Tangisan Mega

Catatan M Rizal Fadillah*

SALAM-ONLINE.COM: Meski muncul agak lambat untuk klarifikasi, Mega menayangkan video yang menunjukkan kesehatannya. Dipertanyakan, mengapa Sekjen Hasto tidak berada di dekat Ketum di momen penting ini. Mega justru didampingi dua petinggi PDIP lainnya.

Ketua Umum PDIP itu mengaku dalam keadaan sehat wal afiat. Pengakuan itu disampaikan Megawati saat menyampaikan sambutan Pembukaan TOT Kader Madya PDIP yang disiarkan secara langsung melalui YouTube PDIP, Jumat (10/9/2021) siang.

Sedih akibat orang membicarakan soal kabar sakitnya, Mega seperti menahan tangis haru atas perhatian besar pendukungnya. Dengan nada pasrah berbasis kesabaran, Mega menampilkan wajah lain dari biasanya. Sekretarisnya dilarang mengamuk ketika mantan Menterinya minta agar soal sakit tidak ditutup-tutupi.

Terlihat dalam gambar di video sebelah, Hasto Kristiyanto menyeka air mata, turut bersedih. Mengingat hal ini berhubungan dengan partai politik dan tokoh politik, maka wajar muncul berbagai tafsir politik.

Ada yang membela habis dan mengecam hoaks media. Ada pula yang menilai jangan-jangan ini adalah skenario partai untuk bermanuver “playing victim”. Cara mengucapkan, gestur tubuh, tertawa, nyinyir, marah atau tangisan yang dilakukan oleh tokoh politik maupun pejabat dapat ditafsirkan secara politis.

Ada lagi yang mengambil momen untuk cari muka dengan melapor-laporkan ke Kepolisian. Hersubeno Arief akan dilaporkan oleh Gardu Banteng Marhaen ke Bareskrim Mabes Polri dengan alasan menyebarkan hoaks. Banyak kalangan menilai bahwa Hersubeno Arief sana sekali tidak menyebarkan hoaks, tetapi memverifikasi atau mendorong agar ada klarifikasi.

Jika benar dilaporkan maka isu akan semakin bergulir dan membesar. Bukan simpati tetapi juga antipati. Pertarungan politik bukan Mas Hersu dengan Banteng Marhaen lagi, tetapi menohok pada Hersubeno versus Megawati. PDIP tidak mendapat manfaat dari guliran ini.

Penyebar awal-lah yang semestinya diperiksa, jangan-jangan itu dari kalangan internal partai sendiri. Sebenarnya ketika belum ada klarifikasi atas suatu berita, maka semua informasi secara hukum belum dapat dikualifikasi hoaks. Setelah ada penjelasan dan pembuktian tetapi masih juga disebarkan maka barulah disebut penyebaran hoaks.

Baca Juga

Di sinilah sering terjadi salah kaprah dalam pelaksanaan hukum dan di sini pula jebakan-jebakan politik bisa dimainkan.

Tangisan politik Mega ini untuk kedua kalinya. Pertama, saat menangisi Joko Widodo yang menurutnya sering disebut “kurus” dan “kodok”. Ia merasa iba kepada Joko Widodo. Kedua, ya inilah saat ia mengiba dirinya sendiri. Mega terharu atas perhatian orang yang mempedulikan diri dan kesehatannya.

Sebagai manusia wajar jika secara emosional banyak hal yang membuatnya menangis. Wanita ataupun lelaki, petinggi maupun rakyat jelata. Rakyat yang kini banyak menangis karena penderitaannya.

Sebenarnya hewan pun bisa menangis pula. Sebagai contoh pada Januari 2013 terungkap berita bahwa seekor banteng yang akan dipotong menangis. Shiu, salah satu pekerja di rumah potong hewan merasa gemetar ketika melihat si banteng matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba banteng itu berlutut dan meneteskan air mata. Shiu menarik-narik, tetapi hewan itu menolak bergerak.

Akhirnya Shiu membatalkan niat untuk memotong dan segera mengumpulkan dana. Ia serahkan banteng itu kepada biarawati di sebuah kuil untuk memeliharanya. Banteng bisa berdiri dan bergerak mengikutinya.

Tayangan video telah ditampilkan, klarifikasi telah dilakukan. Mega sehat. Yang belum terjawab adalah siapa yang memulai melempar isu Mega sakit keras sehingga menjadi “Isu Nasional”? Maklum Ketua Umum dari partai berkuasa.

Rakyat tidak menghendaki adanya tangisan berseri. Mega tentu memahami hal ini. Bangsa butuh spirit perjuangan yang didorong oleh para pemimpin negeri yang timbul tenggelam bersama rakyat. Bukan yang jauh dari penderitaan rakyat atau sekadar pandai mempermainkan perasaan rakyat.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Baca Juga
awefawef104323