Serangan ‘Israel’ terhadap Pejabat Hamas Bertujuan ‘Mengacaukan’ Gencatan Senjata di Gaza

SALAM-ONLINE.COM: Suara pesawat tempur “Israel” kembali terdengar di sebagian wilayah Gaza setelah beberapa hari situasi relatif tenang, memicu kembali kekhawatiran bahwa gencatan senjata tersebut mungkin hanyalah jeda sesaat sebelum eskalasi berikutnya.
Pada Kamis (13/8/2026) lalu serangan “Israel” mengakibatkan kematian dua warga Palestina. Keduanya adalah kepala polisi Gaza, Jamal Abu Kmeil, dan seorang pria yang diidentifikasi oleh sumber-sumber Palestina sebagai anggota Hamas.
“Israel” menyatakan bahwa kedua pria tersebut adalah anggota Hamas yang terlibat dalam perencanaan serangan. Penjajah itu juga mengklaim bahwa pasukannya bertindak sesuai dengan ketentuan gencatan senjata.
Namun, Hamas menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan. Kelompok perlawanan Palestina itu juga menyatakan “Israel” berupaya mengacaukan stabilitas Gaza.
Bagi warga Palestina, sikap dan tindakan penjajah tersebut tidak memberikan rasa tenang.
“Istilah gencatan senjata tidak berarti ketika kita masih mendengar serangan dan jatuhnya korban jiwa,” ujar Mohammad Ayoub, seorang warga Gaza, dikutip dari The New Arab (TNA). “Kami sempat mengira suasana tenang itu menandakan perang akhirnya akan berakhir. Kini, kami khawatir serangan akan kembali meningkat.”
Serangan-serangan ini terjadi di tengah perundingan mengenai tahap selanjutnya dari gencatan senjata, yang masih berfokus pada perlucutan senjata Hamas, penarikan pasukan “Israel”, serta pengaturan keamanan masa depan di Gaza.
“Israel” Terus Bunuhi Pejabat Hamas
Menurut Kementerian Dalam Negeri Gaza dan Bulan Sabit Merah Palestina, kepala polisi Gaza Abu Kmeil (43 tahun) yang gugur sedang berkendara di kawasan Sheikh Ajleen di bagian barat daya Kota Gaza ketika pesawat “Israel” menghantam kendaraannya.
Beberapa orang terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit Al-Shifa.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Gaza, Abu Kmeil tetap menjalankan tugasnya sepanjang perang berlangsung dan sempat berbicara di depan umum mengenai upaya polisi serta tokoh masyarakat setempat dalam menjaga ketertiban.
Militer “Israel” menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan atas arahan Shin Bet (dinas keamanan internal dan kontra intelijen “Israel”). Penjajah itu menyebut Abu Kmeil sebagai anggota operasional Hamas yang menyusup ke wilayah “Israel” saat pembantaian 7 Oktober 2023.
“Israel” menuduhnya memajukan rencana serangan terhadap pasukan dan warga sipil “Israel” selama perang maupun dalam beberapa bulan terakhir. “Israel” juga berdalih bahwa tindakan (pembunuhan) itu dilakukan untuk menggagalkan ancaman tersebut.
Militer penjajah itu tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai dugaan rencana serangan tersebut ataupun peran Abu Kmeil dalam serangan 7 Oktober.
Hamas menyebut pembunuhan itu sebagai “kejahatan keji dan brutal”. Hamas juga menegaskan bahwa “Israel” berupaya menciptakan “kekacauan dan ketiadaan hukum” di Gaza.
Hamas mengidentifikasi Abu Kmeil sebagai direktur kepolisian sipil di Kegubernuran Gaza dan mendesak pihak mediator untuk turun tangan menanggapi apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran harian” oleh “Israel”.
Pembunuhan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga Palestina mengenai masa depan keamanan dasar di Jalur Gaza, tempat sebagian besar infrastruktur sipil telah hancur lebur.
“Meskipun Abu Kmeil bekerja untuk pemerintahan yang dijalankan Hamas, itu tidak berarti dia adalah anggota Hamas,” ujar Jalal Abu Hasira, seorang warga Gaza.. “Dan jika ‘Israel’ membunuh semua polisi di Gaza, menurut Anda akan seperti apa situasinya?”
“Masyarakat membutuhkan seseorang untuk menjaga keamanan jalanan. Kami sudah hidup tanpa rumah sakit, sekolah, dan berbagai layanan dasar. Ketika pihak yang bertanggung jawab atas keamanan turut menjadi sasaran, hal itu membuat semua orang merasa semakin rentan,” ujarnya.
Kekhawatiran perang lebih meluas
Beberapa jam sebelumnya, serangan “Israel” lainnya menghantam sebuah sepeda motor listrik di dekat gedung Bulan Sabit Merah Palestina di kawasan Al-Amal, sebelah barat Khan Younis. Serangan ini menewaskan Huzaifa Kawareh dan menyebabkan satu orang lainnya terluka parah.
“Israel” mengonfirmasi serangan tersebut dan—tanpa menyertakan bukti—mengklaim bahwa Kawareh adalah “komandan kompi di sayap militer Hamas wilayah Khan Younis”. Penjajah itu menuduhnya merencanakan serangan terhadap pasukan “Israel’.
