Netanyahu Gunakan Retorika Anti Turki sebagai Senjata untuk Mendulang Suara di Pemilu, Efektifkah?

Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu. (AP)

SALAM-ONLINE.COM: Menjelang pemilu “Israel” pada 27 Oktober 2026 retorika Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu yang kian konfrontatif terhadap Turki telah menarik perhatian semakin besar. Para analis menduga hal itu merupakan bagian dari upaya untuk menggalang suara pemilih sayap kanan dengan menggambarkan Turki sebagai musuh strategis.

Penilaian ini direspons oleh Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan baru-baru ini. Menurut Fidan, Netanyahu nampaknya sedang mencari “musuh” untuk memperkuat kampanye pemilunya.

“Retorika anti-Turki nampaknya bertujuan untuk mempertahankan sentimen nasionalis dalam masyarakat “Israel”, melegitimasi operasi militer yang sedang berlangsung, dan mengonsolidasikan dukungan di antara pemilih sayap kanan, khususnya konstituen nasionalis religius garis keras, menjelang pemilihan,” kata profesor Ozan Örmeci, seorang ilmuwan politik dan koordinator umum Akademi Politik Internasional (UPA).

Para analis seperti dikutip Daily Sabah, Jumat (17/7/2026) berpendapat bahwa retorika Benjamin Netanyahu yang semakin konfrontatif terhadap Turki didorong oleh tekanan politik domestik dan bukan kebutuhan strategis. Jajak pendapat terbaru menunjukkan pendekatan tersebut gagal memperkuat posisi elektoralnya.

Haaretz, sebuah surat kabar “Israel” yang dikenal kritiknya terhadap rezim Benjamin Netanyahu, menerbitkan sebuah analisis bahwa Netanyahu telah menggambarkan Turki sebagai ancaman besar dalam upaya nyata untuk mendapatkan keuntungan elektoral dalam pemilu mendatang. Sekaligus memastikan upaya Turki untuk memperoleh jet tempur F-35 dari Amerika Serikat.

Analisis tersebut mengingatkan bahwa Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden AS Donald Trump menunjukkan hubungan yang hangat selama KTT NATO di Ankara. Washington mengisyaratkan keterbukaan terhadap potensi penjualan F-35 ke Turki.

Analisis itu menyatakan bahwa perkembangan tersebut telah disambut dengan kekhawatiran yang semakin meningkat, baik di dalam “Israel” maupun publik “Israel”.

Dalam langkah yang diperhitungkan, Benjamin Netanyahu pekan lalu melancarkan serangkaian wawancara, melalui telepon, dan pernyataan dalam upaya untuk menghambat penjualan jet F-35 ke Turki.

“Dengan melakukan itu, ia mengintensifkan retorika anti-Turki dan sekarang menggambarkan Turki sebagai ancaman strategis utama bagi ‘Israel’, Timur Tengah, Eropa, dan bahkan AS. Satu kekuatan regional menurun, yang lain bangkit; satu musuh melemah, yang lain terus menguat,” tulis artikel itu.

“Retorika permusuhan semacam itu tidak lagi terbatas pada Benjamin Netanyahu, karena tokoh-tokoh oposisi, termasuk mantan Perdana Menteri penjajah Naftali Bennett, bersama dengan beberapa anggota pemerintah saat ini, juga telah mengintensifkan kritik mereka terhadap Turki dan Qatar,” tambah Örmeci.

Benjamin Netanyahu nampaknya khawatir atas pernyataan positif Presiden AS Donald Trump mengenai potensi akses Turki terhadap jet tempur F-35. Karenanya Netanyahu pun mengatakan bahwa “Israel” akan mempertahankan “keunggulan udara militernya” di Timur Tengah.

Tanpa menyebut nama Trump secara langsung, Netanyahu nampaknya merujuk pada komentar Presiden AS baru-baru ini yang memberi sinyal keterbukaan terhadap kembalinya Turki ke program F-35, dengan mengatakan, “Mempertahankan keunggulan udara ‘Israel’ adalah landasan doktrin keamanan nasional kami.”

