Memasuki Pekan Ketiga, Demo Besar-besaran di Iran Meluas
SALAM-ONLINE.COM: Aksi protes anti-pemerintah di Iran telah memasuki pekan ketiga. Aksi Demo besar-besaran itu meluas. Menyebar ke seluruh negeri. Di tengah krisis semakin memburuk yang dipicu oleh kesulitan ekonomi yang semakin dalam dan depresiasi tajam mata uang rial Iran.
Banyak pemilik toko bergabung dalam pemogokan nasional, menutup bisnis mereka sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang memburuk.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Senin (12/1/2026) bahwa aksi yang sedang berlangsung di negara itu tidak dapat digambarkan sebagai demonstrasi, melainkan, ia menyebutnya sebagai “perang teroris”.
“Apa yang terjadi sekarang bukanlah aksi protes, itu adalah perang ‘teroris’ melawan negara,” kata Aragchi dalam konferensi pers, Senin (12/6) seperti dilansir Anadolu.
“Pihak berwenang Iran memiliki rekaman audio pesan suara yang dikirim ke elemen ‘teroris’ yang memerintahkan mereka untuk menembak warga sipil dan pasukan keamanan,” klaimnya.
Araghchi mengatakan kelompok-kelompok tersebut juga menargetkan gedung-gedung pemerintah, kantor polisi, dan toko-toko,. Ia mengklaim pihak berwenang memiliki gambar yang menunjukkan senjata didistribusikan di antara para demonstran.
Presiden Iran pada Ahad (11/1) mengatakan bahwa pemerintahnya bertekad untuk mengatasi masalah ekonomi Iran. Ini adalah pernyataannya yang pertama sejak aksi protes dimulai bulan lalu.
Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyerukan “tindakan tegas” terhadap apa yang disebutnya sebagai “perusuh”.
Pemutusan komunikasi
Pemutusan internet dan telepon di seluruh negeri telah berlaku selama lebih dari 72 jam, yang secara efektif mengisolasi sebagian besar penduduk. Kelompok pemantau internet yang berbasis di London, NetBlocks, mengatakan pada Ahad bahwa telemetri menunjukkan pembatasan internet nasional “tetap berlaku”.
Dalam bentrokan di dekat pinggiran kota Teheran, seorang petugas polisi Iran dilaporkan tewas selama kerusuhan, yang menggarisbawahi meningkatnya jumlah korban di kedua pihak yang bertikai.
Tidak ada angka korban resmi, tetapi HRANA, sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, memperkirakan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai setidaknya 544 orang, termasuk pasukan keamanan dan demonstran. Sementara yang terluka lebih dari 1.000 orang.
HRANA juga melaporkan bahwa setidaknya 10.681 orang telah ditahan di seluruh wilayah demonstrasi di 585 lokasi di seluruh negeri, termasuk 186 kota di semua 31 provinsi.
Peringatan Pemerintah
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, secara terbuka mengecam apa yang ia sebut sebagai “kolaborasi dengan pihak asing”, mengutuk Presiden AS Donald Trump karena mengeksploitasi keresahan publik. Ia menyerukan persatuan di negara tersebut.
Para pejabat Iran menuduh AS dan “Israel” mendukung protes yang semakin keras, khususnya di Teheran, di mana gedung-gedung pemerintah, bank, bus, dan masjid telah dibakar oleh para demonstran bersenjata dalam beberapa hari terakhir.
Reaksi dan dampak internasional
Australia mendesak warganya untuk meninggalkan Iran “sesegera mungkin” karena protes kekerasan nasional yang sedang berlangsung yang dapat meningkat tanpa peringatan.
Presiden Donald Trump mengulangi peringatan pada Sabtu kepada Teheran. Ia menyatakan bahwa Washington “mengawasi dengan sangat cermat” dan akan “menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka” jika otoritas Iran membunuh para demonstran.
Ketua parlemen Iran memperingatkan pada hari Ahad bahwa “Israel”, militer AS, dan pusat-pusat pengiriman akan dianggap sebagai “target yang sah” jika Washington melancarkan serangan militer ke Teheran.
Aksi Protes dimulai pada 28 Desember 2025, dipicu oleh keluhan ekonomi yang terkait dengan inflasi dan kejatuhan mata uang. Sejak itu berkembang menjadi ekspresi ketidakpuasan anti-pemerintah yang lebih luas. (af)