Pihak “Israel” menyatakan bahwa serangan itu bertujuan untuk melenyapkan ancaman terhadap pasukannya. Penjajah itu juga mengklaim bahwa pasukan di bawah Komando Selatan beroperasi “sesuai dengan kesepakatan”.
Militer “Israel” tidak memberikan perincian mengenai dugaan serangan tersebut ataupun menjelaskan alasan mereka menganggap ancaman itu bersifat mendesak.
Sumber keamanan Palestina menyebutkan bahwa serangan itu merupakan serangan “Israel” ketiga sejak hari Rabu yang menghantam wilayah di luar “Garis Kuning” yang ditetapkan “Israel”—garis demarkasi yang memisahkan wilayah tempat pasukan “Israel” masih ditempatkan dari bagian lain Gaza.
Pada Rabu malam lalu, serangan “Israel” yang menyasar sebuah sepeda motor di Beit Lahia, Gaza utara, juga mengakibatkan kematian seorang warga Palestina dan melukai beberapa orang lainnya.
Sumber-sumber Palestina menuduh pasukan “Israel” menggeser “Garis Kuning” ke arah barat, sehingga memperluas wilayah yang berada di bawah kendali de facto “Israel”, sementara operasi penghancuran bangunan terus berlangsung di sejumlah kawasan.
“Kami tidak lagi tahu di mana letak ‘Garis Kuning’ itu atau apakah garis tersebut akan bergeser lagi besok,” ujar Saied Hamada, seorang warga Gaza.. “Setiap kali orang-orang mulai kembali ke suatu wilayah atau mencoba membangun kembali kehidupan mereka, sesuatu terjadi, dan mereka diingatkan bahwa perang masih mengelilingi mereka.”
“Masyarakat sudah kelelahan. Mereka tidak ingin mendengar kabar tentang perang lagi. Apa pun yang menjadi sumber perselisihan antara ‘Israel’ dengan Hamas, mereka harus mencari cara untuk menghentikan pembunuhan ini,” katanya.
Serangan-serangan terbaru ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa gencatan senjata dapat perlahan-lahan memudar tanpa benar-benar runtuh secara resmi.
Ketentuan gencatan senjata
“Israel” berpendirian bahwa kesepakatan tersebut tidak menghalanginya untuk menyerang anggota Hamas yang dianggap sebagai ancaman keamanan. Hamas menyatakan bahwa serangan semacam itu melanggar gencatan senjata.
Yedioth Ahronoth, mengutip sumber keamanan “Israel”, melaporkan, “Israel” telah menyampaikan kepada AS bahwa mereka akan terus menargetkan anggota Hamas yang terlibat dalam serangan 7 Oktober serta “setiap ancaman yang muncul, baik yang bersifat segera maupun susulan”.
Sumber tersebut mengklaim bahwa Washington menerima posisi “Israel”. Dikatakan pula bahwa koordinasi dengan markas besar Amerika di Kiryat Gat telah diperkuat.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, membantah tuduhan “Israel” bahwa gerakan tersebut telah melanjutkan operasi militer atau melanggar gencatan senjata. Ia menyebut tuduhan itu sebagai “propaganda” yang bertujuan membenarkan apa yang disebutnya sebagai pelanggaran berkelanjutan oleh “Israel”.
Qassem menegaskan kembali “komitmen penuh” Hamas terhadap kesepakatan gencatan senjata beserta peta jalannya, serta mendesak para mediator untuk memaksa “Israel” menghormati ketentuan yang telah disepakati.
Perselisihan ini muncul di tengah negosiasi tahap kedua yang berfokus pada persenjataan Hamas dan keberadaan pasukan “Israel” di Gaza di masa depan.
Pertemuan Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu pada 3 Agustus di Tel Aviv dengan Nickolay Mladenov—perwakilan dari badan yang disebut “Dewan Perdamaian” (Board of Peace)—berfokus pada pelaksanaan tahap kedua, termasuk perlucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan “Israel”.
Akram Attallah, seorang analis politik yang berbasis di Gaza, mengatakan kepada TNA bahwa tindakan “Israel” yang terus menargetkan anggota Hamas mencerminkan keinginannya untuk mempertahankan tekanan militer terhadap kelompok tersebut di tengah berlangsungnya negosiasi.
“Israel memandang penargetan tokoh-tokoh Hamas sebagai cara untuk mencegah kelompok itu membangun kembali kemampuan militernya dan untuk memperkuat tuntutannya agar gerakan tersebut dilucuti senjatanya,” ujar Attallah.
Ia mengatakan bahwa serangan-serangan tersebut juga menunjukkan “Israel” tidak menganggap gencatan senjata sebagai penghalang bagi tindakan militer terhadap pihak-pihak yang mereka anggap sebagai ancaman keamanan.
Namun, Attallah memperingatkan bahwa serangan yang terus berlanjut dapat merusak gencatan senjata dan mempersulit transisi ke tahap berikutnya.
Ia mencatat masalah-masalah yang belum terselesaikan—seperti perlucutan senjata Hamas, penarikan pasukan “Israel”, dan pengaturan keamanan di masa depan—membuat gencatan senjata tersebut rentan terhadap eskalasi lebih lanjut.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa 1.260 warga Palestina telah terbunuh dan 4.154 lainnya terluka sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025.
Kementerian tersebut mencatat total jumlah korban jiwa Palestina sejak Oktober 2023 mencapai lebih dari 73.389 orang, dengan 174.266 orang terluka. (ib)