Intelijen AS Ragukan Laporan ‘Israel’ soal Iran Mau Bunuh Trump
SALAM-ONLINE.COM: Menurut sebuah laporan, para pejabat intelijen AS mempertanyakan klaim Intelijen “Israel” bahwa Iran berupaya membunuh Presiden Donald Trump. CIA menyatakan, laporan tersebut memiliki”tingkat keyakinan yang rendah”.
Klaim itu mendorong Trump dievakuasi dari Ankara, Turki, bulan lalu dalam sebuah operasi pelarian luar biasa yang mengharuskannya bersembunyi dengan menggunakan truk katering bandara sebelum menaiki pesawat militer, demikian laporan The Washington Post. Trump menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, pada 7-8 Juli lalu.
Laporan terbaru dari media yang sama pada Kamis (13/8/2026) menyebutkan bahwa para pejabat CIA tidak menganggap informasi intelijen “Israel” tersebut “meyakinkan”—pandangan yang disampaikan kepada tim Trump saat informasi itu diteruskan.
Terlepas dari sikap skeptis para pejabat intelijen AS, presiden tetap dievakuasi terlebih dahulu ke Inggris, tempat ia kemudian menaiki pesawat C-32A milik Angkatan Udara untuk kembali ke AS.
“Secret Service telah menghadapi tiga insiden yang nyaris mencelakai presiden ini, jadi mereka tidak mau mengambil risiko. Mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan,” ujar seorang pejabat intelijen yang tidak disebutkan namanya sebagaimana dikutip oleh The Post, saat menjelaskan keputusan untuk menindaklanjuti informasi intelijen “Israel” tersebut.
Sumber lain, seorang mantan pejabat, mengatakan bahwa peringatan “Israel” tersebut selaras dengan pola pelaporan intelijen “Israel” yang lebih luas, yang menurut pandangan sebagian pejabat dirancang tidak hanya untuk memberikan informasi, tetapi juga untuk memengaruhi pengambilan keputusan presiden.
Upaya “Israel” untuk memengaruhi pengambilan keputusan AS mendapat sorotan lebih tajam setelah Trump bergabung dengan perdana menteri penjajah Benjamin Netanyahu dalam menyerang Iran pada akhir Februari lalu.
Serangan bersama tersebut—yang dilancarkan di tengah negosiasi mengenai kesepakatan nuklir baru dengan Teheran—sebagian didasarkan pada klaim “Israel” bahwa pemerintah Iran berada di ambang keruntuhan.
Serangan itu terjadi setelah upaya lobi selama puluhan tahun yang dilakukan oleh Netanyahu dan para pemimpin “Israel” lainnya agar AS mengambil tindakan lebih tegas terhadap Iran.
Sebuah laporan *New York Times* awal tahun ini menyebutkan bahwa sejumlah tokoh senior dalam pemerintahan Trump—termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine—telah memperingatkan presiden bahwa Netanyahu telah “melebih-lebihkan” ancaman yang ditimbulkan oleh Iran.
Pada hari Rabu, para anggota parlemen dari Partai Demokrat mendesak adanya transparansi lebih lanjut terkait informasi intelijen dan operasi evakuasi tersebut.
“Saya sangat ingin mengetahui sejauh mana informasi intelijen yang diberikan oleh pihak Israel itu tidak hanya kredibel, tetapi juga dapat diverifikasi secara independen,” ujar Senator Chris Van Hollen kepada The Post “Saya tidak meragukan bahwa Iran ingin melihat presiden lengser, namun semua ini terkesan agak mengada-ada.” (is)