Mengingat pernyataan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, mantan Menteri Dalam Negeri Süleyman Soylu juga membuat pernyataan penting, yang mencerminkan pola retorika timbal balik antara kedua belah pihak. Örmeci melanjutkan, “Ada risiko bahwa lintasan ini dapat menjadi semakin berbahaya. Namun, karena keduanya (Turki dan ‘Israel’) adalah sekutu AS, maka setiap eskalasi yang menjadi permusuhan langsung akan menciptakan krisis besar, tidak hanya bagi Washington tetapi juga bagi stabilitas regional.”

Örmeci juga mengatakan bahwa ia tidak memperkirakan ketegangan akan mencapai titik tersebut, dengan alasan bahwa retorika itu sebagian besar didorong oleh politik domestik. “Saya percaya politisi seperti Benjamin Netanyahu dan Naftali Bennett menggunakan pernyataan-pernyataan ini untuk mengonsolidasikan basis politik mereka dan menarik suara selama kampanye pemilu,” katanya.

Menjelang KTT NATO pada 7 Juli lalu Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan mencabut sanksi yang dikenakan pada Turki berdasarkan Undang-Undang Penanggulangan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA) setelah pembicaraan dengan Presiden Recep Tayyip Erdoğan.

Sanksi yang dikenakan pada Desember 2020 tersebut berasal dari pembelian sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia oleh Turki. Menurut Kongres AS, akuisisi tersebut melanggar Pasal 231 CAATSA, yang memicu tindakan hukuman terhadap Ankara.

Turki, mitra pendiri dalam program jet tempur F-35 multinasional, juga dikeluarkan dari proyek tersebut karena akuisisi sistem S-400.

Baca Juga

Dalam pidatonya, Trump juga mengatakan pemerintahannya akan mempertimbangkan penjualan jet tempur F-35 ke Turki. Ini adanya potensi sinyal berubahnya kebijakan AS terhadap pengambilan bagian Ankara dalam program tersebut.

Örmeci mengingatkan bahwa Fidan telah mengangkat isu tersebut dengan cara yang terukur, tanpa menggunakan bahasa yang bermusuhan atau provokatif, dengan alasan bahwa “Israel” kelihatan mencari musuh eksternal menjelang pemilu. Begitu pula kebijakan-kebijakannya semakin menuai kritik di seluruh wilayah.

“Penilaian itu beralasan,” katanya.

Analisis di Haaretz juga menyebutkan bahwa: “Turki di bawah kepemimpinan Erdoğan, sebaliknya, telah menjadikan negara itu menguasai diplomasi. Ankara membantu Trump menemukan jalan menuju gencatan senjata di Gaza, dan sekarang juga di Iran. Erdoğan telah memperbaiki hubungan dengan negara-negara Arab yang sebelumnya memandangnya sebagai “musuh” dan penuh kecurigaan, apalagi saat ini Turki jhuga memainkan peran dominan di Suriah.”

Melihat lebih jauh dari pemilihan umum, Örmeci mengatakan “Israel” dapat melihat pemerintahan baru atau koalisi berbeda yang dipimpin oleh Netanyahu atau tokoh oposisi seperti Naftali Bennett atau Yair Lapid. Ia mengatakan retorika anti-Turki dapat berlanjut di bawah rezim yang dipimpin Netanyahu atau Bennett. Sementara rezim yang dipimpin Lapid dapat mengadopsi nada yang lebih moderat dan menciptakan ruang yang lebih besar untuk meningkatkan hubungan bilateral.

Lebih lanjut, Profesor Mehmet Seyfettin Erol, ketua Pusat Studi Krisis dan Kebijakan Ankara (ANKASAM), juga mengatakan bahwa retorika anti-Turki Netanyahu terutama bertujuan untuk mempertahankan kedudukan politiknya dengan menghidupkan kembali citranya yang telah lama dipupuk sebagai “Bapak Keamanan”. Ia menggambarkan Netanyahu sebagai politisi pragmatis dan populis yang sering mengandalkan ancaman keamanan eksternal untuk menggalang dukungan publik selama periode kerentanan politik.

