Saat Netanyahu Kunjungi AS, Semakin Banyak Warga Amerika yang Menentangnya

SALAM-ONLINE.COM: Kunjungan Benjamin Netanyahu, seorang penjahat perang, ke Washington pekan ini, seperti diperkirakan, disambut oleh demonstran.
Yang berbeda kali ini, dibandingkan dengan kunjungan sebelumnya dari penjahat perang yang dicari itu, adalah meningkatnya dukungan publik AS terhadap Palestina. Ini memberikan secercah harapan bagi para pendukung lama.
“Yang kita lihat adalah perubahan arah pandangan publik Amerika terhadap Israel,” kata Ayah Suleiman, seorang penyelenggara unjuk rssa dari Gerakan Pemuda Palestina di wilayah Washington, DC, kepada The New Arab (TNA), Selasa (28/7/2026).
Saat Netanyahu, mengunjungi Washington, Selasa (28/7) semakin banyak warga Amerika yang menentangnya.
Publik AS turun ke jalan untuk memprotes kunjungannya. Para pengunjuk rasa merasa optimis atas meningkatnya dukungan warga Amerika untuk Palestina.
“Ini perlahan akan mulai mengubah posisi para pejabat terpilih. Orang-orang yang vokal menentang ‘Israel’ memenangkan pemilihan pendahuluan,” kata Suleiman.
Pada Selasa (28/7/2026), para demonstran berbaris bersama dari tempat Netanyahu menginap di Blair House menuju Gedung Putih.
Penyelenggara dan pembicara lainnya termasuk Partai untuk Sosialisme dan Pembebasan serta Dewan Nasional Iran-Amerika, yang bersama-sama menentang berbagai perang “Israel” di kawasan tersebut, menyerukan embargo senjata dan penangkapan Netanyahu sesuai dengan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional.
Surat perintah penangkapan itu dikeluarkan atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan Netanyahu di Palestina. Hampir setengah dari warga Amerika (sekitar 49 persen) percaya Netanyahu harus ditangkap saat kunjungannya ini, demikian menurut survei Economist/YouGov baru-baru ini.
Mereka juga menyerukan dukungan bagi warga AS dari Maryland yang telah terdampak oleh tindakan “Israel”. Termasuk mereka yang berada di armada bantuan Gaza dan warga Palestina-Amerika yang telah ditahan “Israel”.
Ini adalah pertemuan kedelapan Netanyahu selama masa jabatan kedua Trump. Untuk pertama kalinya pula kedua pemimpin tersebut duduk bersama sejak mereka bersama-sama melancarkan perang melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu. Dalam pertemuan sebelumnya, tiga pekan sebelum mereka berperang, Netanyahu dilaporkan menyarankan serangan terhadap Iran.
“Terakhir kali Netanyahu bertemu Trump, adalah saat mereka menyelesaikan persiapan untuk perang ilegal melawan Iran. Namun, masing-masing mungkin sekarang menyesali keputusan tersebut,” kata kelompok NIAC (Konflik Bersenjata Non-Internasional) dalam pernyataan publik terkait kunjungan Netanyahu itu.
“Trump dijanjikan kampanye cepat yang akan menggulingkan rezim yang goyah, hanya untuk menyadari bahwa Iran yang dianggap sebagai macan kertas masih memiliki taring. Sekarang, Trump berisiko terjebak dalam perang abadi yang tidak memiliki solusi militer,” lanjut kelompok tersebut.
Kali ini, pertemuan tatap muka dianggap lebih tegang daripada sebelumnya. Trump secara terbuka mengkritik Netanyahu di media, karena angka jajak pendapatnya terus menurun di tengah perang yang tidak populer di Iran dan meningkatnya ketidaksetujuan terhadap dukungan militer AS untuk “Israel”. (af)