Masih Tunggu Persetujuan Trump, AS dan Iran Hampir Capai Kesepakatan

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mujtaba Hosini Khamenei

SALAM-ONLINE.COM: Amerika Serikat (AS) dan Iran hampir mencapai kesepakatan mengenai kerangka perpanjangan gencatan senjata. Tetapi Presiden Donald Trump belum menyetujui perjanjian tersebut, kata para pejabat AS.

Sumber-sumber AS sebelumnya mengatakan kepada AFP, Kamis (28/5/2026) bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan mengenai nota kesepahaman (MoU) untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Namun Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Trump — yang nampak diam sepanjang hari — belum menandatangani perjanjian tersebut. Tidak ada reaksi langsung dari Iran.

“Sulit untuk mengatakan secara pasti kapan atau apakah Presiden akan menandatangani MoU,” kata Vance, yang telah memainkan peran kunci dalam negosiasi, kepada wartawan.

“Kami masih bernegosiasi mengenai beberapa poin bahasa. Kami telah membuat banyak kemajuan di sini.”

Vance mengatakan bahwa Iran bernegosiasi “setidaknya sejauh ini dengan itikad baik” dan kedua belah pihak ingin membuka kembali Selat Hormuz — tetapi masih ada perbedaan pendapat mengenai persediaan uranium yang diperkaya Iran.

“Semoga, kami akan terus membuat kemajuan dan presiden akan berada dalam posisi di mana dia dapat mendukung perjanjian tersebut, tetapi jelas itu masih TBD,” yang berarti akan ditentukan, tambahnya.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan, “Kita mungkin memiliki dasar untuk kesepakatan di sini, tetapi beberapa garis merah Trump masih belum terpenuhi.”

Menurut Bessent, dia (Trump) tidak akan menerima kesepakatan yang buruk. Dia akan membuat kesepakatan yang hebat untuk rakyat Amerika.

Tidak Puas’

Baca Juga

Sumber-sumber AS sebelumnya telah mengonfirmasi laporan dari kantor berita Axios bahwa MoU tersebut akan membuka Selat Hormuz tetapi membiarkan program nuklir Iran tidak terselesaikan. Dikatakan, pembicaraan terkait dengan program nuklir Iran tersebut lebih lanjut akan menyusul.

Axios melaporkan, kesepakatan 60 hari tersebut akan menyatakan bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz akan tidak dibatasi, tanpa bea atau gangguan. Disebutkan, Iran harus menghilangkan semua ranjau dalam waktu 30 hari.

“Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan Iran, tetapi hanya sebanding dengan seberapa banyak pengiriman komersial dipulihkan,” katanya.

Memorandum tersebut juga akan berisi komitmen Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir, lapor Axios. Di antara masalah pertama yang akan dibahas adalah bagaimana membuang persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.

Trump mengatakan dalam rapat kabinet pada Rabu bahwa dia “belum puas” dengan tawaran Iran. Trump memperingatkan bahwa dia dapat “menyelesaikan pekerjaan” secara militer.

Trump berulang kali menegaskan bahwa Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir dalam kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan penjajah “Israel'” pada 28 Februari lalu. Gencatan senjata yang rapuh telah berlaku sejak 7 April.

Washington dan Teheran para Kamis (28/5) pagi, sama-sama menuduh satu sama lain melanggar gencatan senjata setelah terjadi baku tembak.

Namun, Menteri Keuangan Bessent menegaskan bahwa gencatan senjata tetap berlaku.

“Presiden Trump selalu lebih menyukai kesepakatan damai, jadi semua yang telah kita lakukan sejauh ini bersifat defensif, dan saat ini itulah yang akan terus kita lakukan,” ujarnya. is)

Baca Juga