Meski Hanya Dimutasi, Dua Anggota Densus 88 Terkait Kasus Siyono Keberatan atas Putusan Sidang

DensusX88-1JAKARTA (SALAM-ONLINE): Meski hanya dijatuhi sanksi berupa demosi dengan memutasinya ke kesatuan lain, dua anggota Detasemen Khusus 88 yang menjadi terduga pelanggar kasus kematian Siyono merasa keberatan. Mereka mengajukan banding setelah menerima hasil putusan sidang kode etik terkait dengan perkara tersebut.

“Keduanya menyampaikan banding karena keberatan atas putusan sidang,” kata Kadivhumas Polri Brigjen Pol. Boy Rafli Amar di Jakarta, Rabu (11/5) malam.

Boy mengatakan bahwa upaya banding dua anggota Densus 88 itu, yakni AKBP T dan Ipda H akan diproses.

Sebelumnya diberitakan, dua anggota Densus 88 Antiteror Mabes Polri dijatuhi sanksi berupa demosi tidak percaya dalam putusan sidang kode etik terkait kasus kematian Siyono.

“Jadi sudah dilangsungkan putusan terhadap dua terduga pelanggar yakni AKBP T dan Ipda H,” ujar Boy.

Dalam putusan tersebut, keduanya wajib menyampaikan permohonan maaf kepada institusi Kepolisian. “Itu sudah dilakukan,” katanya.

Baca Juga

Selanjutnya keduanya didemosi tidak percaya, artinya tidak direkomendasikan untuk melanjutkan tugas di Densus 88 dan akan dipindahkan ke satuan kerja lain. “Dipindahkan ke satuan kerja lain dalam waktu minimal empat tahun,” terangnya.

Sidang kode etik profesi terkait kasus kematian Siyono telah digelar sejak Selasa (19/4) dan berlangsung secara tertutup.

Sidang tersebut bertujuan untuk menentukan adanya kemungkinan pelanggaran prosedur oleh anggota Densus 88 Antiteror Polri yang melaksanakan tugas pengawalan kepada Siyono.

Almarhum Siyono, warga Dukuh, Desa Pogung, Kabupaten Klaten setelah ditangkap oleh Densus 88 Mabes Polri dikabarkan meninggal dunia ketika dalam pengawalan Densus 88 sejak Selasa, 8 Maret 2016 lalu. Pihak keluarga, terutama istri Siyono, Suratmi, meminta keadilan terkait dengan meninggalnya suaminya itu.

Sumber: Antara

Baca Juga