Menurut pakar tersebut, perang berkepanjangan di Gaza, ketidakpastian seputar Lebanon, dan tekanan ekonomi yang meningkat telah mengurangi efektivitas politik dalam menggambarkan Iran sebagai ancaman keamanan utama “Israel”. Dengan latar belakang itu, katanya, Netanyahu semakin berupaya untuk membingkai Turki sebagai musuh strategis baru, dengan alasan bahwa narasi tersebut melayani tujuan politik domestik daripada tujuan keamanan.

Dalam sebuah wawancara dengan The National yang berbasis di UEA, Fidan, pekan lalu, membahas ketegangan antara Turki dengan “Israel”, serta kebijakan regional penjajah itu.

Fidan mengatakan tidak ada alasan untuk konfrontasi langsung antara Turki dengan “Israel”. Alasannya, Netanyahu semakin sering menggunakan retorika yang bermusuhan saat ia mencari lawan politik baru menjelang pemilihan umum mendatang di negara itu.

Selain itu, Erol menunjukkan bahwa strategi tersebut juga membantu mengalihkan perhatian publik dari persidangan korupsi Netanyahu yang sedang berlangsung dan kritik atas kegagalan keamanan, sekaligus memperkuat dukungan di antara pemilih sayap kanan.

Pada saat yang sama, ia berpendapat, pendekatan tersebut membawa risiko politik yang lebih besar daripada kampanye pemilu sebelumnya karena banyak pemilih “Israel” semakin fokus pada kesulitan ekonomi dan tantangan keamanan domestik setelah berbulan-bulan konflik di berbagai front.

“Netanyahu telah berupaya membujuk kelompok lobi pro-“Israel” dan anggota parlemen di Kongres untuk memandang Turki sebagai “kuda Troya” di dalam NATO dalam upaya membangun oposisi terhadap kerja sama pertahanan AS-Turki yang lebih erat.”

Di sisi lain, Merve Suna Özel Özcan, profesor madya dan wakil ketua Departemen Hubungan Internasional di Universitas Kırıkkale, mengatakan retorika anti-Turki bukanlah hal baru dalam politik “Israel” atau wacana regional yang lebih luas, dengan alasan bahwa periode tekanan politik domestik sering mendorong para pemimpin untuk menggambarkan aktor eksternal sebagai musuh dalam upaya untuk mengonsolidasikan dukungan publik dan memperkuat legitimasi politik.

“Namun, kesalahan strategis mendasar terletak pada salah tafsir kebijakan regional Turki. Kebijakan luar negeri Turki didasarkan pada peningkatan stabilitas regional, diplomasi, dan pendekatan yang berpusat pada kemanusiaan,” tegasnya.

Sebelum dan selama KTT NATO di Ankara, Netanyahu memberikan wawancara kepada media AS yang mendesak Washington untuk tidak mengizinkan Turki mendapatkan kembali akses ke program jet tempur generasi kelima.

Pernyataan Netanyahu muncul setelah Trump memberi sinyal bahwa Turki dapat bergabung kembali dalam program F-35. Hal ini mendorong para pejabat “Israel” yang dipimpin Netanyahu untuk secara terbuka menentang langkah tersebut.

Akibatnya, menurut Özcan, upaya untuk menggambarkan Turki sebagai ancaman strategis kemungkinan besar tidak akan mendapatkan pengakuan atau dukungan internasional yang luas karena secara umum dipandang sebagai bermotivasi politik. Tidak mencerminkan situasi di lapangan. Jadi, walhasil, upaya Netanyahu itu tidak efektiif, karena tak memiliki efek. Tak ada pengaruhnya dalam hubungan internasional. (ib)

Baca Juga