Perang Genosida ‘Israel’ Sudah Berlangsung 1.000 Hari, Masa Depan Gaza Dibuat tidak Jelas

Warga Palestina, Kamis (2/72026) berjalan di sepanjang jalan di Jabalia Jalur Gaza yang dikelilingi bangunan-bangunan yang hancur akibat serangan militer penjajah “Israel”. (Foto AP)

SALAM-ONLINE.COM: Nasib lebih dari 2 juta warga Palestina di Gaza, yang sebagian besar mengungsi dan hidup di tengah reruntuhan, masih belum jelas. Sementara perang genosida “Israel” sudah berlangsung 1.000 hari sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Sejak saat itu, pasukan penjajah “Israel”, yang telah melancarkan serangan di wilayah tersebut menguasai lebih dari setengah wilayah Palestina di bawah kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Tetapi “Israel” telah memperluas wilayah tersebut. Penjajah itu mengatakan bahwa mereka ingin menguasai 70% Jalur Gaza.

Serangan Hamas pada 7 Oktober menyebabkan tewasnya sekitar 1.200 orang di pihak penjajah. Selain itu Hamas juga menyandera 251 orang “Israel”, termasuk tentaranya. Semua sandera atau jasad mereka yang tewas telah dibebaskan atau diserahkan oleh Hamas.

Namun, pembalasan genosida “Israel” telah menyebabkan kematian sebanyak 73.066 warga Palestina hingga Selasa, 30 Juni 2026.

Terlepas dari kesepakatan gencatan senjata, hanya sedikit orang yang dapat masuk atau keluar dari Gaza.

Langkah-langkah gencatan senjata lebih lanjut, termasuk perlucutan senjata Hamas dan tugas rekonstruksi yang sangat besar, telah terhenti.

“Masih banyak yang perlu dilakukan agar keadaan normal kembali, dan kita masih sangat jauh dari itu,” kata direktur regional Komite Internasional Palang Merah, Nicolas von Arx, pekan ini.

Serangan “Israel” telah berkurang sejak gencatan senjata diberlakukan, tetapi masih terus terjadi hampir setiap hari.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.053 warga Palestina terbunuh sejak gencatan senjata hingga Selasa (30 Juni). Termasuk lebih dari 350 perempuan dan anak-anak. Dalam beberapa hari terakhir, korban termasuk seorang gadis remaja yang sedang dalam perjalanan ke sekolah dan seorang ibu dengan putrinya yang berusia 1 tahun.

“Di mana gencatan senjata yang terus mereka bicarakan?! Memalukan mereka,” kata seorang warga Palestina, Wisal Abu Khater, pekan ini setelah serangan mematikan lainnya, seraya mengecam negara-negara Arab tetangga. Dia mengatakan mereka telah mengecewakan rakyat Gaza dan malah sibuk menonton pertandingan Piala Dunia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (1/7) memperingatkan bahwa ekspansi “Israel” di Gaza meningkatkan risiko mematikan bagi warga sipil di “wilayah yang tidak memiliki demarkasi yang jelas di lapangan” itu

Kesepakatan gencatan senjata terhenti

Kementerian Kesehatan mengatakan lebih dari 3.400 orang terluka sejak gencatan senjata. Kementerian tersebut menyimpan catatan korban yang terperinci yang dianggap dapat diandalkan oleh badan-badan PBB dan para ahli independen. Dikatakan bahwa perempuan dan anak-anak sekitar setengah dari korban yang terbunuh.

Militer penjajah yang mengklaim menargetkan Hamas dan kelompok lain, seringkali menyatakan bahwa mereka merencanakan serangan dan menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia.

Diplomat utama yang mengawasi gencatan senjata, Nickolay Mladenov, telah memperjelas: Langkah selanjutnya dalam menerapkan kesepakatan yang ditengahi AS terhenti karena masalah sulitnya perlucutan senjata Hamas.

Ini telah menjadi ujian penting bagi Dewan Perdamaian (BoP) yang dibentuk dan dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump. Diluncurkan dengan meriah dan miliaran dolar dalam janji internasional awal tahun ini dengan satu-satunya tujuan pemulihan Gaza dari perang, dewan tersebut sekarang hanya sedikit berbicara di depan publik.

