Tentara Penjajah ‘Israel’ Hancurkan Patung Yesus di Lebanon

SALAM-ONLINE.COM: Pendeta Lebanon Dany Darghem mengutuk penghancuran patung Yesus oleh seorang tentara penjajah “Israel” di kota Debel di selatan. Ia mengatakan tindakan itu melanggar kebebasan berkeyakinan dan kesucian keyakinan orang lain.

“Bahaya sebenarnya bukan terletak pada penghancurannya tetapi melemahkan dan meremehkan nilai-nilai yang diwakilinya—cinta, martabat, kebenaran, dan kebebasan,” kata Darghem seperti dilansir Anadolu, Selasa (21/4/2026).

Rekaman yang menunjukkan seorang tentara “Israel” menghancurkan patung di Lebanon selatan itu memicu kemarahan luas di dalam dan luar negeri. Kecaman agama dan politik muncul atas serangan tentara penjajah terhadap simbol keagamaan.tersebut.

Menteri Luar Negeri penjajah Gideon Saar mengeluarkan permintaan maaf pada Senin (20/4). Ia menggambarkan insiden tersebut sebagai “serius dan memalukan”. Saar mengatakan penyelidikan telah dibuka untuk meminta pertanggungjawaban kepada mereka yang bertanggung jawab.

Darghem mengatakan tindakan seperti itu tidak dapat diterima secara prinsip dan bentuk karena simbol keagamaan bukanlah sekadar batu, tetapi mengekspresikan iman suatu komunitas dan martabat spiritualnya.

Baca Juga

“Apa yang terjadi adalah tindakan yang terkutuk karena melanggar kebebasan berkeyakinan dan kesucian apa yang diyakini orang lain,” tambahnya.

“Bahaya sebenarnya dimulai ketika kita kehilangan cinta dan perdamaian, dan menggantinya dengan kekerasan. Pada titik itu, agama dirugikan,, bukan pada bentuk luarnya,” ia memperingatkan.

Insiden ini bukanlah untuk pertama kalinya yang menyebabkan kerusakan simbol-simbol Kristen di Lebanon. Pada September 2024, serangan udara “Israel” telah menghancurkan Gereja Santo George di kota Derdghaya di distrik Tyre. Pada April 2025, pasukan “Israel” menghancurkan patung Santo Georgius di kota Yaroun di provinsi Nabatieh.

Menurut angka resmi, sejak 2 Maret lalu serangan “Israel” terhadap Lebanon telah menewaskan 2.294 orang, melukai 7.544 lainnya, dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Kamis pekan lalu gencatan senjata 10 hari di Lebanon setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu. (ib)

Baca Juga