Bercadar, Dosen IAIN Bukittinggi Dinonaktifkan

Bercadar (ilustrasi)

BUKITTINGGI (SALAM-ONLINE): Kasus pelarangan cadar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ditutup dengan dicabutnya larangan tersebut. Kini giliran Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, diberitakan telah mengeluarkan sebuah surat teguran terhadap seorang Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan atas nama Hayati Syafri yang mengenakan cadar.

Surat yang dikeluarkan pada 6 Desember 2017 itu ditandatangani Dekan Fakultas, Nunu Burhanuddin, berisi tentang peringatan terhadap Hayati untuk berpakaian di dalam kampus sesuai dengan kode etik Dosen IAIN Bukittinggi. Hayati diketahui belum lama ini bekerja dan mengajar di kampus itu menggunakan cadar.

Hayati Syafri yang memilih untuk tetap menggunakan cadar, diminta pihak kampus IAIN Bukittinggi untuk menonaktifkan diri sementara waktu. Pasalnya, aturan soal berpakaian di kampus itu selama ini sudah baku, dan sama sekali tidak memperbolehkan menggunakan cadar.

Dilansir dari Viva.co.id, Rabu (14/3/2018), Kepala Biro IAIN Bukittinggi Syahrul Wirda menyebutkan, pihak kampus tidak melarang seperti informasi yang sudah beredar di tengah masyarakat. Hanya saja, pihak kampus dalam hal ini, meminta yang bersangkutan untuk menaati kode etik, karena ada pihak internal kampus yang tidak merasa nyaman.

“Dia kan guru Bahasa Inggris. Dia mengajar anak-anak kan, speaking perlu. Ada beberapa yang diajar tidak nyaman. Kita kan perlu identitas. Makanya kalau di kampus, kami minta tolong kode etik kampus dipatuhi. Sampai hari ini dia belum mau,” kata Syahrul Wirda, Senin (13/3).

Syahrul Wirda menegaskan, pihak IAIN sama sekali tidak melarang, namun mengimbau kepada seluruh dosen dan mahasiswa untuk tidak bercadar. Hal ini semata-mata untuk ketentuan pedagogis.

“Kan enggak seluruhnya mahasiswa ingin diajar oleh yang bercadar. Yang kami minta pakaian Muslim dan yang biasa. Saat ini kami minta dia, tolonglah patuhi. Sampai hari ini kalau belum juga, enggak usahlah dulu mengajar,” ujarnya.

Bahkan, kata Syahrul, selain menjelaskan kepada Hayati, pihak kampus juga sudah memberikan penjelasan kepada suaminya. Karena beberapa hari lalu, sang suami yang bersangkutan datang ke kampus meminta penjelasan. “Kita jelaskan jika di dalam kampus, maka ikuti aturan pedagogisnya, kalau di luar silakan,” terang Syahrul.

Perihal kabar dinonaktifkannya dosen tersebut, Syahrul membantahnya. Menurutnya, yang bersangkutan masih berhak mengajar di Kampus IAIN dan tidak semudah itu untuk menonaktifkannya, apalagi dia seorang PNS. “Yang kami minta adalah yang bersangkutan mematuhi aturan. Kan di kampus ada otonomi kampus,” ujarnya. (*)

Sumber: Vivanews

Baca Juga