Mantan Tentara IDF Ungkap Praktik Licik ‘Israel’ di Gaza: ‘Bunuh Dulu, Baru Cari Pembenaran’

Nadav Weiman pernah bertugas di pasukan khusus Pasukan Pertahanan “Israel” (IDF) di Tepi Barat dan Jalur Gaza, saat ini menjabat sebagai direktur senior di Breaking the Silence, sebuah organisasi veteran “Israel” yang menentang pendudukan/penjajahan “Israel”.

SALAM-ONLINE.COM: Militer penjajah “Israel” menerapkan praktik licik: “membunuh terlebih dahulu, baru kemudian berpikir dan mencari dalih” untuk membenarkan serangan terhadap Jalur Gaza, demikian direktur eksekutif kelompok veteran “Israel”, Breaking the Silence, Nadav Weiman, mengungkap praktik licik penjajah tersebut di Gaza, Palestina.

Dalam wawancara dengan France 24, Jumat (28/8/2026), Nadav Weiman mengatakan bahwa militer dan otoritas “Israel” berupaya melegitimasi serangan secara “surut” dengan mencoba mengaitkan para korban dengan Hamas atau Jihad Islam Palestina setelah serangan terjadi.

“Dalam kasus-kasus serangan seperti di  Rumah Sakit Nasser atau 15 petugas medis yang terbunuh di tangan tentara IDF (militer “Israel”) di Rafah, ataupun serangan udara yang membunuh ratusan warga sipil di Gaza… tiba-tiba juru bicara IDF harus menjelaskan kepada masyarakat internasional mengenai apa yang mereka lakukan di sana dan siapa saja target serangannya,” ungkap Weiman.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza,
Pada 25 Agustus 2025, serangan “Israel” terhadap Rumah Sakit Nasser di Jalur Gaza selatan membunuh sedikitnya 20 warga Palestina—termasuk pasien, petugas medis, personel pertahanan sipil, dan awak media—serta melukai sejumlah orang lainnya.

Pada 23 Maret, 15 petugas darurat dan pertahanan sipil, yang dilindungi oleh hukum internasional, terbunuh akibat aksi militer “Israel” di Rafah, Gaza selatan.

Weiman mengatakan bahwa praktik tersebut tidak hanya terjadi pada insiden Rumah Sakit Nasser–merujuk pada protes di perbatasan Gaza tahun 2018–ketika lebih dari 200 warga Palestina terbunuh di tangan pasukan penjajah tersebut.

Pada 30 Maret 2018, gerakan “Great March of Return and Breaking the Siege” (Pawai Besar Kepulangan dan Pemutusan Blokade) dimulai. Saat itu warga Palestina berkumpul di sepanjang pagar pembatas antara Jalur Gaza dan wilayah jajahan “Israel” untuk menuntut hak kembali bagi pengungsi Palestina serta diakhirinya blokade “Israel” terhadap Gaza. Protes tersebut juga bertepatan dengan peringatan Hari Tanah (Land Day). Pasukan “Israel” kala itu membunuh 215 warga Palestina.

“Saat itu situasinya sama dalam berita malam ‘Israel’ yang menyiarkan: ‘Kami membunuh sekian banyak teroris’,” ungkap Weiman.

Ia mengatakan bahwa organisasi Breaking the Silence telah menerima kesaksian dari para tentara yang terlibat dalam perang Gaza saat ini yang membenarkan bahwa jika tentara “Israel” menembak dan menewaskan seseorang, orang itu akan dicatat sebagai “teroris”.

Baca Juga

Seorang perwira dari batalion besar yang terlibat dalam genosida Gaza menceritakan kepada Breaking the Silence bahwa setiap malam dia harus menghitung jumlah warga Palestina yang mereka tembak dan mencatat semuanya sebagai “teroris”. “Tidak peduli apakah mereka warga sipil atau bukan,” ujar Weiman, seraya menambahkan bahwa hal itu terjadi “karena begitulah asumsinya” di dalam tubuh militer “Israel”.

Weiman juga mengkritik keras terhadap klaim “penyelidikan” internal militer “Israel” terkait pelanggaran yang dilakukan penjajah tersebut. “Israel” selalu mengatakan akan melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran (pembunuhan) yang dilakukan tentaranya. Tetapi, kata Weiman, penyelidikan tersebut tidak menghasilkan pertanggungjawaban yang berarti.

“Hampir tidak ada,” ujarnya saat ditanya seberapa sering penyelidikan semacam itu berujung pada dakwaan atau tindakan disipliner.

Menurut Weiman, penyelidikan militer umumnya berfokus pada perwira berpangkat lebih rendah, alih-alih memeriksa siapa yang memberikan perintah, atau menyetujui jumlah warga sipil Palestina yang dibunuh.

“Masalahnya terletak pada apa yang dianggap sah oleh ‘Israel’ dan IDF—sebagai perintah yang wajar atau perintah yang krusial—dan di situlah kami menginginkan adanya penyelidikan,” ujarnya.

Menurut data dari Palestina, “Israel” melancarkan genosida terhadap Gaza pada 8 Oktober 2023. Lebih dari 73.000 warga Palestina dibunuh dan lebih dari 174.000 lainnya terluka—sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, “Israel” terus melanggar kesepakatan tersebut melalui serangan yang telah membunuh 1.320 warga Palestina dan melukai 4.385 orang lainnya—sebagian besar perempuan dan anak-anak. (af)

Baca Juga