Berpihak pada yang Benar

Dirikan Sekolah, PKPU Ingin Berantas Kebodohan Anak-anak Rohingya

Anak-anak Rohingya sedang belajar di sekolah

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Relawan Kemanusiaan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Deni Kurniawan mengungkapkan, banyak anak Rohingya yang masih bodoh karena mereka tak mendapatkan akses pendidikan dari Pemerintah Myanmar.

“Pemerintah (Myanmar) abai dalam masalah pendidikan yang membuat mereka bodoh,” kata Deni saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik Rohingya: ‘Apa, Mengapa dan Bagaimana?’ di Gedung Engineering Center 303 Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, Senin (2/9/2017).

Oleh karenanya PKPU sendiri telah mendirikan beberapa sekolah bagi anak-anak Rohingya yang saat ini mengalami penindasan. Kendati demikian Deni mengungkapkan pihaknya kesulitan untuk mendapatkan guru, baik secara kuantitas maupun kualitas.

“Setelah krisis 2012 lalu guru-guru beragama Buddha yang PNS, tidak mau lagi mengajar. Yang kami cari adalah guru-guru lokal yang mampu mengajar. Cuma hanya ada tujuh guru, sehingga berpindah-pindah dan menangani beberapa kelas, lebih dari satu kelas,” papar Deni yang juga Koordinator Program PKPU untuk Rohingya.

Disinyalir, kurangnya akses pendidikan yang didapatkan anak-anak Rohingya disebabkan krisis identitas yang sejak lama mereka alami. Terhitung sejak 1982, warga Rohingya mengalami krisis identitas di Myanmar.

Selain tidak diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah, etnis Rohingya pun tidak dianggap eksistensinya sebagai manusia yang hidup di tanah Burma oleh sebagian besar etnis lain yang ada di negara itu. Mereka menganggap etnis Rohingya sebagai imigran gelap.

Deni sendiri mengaku pernah menemukan satu keluarga Rohingya yang tidak memiliki identitas kependudukan kecuali sang ayah. Itu pun karena sang ayah lahir sebelum tahun 1982. Naasnya kartu identitas penduduk tersebut juga sudah tidak bisa digunakan lagi.

“Bapaknya punya kartu identitas tapi anaknya tidak. Sekarang identitas ini sudah tidak diakui lagi,” ungkap Deni.

Akibat dari tidak diakui eksistensinya, etnis Rohingya kesulitan mendapatkan akses administrasi, pendidikan, bantuan sosial, dan kebutuhan lainnya. Menurut Deni, akibat dari kurangnya anak-anak etnis Rohingya mendapatkan pendidikan, banyak di antara mereka yang masih bodoh. (MNM/Salam-Online)

Anda mungkin juga berminat