Pakar Kesehatan Ingatkan RI Jangan Jadi Pusat Pandemik Baru Covid-19 

Penumpang KRL di tengah mewabahnya Virus Corona (Covid-19)

SALAM-ONLINE: Indonesia mengalami kekurangan yang siginifikan dalam hal ruang (kamar) rumah sakit, petugas medis dan fasilitas perawatan intensif untuk mengatasi wabah Corona (Covid-19). Para pakar kesehatan memperingatkan bahwa hal itu akan memancing Indonesia untuk menjadi pusat (episentrum) pandemik (penyebaran luas dan masif) baru Covid-19, demikian menurut data yang diulas Reuters, Rabu (25/3/20).

Para pakar kesehatan mengatakan, Indonesia menghadapi lonjakan kasus Virus Corona setelah pemerintah lamban merespons dalam menutupi skala penyebaran wabah di negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia itu.

Saat ulasan ini ditulis, Indonesia telah mencatat 685 kasus Corona. (Data pada Kamis, 26 Maret 20, jumlah pasien Corona melonjak menjadi 893 kasus dengan tingkat kematian 78 orang). Tetapi data ini dinilai mengecilkan skala infeksi (penularan) karena rendahnya jumlah tes di lapangan. Sementara tingkat kematian tergolong tinggi. Hingga 26 Maret 20, Indonesia telah melaporkan 78 kematian akibat Corona. Angka tersebut kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Sebuah studi dari Pusat Pemodelan Matematika untuk Penyakit Menular yang berbasis di London, memperkirakan setidaknya 2% dari kasus infeksi Virus Corona di Indonesia telah dilaporkan. Hal tersebut akan membawa pada angka yang sesungguhnya yakni sebanyak 34.300, lebih banyak dari Iran.

Para pakar lain memproyeksikan kasus corona di Indonesia dapat meningkat ke angka lima juta di wilayah Ibu Kota, Jakarta, pada akhir april mendatang lantaran skenario kasus yang buruk.

“Kami telah kehilangan kendali, ini (Corona) sudah menyebar di mana-mana,” kata Ascobat Gani, seorang ahli ekonomi kesehatan masyarakat. “Mungkin kita akan mengikuti Wuhan (Cina) atau Italia. Saya pikir kita berada pada jangkauan tersebut.”

Pemerintah Indonesia membantah prediksi tersebut dengan mengatakan dampak virus ini tidak akan separah itu.

“Kami tidak akan seperti itu,” tepis Achmad Yurianto, seorang pejabat senior Kementerian Kesehatan yang menjadi juru bicara pemerintah dalam kasus Covid-19. Dia merujuk pada perbandingan wabah di Italia dan Cina.

“Yang penting adalah kita mengerahkan masyarakat, mereka harus menjaga jarak.”

Meninggalnya Para Dokter

Sistem kesehatan Indonesia sangat buruk dibandingkan dengan negara lain yang terkena dampak virus ini.

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, negara yang berpenduduk lebih dari 260 juta orang ini hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit. Dengan angka itu, artinya ada sekitar 12 tempat tidur per 10.000 orang. Sementara Korea Selatan memiliki 115 tempat tidur rumah sakit per 10.000 orang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada 2017, WHO juga mencatat Indonesia hanya memiliki empat dokter untuk per 10.000 orang. Bandingkan dengan Italia yang memiliki 10 kali lebih banyak, berdasarkan per kapita. Sementara Korea Selatan memiliki dokter enam kali lebih banyak dari Indonesia.

Yurianto mengatakan dengan menjaga jarak (social distancing) yang tepat, seharusnya tidak ada kebutuhan bagi sejumlah besar tempat tidur tambahan di rumah sakit. Selain itu, menurutnya, petugas medis yang ada sudah cukup untuk mengatasi wabah tersebut.

Namun, Budi Waryanto, seorang ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI), mengatakan, “Rumah sakit tidak siap untuk menopang kasus-kasus yang potensial (akan muncul). Pelayanan (medis) akan dibatasi.”

Meskipun hanya ratusan orang yang telah dirawat karena Virus Corona, para dokter menerangkan bahwa sistem kesehatan yang ada sudah di bawah standar. Banyak dari petugas kesehatan kekurangan alat pelindung, bahkan seorang dokter mengatakan bahwa dia mengenakan jas hujan lantaran tidak ada lagi pakaian pelindung yang tersedia.

Baca Juga

Sebagai tanda pengontrolan infeksi yang buruk di berbagai rumah sakit dan klinik, menurut Ikatan Dokter Indonseia (IDI) setidaknya 8 dokter dan satu perawat sementara ini telah meninggal diakibatkan Virus Corona.

Di Itali ada 6.077 kematian karena Virus Corona, 23 di antaranya adalah dokter.

“Kami Membawa Masker Sendiri”

Seorang staf di sebuah rumah sakit di pinggiran kota Jakarta terancam tidak datang untuk bekerja pada Selasa (24/3) karena kurangnya peralatan pelindung, kata seorang dokter.

“Kami membawa masker kami sendiri, pakaian sendiri yang mungkin kualitasnya tidak sesuai standar,” ujar seorang dokter yang meminta identitasnya dirahasiakan.

“Teman saya, satu demi satu, ketularan virus,” kata dia sambil menahan air mata.

Pemerintah mengatakan, pekan ini setidaknya sebanyak 175.000 peralatan pelindung baru untuk pekerja medis telah diperoleh dan akan didistribusikan ke seluruh wilayah.

Rumah sakit darurat baru telah dibuka di Jakarta dengan perkiraan kapasitas mencapai hingga 24.000 pasien. Para dokter dan staf kesehatan telah dijanjikan bonus. Dan sebanyak 500.000 peralatan tes cepat telah tiba dari Cina.

Sistem kesehatan Indonesia sangat terdesentralisasi, membuat pemerintah pusat kesulitan untuk mengoordinasikan responsnya ke seluruh wilayah kepulauan.

Virus Corona

kekurangan ranjang di ruang ICU juga dikhawatirkan oleh para ahli, terutama karena negara ini memasuki puncak musim demam berdarah, yang membutuhkan fasilitas tambahan.

“Jika kamu sakit kritis dan kamu dimasukkan ke ruang ICU dan dipasangi ventilator, kebanyakan orang bisa bertahan hidup,” kata Archie Clements, seorang spesialis kesehatan masyarakat dari Universitas Gurtin Perth, mengacu pada orang yang terinfeksi Virus Corona.

“Jika kamu tidak memasukkan mereka ke ruang ICU dan memasangkan mereka ventilator maka mereka akan mati.”

Sebuah studi di Jurnal Critical Care Medicine—yang membandingkan tempat tidur perawatan intensif untuk orang dewasa di negara-negara Asia sesuai data tahun 2017—menemukan bahwa Indonesia memiliki 2,7 tempat tidur perawatan kritis per 100.000 orang. Dengan demikian Indonesia berada di negara paling rendah di Asia. (m nizar malisy/mus)

Sumber: Reuters

awefawef97905