Meski Bangladesh Minta Myanmar Terima Lagi Pengungsi, Etnis Rohingya Takut Kembali ke Negaranya


Pengungsi Rohingya

DHAKA (SALAM-ONLINE): Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, meminta PBB dan masyarakat internasional untuk menekan pemerintah Myanmar agar menerima kembali ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di negaranya ke negara tetangga.

Saat berkunjung ke kamp pengungsi Kutupalong pada Selasa (12/9), Sheikh Hasina mengatakan Bangladesh akan menawarkan perlindungan sementara bagi pengungsi tersebut, namun Myanmar harus segera membawa warga negaranya kembali.

PBB melaporkan, Sekitar 370 ribu populasi minoritas Rohingya di Myanmar telah meninggalkan negara bagian Rakhine ke negara tetangga Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir. Jumlah ini diprediksi akan bertambah lagi.

“Di parlemen kita telah mengambil sebuah resolusi bahwa Myanmar harus membawa semua warganya kembali ke negara mereka dan menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga mereka bisa kembali,” kata Hasina seperti dilansir Aljazeera, Rabu (13/9).

Kepala HAM PBB Zeid Ra’ad al-Hussein mengecam situasi di Myanmar sebagai tindakan pembersihan etnis.

Sementara Inggris dan Swedia telah meminta Dewan Keamanan PBB agar menggelar pertemuan mendesak pada Rabu (13/9) untuk menangani Rohingya. Aktivis kemanusiaan di Bangladesh mengatakan mereka mencoba untuk meningkatkan bantuan bagi pengungsi Rohingya.

“Kebutuhannya sangat besar. Kami membantu secepat mungkin. Para pengungsi terus meningkat, tapi kami butuh bantuan internasional untuk membantu para pengungsi,” kata Corinne Ambler, dari kelompok kemanusiaan Palang Merah.

Para pengungsi tertekan karena setelah melarikan diri dari negara mereka, mereka harus menghadapi kondisi sulit di kamp pengungsian.

Setelah melarikan diri dari gelombang kekerasan di negaranya, banyak di antara mereka yang takut jika harus kembali ke kehidupan mereka di Myanmar.

“Jika kita kembali mereka akan membunuh kita. Bagaimana saya bisa lupa, saya pernah melihat bayi dilemparkan ke dalam api oleh militer Myanmar,“ ungkap seorang pengungsi, Rahima Begum (24 tahun).

Sementara itu, ada pula yang mencari kebutuhan dasar dan perlindungan di tengah meningkatnya ketegangan.

“Kami ingin tinggal di sini (Bangladesh) dengan aman. Tapi kita butuh makanan dan tempat tinggal,” kata Harun, seorang pengungsi lainnya.

PBB menggambarkan Rohingya sebagai etnis paling teraniaya di dunia. Rohingya ditolak kewarganegaraannya di Myanmar sejak 1982. Ini membuat mereka hidup tanpa kewarganegaraan. (EZ/Salam-Online)

 Sumber: Aljazeera