Baca Juga

Perlucutan senjata Hamas akan membuka jalan bagi langkah-langkah lain, termasuk pemerintahan baru di Gaza dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional untuk membantu upaya keamanan dan rekonstruksi.

Meskipun Hamas belum secara terang-terangan menolak perlucutan senjata, mereka telah mengindikasikan ingin mempertahankan beberapa senjata dan menuntut konsesi lebih lanjut dari penjajah.

Sementara itu, warga penjajah selama 1.000 hari terakhir telah trauma akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan konflik-konflik lain yang menyusul seperti perang dengan Iran.

Warga “Israel” memperingati 1.000 hari tersebut pada Kamis di beberapa tempat di seluruh negeri, termasuk di lokasi festival musik tempat setidaknya 364 orang tewas dan 40 orang disandera. Yang lain memperingatinya di tempat perlindungan bom di sepanjang jalan di selatan, tempat kerabat mereka terbunuh saat mencoba melarikan diri.

Puluhan demonstran berkumpul di dekat parlemen “Israel”, menuntut otoritas penjajah itu membentuk komisi penyelidikan atas serangan 23 Oktober tersebut, Tetapi inilah yang terus dihindari Netanyahu.

Konflik-konflik ini dan dampaknya – termasuk meningkatnya kematian tentara “Israel”, serangan yang terus berlanjut di sepanjang perbatasan wilayah Palestina yang dijajah dengan Lebanon dan tuduhan internasional tentang genosida di Gaza benar-benar membebani warga “Israel” dan merusak suasana nasional saat Netanyahu berupaya terpilih kembali pada musim gugur ini.

Netanyahu telah menunjukkan kepercayaan diri, tetapi ia menghadapi tantangan yang berat.

Hampir mencapai batas kesabaran

Menurut jajak pendapat Institut Demokrasi “Israel” yang diterbitkan bulan lalu, lebih dari 60% warga “Israel” berpikir Netanyahu seharusnya tidak mencalonkan diri lagi. Kemarahan telah meningkat atas kegagalan keamanan sebelum 7 Oktober 2023, karena kurangnya komisi penyelidikan negara untuk menyelidikinya, dan pengecualian wajib militer yang tidak populer yang diberikan kepada mitra pemerintahan ultra-Ortodoks Netanyahu.

Sementara warga Palestina di Gaza mengatakan mereka hampir mencapai batas kesabaran. Berlindung di kamp-kamp tenda yang luas dengan fasilitas dasar, atau di reruntuhan bangunan yang hancur akibat bom, mereka terus hidup di tengah deru drone “Israel” dan ancaman serangan setiap hari.

Gencatan senjata dimaksudkan untuk membawa peningkatan bantuan kemanusiaan, seperti obat-obatan dan bahan bakar. Kelompok bantuan dan lainnya mengatakan hal itu belum terjadi. Semua penyeberangan perbatasan Gaza tetap dibatasi dengan ketat dan terkadang ditutup sepenuhnya. PBB bulan lalu mengatakan 17 rumah sakit masih belum berfungsi.

Kepala urusan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, mengatakan bulan lalu bahwa persetujuan dan prosedur bea cukai “Israel” yang “rumit” membatasi pasokan penting.

Anak-anak Palestina membawa wadah untuk mengumpulkan bantuan makanan di Khan Younis, Gaza selatan, Palestina, Rabu 1 Juli 2026. (Foto AA)

Kelaparan dinyatakan di Kota Gaza Agustus tahun lalu, tetapi para ahli keamanan pangan kemudian mengatakan ada “peningkatan yang signifikan” setelah gencatan senjata. Badan militer “Israel” yang bertanggung jawab untuk mengoordinasikan urusan sipil di Gaza, COGAT, mengatakan pada Rabu bahwa “jumlah makanan yang dibawa masuk jauh melebihi kebutuhan nutrisi penduduk sipil Gaza”.

Dengan pasukan penjajah yang semakin meluas di Gaza dan serangan yang terus-menerus, dilaporkan banyak warga Gaza stres dan kelelahan.

“Sebelum perang, kami memiliki segalanya,” kata Mahmoud Ashour, seorang pemilik toko berusia 33 tahun di Khan Younis. “Dan sekarang kami hanya mendambakan makanan.” (is)

Baca Juga