Ini Penyebab Perselisihan di Tengah Umat Islam

Dosen Universitas Umul Quro-Makkah, Syaikh Dr Fakhruddin. (Foto: TAS/INA/JITU)

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Pada hari kedua Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-5, dibahas isu penting soal sebab-sebab perselisihan di tengah umat Islam.

Dosen Universitas Ummul Qura Makkah Syaikh Dr Fakhruddin menjelaskan, sebab-sebab tersebut berasal dari kezaliman dan kebodohan.

Kezaliman, jelasnya, terbagi menjadi tiga, yakni kezaliman terhadap Allah, terhadap diri sendiri, dan terhadap saudaranya.

Tingkat kezaliman pertama adalah yang paling buruk, yang menyebabkan munculnya kesesatan. Keyakinan menyimpang di tengah umat, menurutnya, memang masalah besar bagi kaum Muslimin.

Kendati demikian, kata Fakhruddin, hal itu tidak semestinya disikapi reaktif oleh umat.

Dia memberi contoh, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika fase Madinah tetap melakukan interaksi dengan orang-orang yang bahkan tidak bersyahadat—dengan batas-batas tertentu.

“Contohnya perjanjian-perjanjian Nabi dengan orang-orang Yahudi, serta akomodasi Nabi terhadap orang-orang Munafik. Apalagi perselisihan akidah yang sifatnya internal ahlul kiblat (sesama Muslim). Harusnya lebih bisa untuk tidak menyebabkan kita berpecah,” jelas Dr Fakhruddin dalam paparannya pada hari kedua Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-5 di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat, Rabu (5/7/2018).

Sementara zalim terhadap diri dan saudara sendiri merupakan dampak dari kezaliman pertama.

Lebih lanjut Dr Fakruddin menjelaskan, kezaliman-kezaliman itu pun telah menjatuhkan orang-orang pada kebodohan yang setidaknya terbagi secara umum menjadi tiga.

Pertama, kekeliruan terhadap pemaknaan ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits). Kedua, kebodohan terhadap penghukuman realitas dengan dalil (ta’shil). Ketiga, kebodohan dalam menempatkan dalil dalam realitas (tanzil).

Tiga kebodohan itu yang menurutnya tengah menjadi momok tersendiri bagi sesama Muslim, yakni ketika tidak menempatkan dalil pada konteks yang tepat.

“Imam Bukhori meletakkan dalam Shahihnya, bab mengenai mengkhususkan ilmu bagi sebagian kaum saja. Dikhawatirkan orang lain (awam) tidak dapat memahaminya,” ujarnya.

Dr Fakhruddin menceritakan, suatu ketika ada seorang perempuan ingin masuk Islam. Tetapi perempuan tersebut mensyaratkan agar dibolehkan masih bermain-main dengan anjing.

“Secara ideal, Muslim tidak boleh bermain-main dengan anjing. Kalau kita katakan tidak boleh, bisa saja dia tidak jadi masuk Islam. Padahal bermain-main dengan anjing hukumnya dosa, sementara tetapnya dia dalam kekafiran adalah kekufuran.”

Dalam konteks itu dia mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan, “Lebih baik dia masuk Islam atau tetap pada kekafirannya?” (SF/Salam-Online)

Baca Juga