Menuju Pemulihan Ekonomi dan Stabilitas Keamanan, Suriah Sambut Baik Penghapusan dari Daftar Terorisme AS

SALAM-ONLINE.COM: Suriah menyambut baik penghapusannya dari daftar negara sponsor terorisme AS sebagai hasil dari transformasi yang dilakukan oleh rakyat Suriah. Keputusan tersebut mencerminkan komitmen negara Suriah yang baru terhadap perdamaian internasional.
“Kami mengucapkan selamat kepada rakyat Suriah atas tonggak sejarah ini,” kata Menteri Luar Negeri As’aad al-Shaibani melalui platform media sosial X, Selasa (25/8/2026), merujuk pada penghapusan Suriah dari daftar tersebut setelah 47 tahun.
Shaibani mengatakan bahwa penetapan status tersebut berkaitan dengan kebijakan dan praktik rezim lama—yang digulingkan pada akhir tahun 2024—dan “sama sekali bukan pilihan rakyat Suriah, serta tidak mencerminkan jati diri Suriah maupun sejarahnya”.
“Langkah ini merupakan hasil dari transformasi yang dicapai oleh rakyat Suriah,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa hal ini juga mencerminkan komitmen negara Suriah yang baru terhadap perdamaian dan keamanan internasional, serta kerja sama dan kemitraan dengan AS dan berbagai negara di seluruh dunia.
Di bawah arahan Presiden Ahmad al-Sharaa, “Kami akan terus berupaya mengatasi warisan isolasi dan membangun lingkungan yang berlandaskan transparansi, kepentingan serta rasa saling menghormati, demi mendukung pembangunan dan stabilitas di Suriah maupun kawasan sekitarnya,” kata Shaibani.
Shaibani menyampaikan terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Utusan Khusus AS untuk Suriah sekaligus Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack, pemerintah AS, anggota Kongres, serta pihak-pihak lain yang berkontribusi terhadap keputusan tersebut.
Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Suriah menyambut baik keputusan AS tersebut sebagai pembuka “babak baru” dalam hubungan internasional negara itu, seraya menyatakan bahwa langkah ini akan mendukung pemulihan ekonomi, membantu menciptakan kondisi bagi rekonstruksi, serta memperkuat stabilitas dan keamanan di Suriah maupun kawasan sekitarnya.
Damaskus juga berharap adanya langkah lanjutan dari AS untuk mencabut pembatasan tersisa yang menghambat pemulihan negara itu, serta menyatakan keinginan untuk menjalin kemitraan strategis yang lebih mendalam dan kerja sama yang lebih luas dengan Washington dan komunitas internasional.
Beberapa jam sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan penghapusan Suriah dari daftar negara sponsor terorisme dan pencabutan status al-Nusrah Front—kemudian dikenal sebagai Hay’at Tahrir al-Syam (HTS)—yang dicap sebagai Organisasi Teroris Global yang Ditetapkan Secara Khusus (Specially Designated Global Terrorist Organization).
Departemen Keuangan AS juga mendukung langkah tersebut.
Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) merupakan salah satu kelompok bersenjata paling terkemuka yang menentang pasukan Basyar Assad selama “perang saudara” di Suriah. Kelompok ini dipimpin oleh Ahmad al-Sharaa, yang kemudian menjadi Presiden Suriah setelah tergulingnya Assad pada Desember 2024.
Suriah telah tercantum dalam daftar negara pendukung terorisme AS sejak tahun 1979, yakni selama masa kekuasaan rezim terdahulu (era rezim Hafez Assad) yang berlangsung selama beberapa dekade.
Damaskus memandang penghapusan status tersebut sebagai langkah yang membuka jalan bagi peningkatan transaksi ekonomi, investasi, dan kerja sama internasional, sekaligus menghapuskan berbagai pembatasan yang sebelumnya terkait dengan status tersebut. Pembatasan-pembatasan AS lainnya tetap tunduk pada proses hukum yang terpisah. (af)