Konferensi Pembebasan Al-Quds & Palestina Digelar! Langkah Nyata Melawan Israel Adalah dengan Jihad!

BANDUNG (salam-online.com): Pekik takbir mewarnai pembukaan Konferensi Internasional ‘Menuju Pembebasan Al-Quds dan Palestina’ di Hotel Savoy Homan, Jl Asia Afrika, Bandung, Rabu (4/7/2012).

Konferensi yang menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsha Dr Ali Al Abbasi, Director Middle East Monitor, London,  Dr Daud Abdullah, Mudir Daarul Quran was Sunnah Dr Abdurrahman Yusuf Al-Jamal, Direktur Eksekutif & Koordinator Umum Maret Global Jerusalem Dr Ribhi Halloum, dan Pembina Aqsha Working Group Ustadz Yakhsyallah Mansyur, MA, itu berlangsung 2 hari (4-5 Juli 2012). Adalah Aqsha Working Group (AWG) yang menjadi penyelenggara konferensi ini.

Peserta konferensi datang dari berbagai negara, di antaranya China, Nigeria, Sudan, Inggris, Palestina, Malaysia, Filipina dan tuan rumah, Indonesia. Tak kurang sekitar 270 peserta menyesaki ruang konferensi hotel Savoy Homan itu. Gubernur Jawa Barat Dr Ahmad Heryawan, Lc, Ketua DPR RI Dr Marzuki Alie dan Dubes Palestina turut menyampaikan sambutan. Marzuki sekaligus membuka resmi konferensi ini.

“Tanpa persatuan, sulit bagi Palestina untuk merdeka,” seru Marzuki yang diiringi dengan pekik takbir. Menurut Marzuki, DPR RI akan terus melakukan diplomasi parlemen melalui berbagai forum internasional untuk mendukung upaya pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis Israel. Dalam kerangka itu, DPR RI, melalui forum antar-parlemen, akan terus menyuarakan pembebasan anggota parlemen Palestina yang ditahan Israel.

Sebagai wujud dukungan, “Sejumlah Anggota DPR RI yang kami pimpinan telah mengadakan kunjungan ke Jalur Gaza dan melihat secara langsung penderitaan warga Palestina akibat blockade Israel,” ungkap Marzuki yang juga menjabat Presiden Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) ini.

Pada kunjungan tersebut, kata Marzuki, delegasi DPR RI melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit bantuan rakyat Indonesia di Gaza, sebagai bentuk kepedulian terhadap rakyat Palestina yang tengah dijajah Zionis Israel.

Tapi, menurut Marzuki, segala upaya yang dilakukan untuk mewujudkan kemerekaan Palestina itu akan sulit dicapai jika pemimpin dan rakyat Palestina mengabaikan persatuan. Seruan persatuan, tak hanya datang dari Marzuki. Sejumlah pembicara juga menekankan sangat mendesak dan urgennya kata ‘persatuan’ itu. “Persatuan dan Kesatuan adalah kunci kejayaan Islam dan pembebasan Al-Quds,” kata Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah) Ustadz Muhyiddin Hamidy dalam sambutan pembukaan.

Senada dengan Ustadz Muhyidin, Ustadz Yakhsyallah juga memberi tekanan kunci pembebasan Al-Quds dan Palestina, yakni bersatunya pimpinan, rakyat Palestina dan seluruh umat Islam di dunia. Karena itu, menurut Direktur Eksekutif & Koordinator Umum Maret Global Jerusalem Dr Ribhi Halloum, untuk menghadapi penjajah, Zionis Israel, kita harus berada dalam satu front.

Baca Juga
Ketua DPR RI, Gubernur Jabar, Dubes Palestina, dll dalam satu sesi foto usai pembukaan konferensi

Satu front? Inilah problem utama Pembebasan Palestina secara menyeluruh saat ini. Pimpinan dan Rakyat Palestina tidak berjuang dalam satu front. Berbagai faksi yang saling memiliki kepentingan masing-masing masih mewarnai perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina secara menyeluruh.

Sudah saatnya, sejumlah faksi itu meluruskan tujuan perjuangannya hanya untuk kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Melakukan tindakan konkret. Melakukan aksi nyata. Ini tidak bisa hanya melalui meja perundingan. Sebab, sudah berapa banyak perundingan dan diplomasi digelar, tapi selalu menguntungkan sang penjajah.

Faksi Fatah (PLO), misalnya, terlalu banyak dikadalin lantaran senang sekali duduk di meja diplomasi. Padahal si penjajah bernama Israel ini hanya bisa diatasi melalui bahasa perlawanan di medan jihad, bahasa perang.

Ya, itu adalah langkah konkret untuk menghadapi Israel. Meminjam ungkapan Dr Ribhi Halloum, “Izinkan kami pada kesempatan ini menegaskan bahwa kita harus bertindak secara nyata, bukan hanya sekadar berbicara. Ketahuilah, tindakan nyata merupakan suara yang paling keras!”

Dan, solusi tindakan nyata itu adalah: perang di medan jihad! Israel hanya paham dengan bahasa perang. Jika tetap mengandalkan diplomasi, Israel itu tidak pernah mau mengerti, tidak pernah mau paham bahasa diplomasi di meja perundingan. Maka, hanya dengan bahasa perang inilah, Israel bertekuk lutut, sehingga penjajahan atas bumi Palestina dapat dilenyapkan!

 

Baca Juga