Kuwait Usir Delegasi ‘Israel’ di Konferensi Parlemen Dunia


Ketua Majelis Nasional Kuwait, Marzouk al-Ghanim di konferesi parlemen dunia (IPU), di Saint Petersburg, Rusia

SALAM-ONLINE: Ketua Majelis Nasional Kuwait, Marzouk al-Ghanim, mengusir delegasi Zionis ‘Israel’ yang hadir dalam konferensi parlemen dunia, Inter Parliamentary Union (IPU) ke-137 di Saint Petersburg, Rusia, Rusia pada Rabu (18/10/2017).

Ghanim mengusir delegasi penjajah itu pada saat melakukan interupsinya selama 45 menit. “Anda harus mengemasi barang-barang Anda dan keluar dari ruangan ini setelah Anda melihat reaksi dari parlemen terhormat di dunia menentang Anda,” serunya seperti dilansir Middle East Monitor, Rabu (18/10).

“Anda adalah penjajah, pembunuh anak-anak, pelaku kejahatan dan terorisme dunia. Anda tidak punya malu,” kata Ghanim.

Dengan nada marah, al-Ghanim menyebut Zionis ‘Israel’ sebagai teroris berbahaya di Palestina dan dunia.

“Kalian adalah teroris berbahaya, wahai pembunuh anak-anak, silakan Anda keluar!” tegas Ghanim dengan nada mengusir.

Sambutan dengan tepuk tangan pun diberikan oleh para hadirin atas pidato Ketua Majelis Nasional Kuwait tersebut. Hal itu tentu saja membuat delegasi ‘Israel’ malu, lalu keluar dari ruangan acara.

Delegasi penjajah itu langsung meninggalkan koferensi parlemen dunia tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dengan membawa tas, dua delegasi ‘Israel’ keluar ruangan dan nampak terlihat kesal.

Kepala delegasi Dewan Nasional Palestina di IPU, Azzam al-Ahmad, mengatakan bahwa ucapan Al-Ghanim mengungkapkan pemikiran dari semua negara Arab.

“Kata-kata Al-Ghanim di depan para delegasi menyoroti luka-luka yang diderita warga Palestina,” kata Al-Ahmad.

Dia menambahkan bahwa parlemen internasional sekarang telah disadarkan akan penderitaan Palestina dalam usaha mencari “hak untuk menentukan nasib sendiri, mengakhiri penjajahan yang dilakukan oleh Zionis ‘Israel’ dan mendirikan sebuah negara Palestina yang merdeka”.

Sidang ke-137 IPU berlangsung di St Petersburg, Rusia, hingga 18 Oktober 2017. Organisasi internasional tersebut mencatat perwakilan dari 176 negara berdaulat itu berkumpul untuk bernegosiasi dan melakukan perundingan. (EZ/Salam-Online)

Sumber: Middleeastmonitor