkan sebagian umat yang dulu mengagumi dan mendukung penuh akan berbalik seratus delapan puluh derajat!

Di lapangan, saya menyaksikan sendiri, betapa banyaknya umat yang sudah meninggalkan bahkan mencemooh saudara. Semua itu disebabkan karena mereka melihat saudara semakin kehilangan “jati diri” sebagai Ulama yang pernah melekat dengan diri saudara sebelumnya.

Kedua, dengan sangat fasih dan terkesan tanpa beban sedikit pun, saudara mengucapkan selamat natal. Sesuatu yang boleh jadi seumur hidup belum pernah saudara ucapkan. Bahkan saudara dulu pernah mengarahkan umat untuk tidak pernah mengucapkan kalimat tersebut.

Sebagai orang yang sekian lama berada di MUI bahkan sempat menjadi Ketua Umum MUI, tentunya saudara sangat mafhum konsekuensi syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dari ucapan tersebut. Bisa terancam akidah, jika diucapkan dengan penuh keyakinan bahwa mereka selamat dengan memperingati kelahiran Isa al-Masih sebagai anak Tuhan. Haram, jika diucapkan tanpa keyakinan mereka selamat dengan keyakinan seperti itu. Boleh, jika terpaksa karena mengancam nyawa, bukan hanya sekadar mengancam jabatan, apalagi mengancam jabatan yang baru menjadi harapan atau bahkan hanya sebatas impian.

Ketiga, pengadilan telah menetapkan Ahok bersalah karena terbukti menghina surat Al Maidah 51. Saudara saat itu bahkan sempat menjadi sosok sentral yang menggerakkan para ulama dan umat agar ber “jihad” untuk memidanakan Ahok. Saudara sendiri begitu bersemangat merealisasikan “Jihad” yang saudara kumandangkan, di antaranya dengan hadir sebagai saksi ahli yang memberatkan.

Kini, “na’uudzubillaah” saudara malah dengan menampakkan wajah penuh penyesalan, meminta maaf kepada Ahok, menyatakan kekecewaan dan penyesalan saudara telah menjadi salah seorang saksi Ahli yang memberatkan Ahok sehingga yang bersangkutan masuk penjara.

Artinya, saudara ingin menyatakan Ahok atau siapa pun tidak layak dihukum karena menghina ayat suci Al-Qur’an? Benarkah pernyataan ini keluar dari hati sanubari saudara? Jika benar, tidak takutkah akidah saudara terancam di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

Sejauh inikah syahwat kekuasaan telah mengantarkan keimanan meluncur dari standar keimanan yang paling mendasar, kewajiban mencintai Allah dan Rasulnya, mengalahkan cinta kepada dunia dan segala isinya (Al Baqarah 165, At Taubah 24) menjadi sebaliknya?

Keempat, terkait dengan dukungan terhadap capres-cawapres, saudara di antaranya menyatakan, “Saya kira semua orang boleh (mendukung capres-cawapres tertentu) itu (pilihan) masing-masing kan. Jadi, kita masing-masing saja ya, lakum dinukum wa liya din, bagimu agamamu, bagi kami agama kami, lakum capresukum, walana capresuna, bagimu capresmu, bagi kami capres kami.” Pernyataan yang saudara ungkapkan di kediaman saudara di Jl Situbondo 12 Menteng, Senin 5 November 2018, itu membuat saya semula kurang percaya jika itu keluar dari mulut saudara.

Bagaimana mungkin seorang Ma’ruf Amin membuat qiyas—analogi—sesat seperti ini, dengan menganalogikan pemilihan capres-cawapres seperti memilih keyakinan (agama)? Saudara harusnya mafhum, jika seruan dalam surah Al Kafirun itu tertuju kepada orang-orang kafir, bahwasanya jika mereka tetap memilih kafir, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk menyatakan “Lakum dinukum wa liya din”.

Lalu, apakah dengan analogi ngawur tersebut saudara ingin menyatakan yang memilih Jokowi-Ma’ruf adalah orang-orang yang beriman, sementara yang memilih capres-cawapres Prabowo Sandi adalah orang-orang kafir? Atau sebaliknya? Ya Allah…apa sebenarnya yang terjadi dengan diri saudara?

Kelima, menjadi cawapres adalah pilihan saudara yang harus dihormati oleh semua pihak. Namun pilihan yang kabarnya sangat “memaksakan diri” itu seharusnya tidak mengubah sedikit pun kepribadian saudara sebagai Muslim apalagi sebagai Ulama.

Setiap mukmin pasti bercita-cita ingin bisa mengakhiri hidup kelak dalam husnul khotimah. Saya dan insya Alloh umat berharap mudah-mudahan saudara kelak husnul khotimah.

Karenanya sebagai saudara seiman yang mencintai saudaranya semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, izinkan saya menyampaikan nasihat saya yang mungkin terakhir: Bertaubatlah…, lalu berusahalah meraih harapan menjadi wapres (yang boleh jadi hanya sebuah mimpi) dengan tetap istiqomah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

-Penulis adalah Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) dan Ketua ANNAS Indonesia

Baca Juga