Lagi, Seorang Penjaga Perdamaian Indonesia Terbunuh dalam Serangan ‘Israel’ di Lebanon
SALAM-ONLINE.COM: Indonesia mengutuk pembunuhan terhadap seorang penjaga perdamaian Indonesia lainnya di Lebanon dalam konflik yang sedang berlangsung, dan kembali menyerukan penyelidikan PBB atas kematian prajuritnya tersebut.
Kopral Rico Pramudia (31 tahun), yang bertugas di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), terluka parah dalam “ledakan proyektil” di sebuah pangkalan di Adchit al-Qusayr pada malam 29 Maret dan meninggal di rumah sakit Beirut pada Jumat (24/4/2026), lansir Anadolu, Sabtu (25/4).
Korban terbaru ini menambah jumlah penjaga perdamaian Indonesia yang tewas dalam konflik yang sedang berlangsung menjadi empat.
“Indonesia sekali lagi mengutuk serangan ‘Israel’ yang mengakibatkan kematian seorang pasukan penjaga perdamaian Indonesia. Setiap serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Naby.
Indonesia, katanya, kembali menyerukan kepada PBB untuk melakukan “investigasi segera, menyeluruh, dan transparan” untuk menetapkan fakta. Ia menekankan untuk memastikan investigasi dilakukan dengan akuntabilitas penuh.
“Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia juga terus berkoordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara penyumbang pasukan dan polisi lainnya untuk memperkuat perlindungan pasukan penjaga perdamaian, termasuk melalui evaluasi komprehensif atas keselamatan dan keamanan mereka, serta peningkatan langkah-langkah mitigasi risiko di wilayah operasi UNIFIL,” kata Wahid.
Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa yang “terdalam” kepada keluarga yang berduka, dan menyatakan penghormatan tertinggi atas “dedikasi dan pengorbanan” pasukan penjaga perdamaian yang meninggal dalam menjaga perdamaian internasional, tambahnya.
Menyusul serangan tersebut, lanjutnya, melalui koordinasi yang “erat dan intensif” dengan UNIFIL, pemerintah Indonesia, pemerintah Lebanon, dan tim medis di Beirut memastikan bahwa perawatan medis segera dan optimal diberikan.
“Namun, karena parahnya luka Pramudia, ia meninggal dunia meskipun semua upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya,” kata juru bicara tersebut.
Jakarta, tambahnya, terus melakukan koordinasi “erat” dengan UNIFIL untuk memastikan bahwa pemulangan jenazah dilakukan dengan segera dan dengan penuh martabat.
Dengan kematian Pramudia, enam personel UNIFIL kini telah tewas (4 di antaranya dari Indonesia), dan beberapa lainnya luka serius selama eskalasi berlangsung.
“Israel” telah membombardir Lebanon dengan serangan udara dan melancarkan serangan darat di selatan sejak serangan lintas perbatasan oleh Hizb Lebanon pada 2 Maret lalu. Kawasan tersebut telah siaga sejak AS dan “Israel” melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari.
Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata antara “Israel” dan Lebanon telah diperpanjang selama tiga pekan setelah pembicaraan tingkat duta besar di Gedung Putih.
Gencatan senjata 10 hari yang ditengahi AS, yang mulai berlaku pada 16 April, seharusnya berakhir pada hari Ahad (26/4).
Menurut otoritas Lebanon, sejak 2 Maret, serangan “Israel” yang meluas ke Lebanon telah menewaskan lebih dari 2.200 orang dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi. (ib)
