Guterres Desak PBB dan Komunitas Internasional Dukung Pengungsi Internal Suriah
SALAM-ONLINE.COM: Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa Suriah harus mendapatkan dukungan besar-besaran dari badan-badan PBB dan komunitas internasional untuk membantu para pengungsi internal.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi Alikhbariah Suriah, Senin (27/7/2026), Guterres berjanji akan melakukan segala daya upayanya untuk memobilisasi dukungan internasional bagi negara tersebut.
“Sumber daya harus dimobilisasi untuk membantu rakyat dan membangun kembali negara setelah 15 tahun kehancuran,” katanya, Senin (27/7/2026) seperti dilansir Anadolu, Selasa (28/7).
Ia mencatat bahwa ribuan pengungsi Suriah telah kembali ke daerah mereka dan jumlah pengungsi internal telah mulai menurun dengan cepat.
Menurut badan pengungsi PBB (UNHCR), jumlah pengungsi internal di Suriah turun dari 7,4 juta pada tahun 2024 menjadi sekitar 6 juta pada akhir tahun 2025 karena sebagian kembali ke daerah mereka untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Guterres menggambarkan Suriah sebagai “persimpangan peradaban” yang telah lama menjadi pusat peradaban.
Guterres juga mengatakan ia berterima kasih atas keramahan yang ditunjukkan oleh rakyat dan pemerintah Suriah. Ia juga sangat terkesan atas diskusinya dengan Presiden Ahmad al-Sharaa dan Menteri Luar Negeri Asaad al-Shaibani.
Ia mengatakan telah menjauh dari Suriah selama 15 tahun karena penindasan brutal rezim Assad terhadap rakyat Suriah, dan menggambarkan kedatangannya sebagai momen penting karena negara tersebut bergerak ke arah yang menurutnya benar.
Guterres mengatakan ia sangat mengagumi kemurahan hati dan ketahanan rakyat Suriah.
Guterres juga menceritakan kunjungannya ke penjara Sednaya, dan mengatakan ia sangat terpengaruh oleh apa yang dilihatnya di penjara tersebut.
Ia menyerukan perhatian khusus untuk mendukung para korban, keluarga mereka, dan para penyintas.
Ia juga mendesak pencabutan sanksi yang tersisa terhadap Suriah dan bantuan keuangan yang substansial untuk pemerintah.
Beralih ke tindakan “Israel” di Suriah, Guterres menegaskan kembali bahwa Golan adalah wilayah Suriah.
Ia menuduh “Israel” berulang kali melanggar Perjanjian Penarikan Diri tahun 1974 dan menyerukan agar “Israel” berhenti campur tangan di Suriah.
Ia menggambarkan pelanggaran “Israel” sebagai “tidak dapat diterima”. Selain itu, menurutnya, pelanggaran tersebut menyebabkan penderitaan yang tidak perlu bagi rakyat Suriah di wilayah tersebut.
Guterres menyampaikan pernyataan tersebut setelah kunjungan resminya ke Damaskus, di mana ia bertemu dengan Presiden al-Sharaa, Menlu al-Shaibani, dan pejabat lainnya.
Kunjungan tiga hari tersebut menandai kunjungan resmi pertama seorang kepala PBB ke Suriah dalam 17 tahun terakhir. (ib)
