Beri Dukungan, Ini Tanggapan PM Spanyol terhadap Mural di Gaza yang Bawa Harapan Warga Palestina

Seniman Gaza, Ubay Karim al-Qurshali, memperbaiki mural yang dilukisnya di reruntuhan rumah-rumah yang dihancurkan oleh tentara “Israel” di Kota Gaza, 27 Juli 2026. (Foto AFP)

SALAM-ONLINE.COM: Seorang gadis Palestina berusia 11 tahun melukis mural Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez di dinding-dinding Gaza yang hancur. Anak perempuan itu, Layan al-Gugha mengatakan bahwa ia menemukan harapan baru setelah pemimpin Spanyol tersebut secara pribadi berterima kasih kepadanya. Sanchez, pemimpin Spanyol itu juga mengatakan kepada anak-anak Gaza bahwa Spanyol “mendengar”, “melihat”, dan “tidak melupakan” mereka.

Ketika Layan al-Gugha melukis mural Perdana Menteri Pedro Sanchez di dinding-dinding Gaza yang hancur, ia tidak pernah membayangkan bahwa lukisan itu akan sampai ke Madrid, Ibu Kota Spanyol.

Bagi Layan, yang tinggal di Kota Gaza, respons tersebut lebih dari sekadar pengakuan atas karya seninya. Itu adalah bukti, katanya, bahwa suara anak-anak Gaza masih dapat menjangkau dunia di luar kehancuran yang mengelilingi mereka.

“Saya terkejut dan sangat bahagia. Saya tidak pernah membayangkan bahwa seorang perdana menteri akan melihat gambar saya, merekam video untuk saya, dan bahkan menyebut nama saya. Rasanya mustahil. Itu adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup saya, dan itu memberi saya harapan bahwa suara kami dapat mencapai dunia,” katanya kepada Anadolu Agency (AA).

Mural tersebut dilukis bersama seniman lokal lainnya sebagai ungkapan terima kasih kepada Spanyol, yang telah muncul sebagai salah satu pembela paling vokal di Eropa terhadap perang genosida “Israel” di Gaza. Diketahui, Spanyol berulang kali menyerukan gencatan senjata. Negara Eropa ini telah menyatakan mengakui Negara Palestina.

Dalam pesan videonya, Sanchez berterima kasih kepada para seniman atas apa yang ia gambarkan sebagai “gerakan indah” mereka. Sanchez menyatakan harapan bahwa anak-anak Gaza suatu hari nanti akan kembali melukis tanpa rasa takut di sekolah mereka dan menjalani masa depan yang damai.

Tentara “Israel” telah membunuh lebih dari 73.000 orang dan melukai lebih dari 174.000 lainnya sejak Oktober 2023. Serangan tersebut telah menghancurkan wilayah kantong itu. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza sekitar 70 miliar dolar AS.

Bagi Layan, melukis sudah menjadi lebih dari sekadar hobi artistik. Setiap gambar, katanya, menceritakan kisah kehilangan.

“Saya ingin gambar saya mengatakan: Cukup sudah ketidakadilan terhadap Gaza. Kami telah sangat menderita. Kami kehilangan segalanya tanpa melakukan kesalahan apa pun. Kami adalah anak-anak yang tidak bersalah.

“Keluarga saya kehilangan rumah kami, dan saya juga kehilangan kucing-kucing kesayangan saya. Ayah saya kehilangan pekerjaannya di UNRWA setelah bekerja dengan setia selama 23 tahun, meskipun dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Saya ingin dunia tahu bahwa di balik setiap gambar, ada kisah dan penderitaan nyata.”

PBB telah memperingatkan bahwa UNRWA (Badan Bantuan PBB untuk Palestina) hampir mencapai “titik kritis” karena kekurangan dana kronis dan pembatasan “Israel” terus melemahkan operasi badan tersebut di seluruh wilayah Palestina yang diduduki dan wilayah yang lebih luas.

Meskipun telah hidup hampir tiga tahun di tengah perang, Layan menolak membiarkan konflik menentukan masa depannya.

Baca Juga

“Mimpi terbesar saya adalah hidup seperti anak-anak lain di seluruh dunia.” Saya juga bermimpi membuka akademi seni tempat saya dapat mengajar anak-anak cara menggambar dan membantu mereka mengekspresikan diri serta mengatasi rasa takut yang telah mereka alami.”

Ia juga memiliki pesan untuk anak-anak yang menghadapi kesulitan di tempat lain.

“Saya ingin memberi tahu mereka: Jadilah kuat, jangan pernah kehilangan harapan, dan selalu percaya kepada Tuhan. Hari-hari yang lebih baik akan datang.”

Menurut UNICEF (Bantuan PBB untuk Anak-anak), sekitar 1,9 juta dari 2,1 juta penduduk Gaza masih mengungsi di dalam negeri. Sementara hampir 700.000 anak usia sekolah telah putus sekolah selama hampir tiga tahun.

Ketika ditanya apa yang akan dia katakan jika diberi kesempatan untuk berbicara di hadapan para pemimpin dunia, jawaban Layan sederhana.

“Saya akan mengatakan kepada mereka bahwa Gaza dan rakyatnya telah diperlakukan secara tidak adil. Kami tidak bersalah. Mengapa Anda membiarkan kami sendirian begitu lama? Tolong dengarkan suara kami dan lindungi anak-anak yang hanya ingin hidup dalam damai.”

Seperti ribuan anak di seluruh Gaza, Layan mengatakan perang telah mengubah setiap bagian hidupnya.

“Semuanya telah berubah. Rumah kami hancur. Banyak impian kami hilang, dan bahkan pekerjaan ayah saya, yang merupakan satu-satunya harapan keluarga kami, diambil setelah dia dipecat secara tidak adil dari UNRWA.”

“Meskipun menghadapi semua ini, saya tetap menggambar karena seni memberi saya harapan dan membantu saya berbagi kisah kami dengan dunia.”

Ia meninggalkan pesan sederhana kepada orang-orang di seluruh dunia.

“Tolong bantu sebarkan gambaran sebenarnya tentang Gaza. Terima kasih kepada semua orang yang berdiri bersama kami, mendukung kami, dan menjaga kisah kami tetap hidup. Kebaikan Anda memberi kami harapan.”

Meskipun gencatan senjata mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025, berdasarkan kesepakatan yang ditengahi oleh AS, Mesir, dan Qatar antara “Israel” dan Hamas, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pasukan “Israel” terus melakukan serangan hampir setiap hari, mengakibatkan kematian sedikitnya 1.203 warga Palestina dan melukai sekitar 3.900 lainnya sejak gencatan senjata dimulai. (ib)

Baca Juga