Hamas Konfirmasi Gugurnya Abu Ubaidah dan ‘Perkenalkan’ Jubir Militer Barunya

Abu Ubaidah, juru bicara sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, saat menyampaikan informasi perang di Jalur Gaza selatan pada 11 November 2019 (Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)

SALAM-ONLINE.COM: Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam pada Senin (29/12/2025) memperkenalkan juru bicara barunya dan mengonfirmasi gugurnya pendahulunya dalam serangan “Israel” di Kota Gaza pada Agustus 2025 lalu.

Dalam pernyataan yang direkam dan disiarkan di media Arab, seperti dilansir Middle East Eye (MEE), juru bicara baru tersebut mengungkapkan bahwa pendahulunya, yang dikenal dengan nama samaran Abu Ubaidah, yang nama aslinya adalah Huthaifa Samir al-Kahlout, telah gugur syahid.

Juru bicara baru, yang identitasnya tidak diketahui, juga menggunakan nama samaran yang sama.

Ini adalah pertama kalinya Hamas secara resmi mengonfirmasi identitas Kahlout (Abu Ubaidah) setelah ia menjabat sebagai juru bicara Brigade al-Qassam selama dua dekade tanpa pernah memperlihatkan wajahnya.

“Kami berduka atas pemimpin besar (Abu Ubaidah), Huthaifa Samir al-Kahlout, Abu Ibrahim, kepala kantor media al-Qassam, yang gugur setelah dua dekade menggagalkan musuh dan membangkitkan semangat orang-orang beriman,” kata Abu Ubaidah yang baru.

“Kami memberi penghormatan kepada pria bertopeng dengan keffiyeh merah, suara lantang, Abu Ubaidah, yang tidak pernah meninggalkan rakyatnya di masa-masa tergelap dan berbicara kepada mereka dari jantung pertempuran.”

Juru bicara baru itu juga mengonfirmasi bahwa Mohammad al-Sinwar, mantan komandan Brigade al-Qassam, gugur pada Mei lalu. Pemimpin militer senior lainnya juga dipastikan gugur, termasuk Raed Saad, yang gugur awal bulan ini.

Kahlout telah menjabat sebagai juru bicara sayap militer Hamas selama lebih dari 20 tahun.

Selalu tampil secara anonim dengan wajah tertutup keffiyeh merah, amat sedikit yang diketahui tentang kehidupan pribadi Kahlout, sehingga ia mendapat julukan “sosok bertopeng” di dunia Arab.

Ia paling dikenal karena pernyataan-pernyataannya di televisi, yang memberikan informasi terkini tentang medan perang, tentang keberhasilan militer Hamas, dan mengejek “Israel”.

Sebagai salah satu tokoh Hamas yang paling menonjol, ia meraih popularitas dan penghormatan yang luas di seluruh dunia berbahasa Arab, dengan penampilannya yang khas sering ditiru dalam demonstrasi dan namanya diabadikan dalam banyak nasyid (perjuangan).

Sosok dan popularitasnya meningkat drastis setelah serangan mendadak Hamas terhadap “Israel” pada Oktober 2023, dan perang genosida “Israel” di Jalur Gaza yang terjadi setelahnya.

Meskipun tidak banyak orang yang mengetahui tentang sosok dan kehidupannya, Kahlout atau Abu Ubaidah menyebutkan dalam sebuah wawancara tahun 2005 bahwa keluarganya dipaksa mengungsi oleh milisi Zionis dalam peristiwa Nakba 1948. Keluarganya dipindahkan ke sebuah kamp yang tidak disebutkan namanya di Jalur Gaza. Pada saat wawancara itu, ia menyatakan usianya sekitar awal 20-an, yang menyiratkan ia lahir pada pertengahan tahun 1980-an.

Baca Juga

Sumber-sumber di dalam Hamas mengatakan hanya sedikit orang yang mengetahui identitas aslinya sebelum kesyahidannya.

“Abu Ubaidah” adalah nama samaran yang diadopsinya selama Intifadah Kedua (2000-2005) ketika ia pertama kali muncul di depan umum. Nama tersebut merujuk pada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dihormati dan dikenal sebagai panglima perang.

Penampilan publik pertamanya sebagai juru bicara Brigade al-Qassam adalah pada tahun 2004. Ia mengadakan konferensi pers pada Oktober tahun itu selama serangan darat “Israel” di Gaza utara.

Sejak saat itu, ia menjadi satu-satunya juru bicara militer Hamas. Ia menyampaikan pernyataan dan laporan terkini dari medan perang melalui platform media resmi Hamas. Perannya sebagai juru bicara militer kelompok perlawanan tersebut diresmikan di kantor media Hamas pada tahun 2004.

Penampilan besar pertamanya terjadi pada tahun 2006 ketika ia mengumumkan penangkapan tentara penjajah “Israel”, Gilad Shalit.

Pada tahun 2014, ia juga menjadi orang pertama yang mengumumkan penangkapan tentara “Israel” lainnya, Shaul Aron, selama perang Israel di Gaza. Saat itu ia juga mengungkapkan nomor kartu identitasnya dalam sebuah video yang direkam.

Sesekali, ia memberikan komentar di luar masa perang. Pada tahun 2022, setelah penangkapan kembali enam tahanan Palestina yang melarikan diri dari penjara “Israel”, ia bersumpah bahwa Hamas akan mengamankan pembebasan mereka dalam pertukaran tahanan di masa mendatang.

Salah satu pernyataannya yang paling terkenal adalah pada 28 Oktober 2024, ketika ia mengkritik para pemimpin Arab karena gagal membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.

“Semoga Tuhan melarang” warga Palestina meminta para penguasa Arab untuk campur tangan secara militer di Gaza, katanya, tetapi kegagalan mereka untuk bahkan menyediakan bantuan pun mengejutkan Hamas.

Ungkapan “Semoga Tuhan melarang” kemudian menjadi slogan yang banyak digunakan di dunia berbahasa Arab dan di media sosial untuk menyatakan keengganan para pemimpin Arab untuk bertindak melawan serangan “Israel”.

Penjajah “Israel” telah beberapa kali berupaya membunuhnya selama 20 tahun terakhir, termasuk dua kali sejak Oktober 2023.

Pada April 2024, AS menjatuhkan sanksi kepadanya dengan tuduhan sebagai “pemimpin perang informasi” Hamas. (is)

Baca Juga