Menlu Palestina dan Delegasi Gereja Bahas Pembatasan Ibadah dan Serangan ‘Israel’ terhadap Komunitas Kristen

SALAM-ONLINE.COM: Menteri Luar Negeri Palestina Varsen Aghabekian Shahin membahas serangan “Israel” terhadap kaum Kristiani dan pembatasan ibadah kepada kaum jemaat Kristen itu bersama delegasi dari organisasi Churches for Middle East Peace pada Sabtu (5/9/2026).
Dilansir Kantor Berita Anadolu, Sabtu (5/9), Shahin menerima delegasi yang dipimpin oleh direktur eksekutif organisasi itu, Mae Elise Cannon, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Palestina tanpa menyebutkan lokasi pertemuan.
Shahin mengapresiasi peran organisasi tersebut dalam melindungi umat Kristen di Palestina dan memberikan penjelasan kepada delegasi mengenai kondisi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza.
Shahin menyoroti masalah minimnya masuknya bantuan kemanusiaan, penutupan terus-menerus jalur perlintasan, terganggunya pendidikan anak-anak, serta penyebaran penyakit.
Ia juga membahas perkembangan situasi di Tepi Barat yang diduduki, termasuk meningkatnya kekerasan dan pembatasan ibadah terhadap jemaat Kristen oleh pihak pendudukan “Israel” di bawah perlindungan militer penjajah tersebut.
Sang menteri menyoroti tantangan yang dihadapi penganut Kristen di Palestina serta penurunan signifikan jumlah warga Kristen akibat kondisi sulit yang dialami warga Palestina.
Ia menekankan perlunya komunitas internasional, Churches for Middle East Peace, dan gereja-gereja di seluruh dunia untuk meningkatkan upaya perlindungan bagi umat Kristen dan situs-situs suci dari kejahatan “Israel”, serta menyuarakan aspirasi mereka di tingkat internasional.
Menurut kementerian tersebut, anggota delegasi menyatakan bahwa kunjungan mereka bertujuan untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Mereka mengungkapkan keprihatinan mengenai tantangan yang dihadapi umat Kristen serta penurunan jumlah mereka di seluruh wilayah Palestina.
Delegasi tersebut menegaskan komitmennya untuk membela umat Kristen dan hak-hak rakyat Palestina, menyuarakan aspirasi mereka kepada dunia, serta memperkuat upaya mewujudkan keamanan dan perdamaian di kawasan tersebut.
Pada 11 Agustus lalu, Komite Tinggi Kepresidenan Palestina untuk Urusan Gereja memperingatkan bahwa serangan “Israel” terhadap komunitas Kristen mengancam keberadaan mereka yang telah mengakar kuat di tanah tersebut.
Komite tersebut menyatakan bahwa serangan terhadap umat Kristen Palestina
bukan lagi insiden yang terisolasi, melainkan bagian dari pola berkelanjutan yang melibatkan kekerasan oleh pihak pendudukan “Israel”, penyitaan tanah, perluasan permukiman, dan pembatasan kebebasan beribadah.
Mereka menggambarkan situasi ini sebagai hal yang memilukan,:seraya menyebutkan semakin banyaknya keluarga Kristen yang terpaksa meninggalkan Palestina akibat meningkatnya serangan “Israel”. Pihak komite tidak memberikan angka statistik terkait hal ini.
Sekitar sepekan yang lalu, sekolah-sekolah Kristen di Yerusalem Timur yang diduduki mengumumkan penangguhan kegiatan belajar-mengajar mulai hari Selasa hingga pemberitahuan lebih lanjut, setelah “Israel” tidak memperbarui izin masuk bagi lebih dari 70 guru dan staf, sehingga menghalangi mereka untuk mencapai sekolah.
Tak hanya menghambat proses belajar mengajar, polisi “Israel” juga membatasi ibadah umat Kristiani. Termasuk akses ke perayaan Sabtu Suci di Yerusalem. Otoritas penjajah itu memblokir umat Kristiani saat mengakses Gereja Makam Kudus di wilayah pendudukan Yerusalem, Palestina, saat mau merayakan Sabtu Suci (Api Kudus), salah satu hari suci dalam perayaan akhir pekan Paskah.
Polisi “Israel” mendirikan pos pemeriksaan militer di jalan menuju gereja di Kota Tua, memeriksa tanda pengenal dan menolak masuk para pemuda, lapor Kantor Berita Palestina, WAFA.
WAFA melaporkan bahwa “Israel” melarang ribuan umat Kristiani dari wilayah pendudukan Tepi Barat untuk masuk ke Yerusalem, dengan menerapkan aturan ketat terkait izin masuk bagi warga Palestina, baik Muslim maupun Kristiani.
Pertemuan delegasi organisasi Churches for Middle East Peace dengan Kementerian Luar Negeri Palestina adalah untuk mengambil langkah yang diperlukan di tengah serangan yang lebih luas oleh pihak penjajah “Israel” terhadap komunitas Kristen di wilayah Palestina, termasuk tindakan terhadap kaum rohaniwan dan gereja dengan aksi meludahi komunitas Kristen serta bentuk-bentuk pelecehan lainnya yang dilakukan pihak “Israel”.
Sejak “Israel” melancarkan perang genosida di Jalur Gaza, wilayah Tepi Barat yang diduduki terus mengalami penggerebekan dan serangan setiap hari oleh tentara “Israel”. (is)