Serangan ‘Israel’ di Gaza Terus Berlanjut, Pengungsi Bakar Tenda sebagai Bentuk Protes
SALAM-ONLINE.COM: Terus berlanjutnya serangan penjajah “Israel” di Gaza, meskipun ada gencatan senjata, membuat para pengungsi Palestina di tenggara Kota Gaza membakar tenda mereka sendiri pada Kamis (30/4/2026) dalam aksi protes yang jarang terjadi.
Ini mencerminkan ekspresi kemarahan yang sudah tak tertahankan lagi seiring makin memburuknya kondisi hidup mereka, lapor Anadolu, Jumat (1/5).
Protes tersebut berlangsung di kamp Dar al-Salam di kawasan Zeitoun.
“Kami membakar tenda kami sebelum mereka membakar kami,” alasan mereka mereka. Sejumlah warga, termasuk anak-anak, menyerukan perlindungan segera atas mereka yang terus jadi target serangan penjajah Zionis.
Warga pengungsi menuntut pembangunan penghalang tanah untuk melindungi kamp dari tembakan “Israel”. Selain itu, warga menuntut penyediaan bantuan kemanusiaan yang mendasar, lantaran kurangnya air dan kebutuhan penting lainnya.
Ketakutan yang terus-menerus
“Ketika serangan dimulai, kami menjatuhkan diri ke tanah di dalam tenda,” kata Asmaa Arhim, seorang warga pengungsi yang sebelumnya terluka oleh tembakan “Israel”.
“Itu (tenda) tidak memberikan perlindungan nyata,” katanya kepada Anadolu.
Arhim mengatakan keluarga-keluarga telah hidup selama berbulan-bulan tanpa akses air yang memadai. Ini memaksa mereka menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air. Sementara bantuan makanan datang secara sporadis.
“Tenda-tenda ini tidak lagi memberikan keamanan atau kehidupan yang bermartabat,” ungkap Arhim. Ia menggambarkan pembakaran tenda sebagai ekspresi simbolis kemarahan.
Kamp tersebut terletak di dekat apa yang disebut penduduk sebagai “garis kuning” di tenggara Kota Gaza, tempat pasukan “Israel” mundur berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang dicapai pada Oktober 2025.
Warga mengatakan daerah tersebut sejak saat itu telah berulang kali terkena tembakan, yang menimbulkan ancaman konstan bagi mereka yang tinggal di kamp.
Ancaman yang tak terduga
selama perang
“Kami tahu kapan serangan akan dimulai,” kata Wissam Abdullah, seorang warga pengungsi lainnya.
“Sekarang, Anda bisa berjalan normal dan ditembak kapan saja,” katanya.
Abdullah mengatakan dia telah ditembak dua kali. Ia mengeluarkan sebuah peluru dari tubuhnya sehari sebelumnya setelah berminggu-minggu menderita.
“Meskipun ada pembicaraan tentang gencatan senjata, kenyataannya sangat berbeda,” tambahnya.
Ratusan pengungsi Palestina tinggal di kamp Dar al-Salam setelah melarikan diri dari bagian lain Zeitoun. Mereka menghadapi kondisi kemanusiaan yang memburuk dan bantuan yang terbatas.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 824 warga Palestina telah terbunuh dan 2.316 luka-luka akibat serangan “Israel” sejak gencatan senjata.
Gencatan senjata tersebut dimaksudkan untuk menghentikan perang genosida “Israel” selama dua tahun yang telah membunuh lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 sejak Oktober 2023.
Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata tersebut, penjajah “Israel” terus melancarkan serangan dan mempertahankan pembatasan masuknya makanan, obat-obatan, dan bahan-bahan untuk tempat tinggal ke Gaza. Sekitar 2,4 juta warga Palestina, termasuk 1,5 juta pengungsi, menghadapi kondisi kemanusiaan yang parah. (is)
