Kelaparan, Berburu Makanan hingga Jatuh ke Lubang Sumur, Warga Palestina di Gaza Bertahan untuk Hidup
SALAM-ONLINE.COM: Waktu menunjukkan pukul 2 pagi dini hari. Ahmad Abu Zubaida menerima pesan teks dari teman-temannya: “Bantuan akhirnya tiba.”
Kelaparan akibat blokade penjajah “Israel” selama berbulan-bulan masih berlangsung. Abu Zubaida berangkat menuju titik distribusi bantuan yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung AS dan “Israel” di Jalur Gaza bagian tengah.
Didorong oleh kebutuhan mendesak untuk memberi makan anak-anaknya dan keponakan-keponakannya yang yatim piatu, Abu Zubaida, seorang ayah Palestina yang baru-baru ini kehilangan tiga saudara lelakinya akibat serangan “Israel”, mempertaruhkan nyawanya untuk mencapai lokasi tersebut.
Dalam perjalanan ke pusat bantuan, di daerah Lembah Gaza tidak ada lampu. Kondisi jalan pun tidak beraspal.
Saat ia mendekati gerbang, tembakan pasukan penjajah meletus.
Puluhan orang di sekitarnya berjatuhan. Beberapa di antaranya meregang nyawa. Yang lainnya terluka. Banyak yang menjerit kesakitan.
“Seolah-olah itu adalah Hari Kiamat,” ujar Abu Zubaida mengenang pemandangan yang kacau: pecahan peluru yang beterbangan ke segala arah, jeritan korban luka, dan suara tembakan yang tak henti-hentinya.
Di tengah kekacauan itu, Abu Zubaida jatuh ke dalam lubang sedalam lebih dari lima meter.
“Tiba-tiba, saya jatuh dan tidak ingat apa-apa.”
Dalam kegelapan pekat, teman-temannya bergegas mencari apa pun yang bisa digunakan untuk menyelamatkannya. Mereka mengumpulkan kabel-kabel listrik bekas, mengikatnya, dan membuat tali darurat.
Seorang teman turun ke dalam lubang untuk menyelamatkannya. Penyelamatan itu memakan waktu hampir dua jam. Semuanya berada di bawah ancaman tembakan penembak jitu pasukan penjajah dan pengawasan pesawat tanpa awak.
“Mereka menarik saya keluar dengan kabel listrik. Setelah itu, saya tidak ingat apa-apa… Saya terbangun di ranjang rumah sakit.”
Abu Zubaida telah dipindahkan ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, di mana staf medis sudah kewalahan menangani korban dari titik bantuan yang sama.
Mengubur kaki yang terluka di pasir
Sejak Maret lalu, “Israel” memberlakukan blokade total di Jalur Gaza, menyengsarakan dua juta orang ke dalam krisis kelaparan yang parah.
Pada awal Juni, GHF telah membuka empat titik distribusi bantuan. Semuanya terletak di zona berbahaya yang dikelilingi oleh pasukan “Israel”.
Titik-titik distribusi bantuan ini menggantikan 400 titik bantuan yang didirikan di seluruh Gaza di bawah PBB yang, selain menyediakan makanan, juga mendistribusikan tenda dan perlengkapan mandi.
Hanya dapat diakses dengan berjalan kaki, titik-titik bantuan GHF menarik ribuan warga Palestina yang putus asa setiap hari. Mereka berjalan jauh hanya untuk mencari makanan untuk anak-anak mereka.
Bagi kebanyakan orang, ini adalah perjalanan yang didasari atas keputusasaan. Risiko yang diambil setiap hari hanya untuk bertahan hidup.
Seperti Abu Zubaida, Mohammed Awidat (35 tahun) yang juga merasa tidak punya pilihan.
Sebagai ayah dari lima anak, ia terdorong “berburu” makanan untuk anak bungsunya, yang baru berusia 18 bulan, yang mengucapkan kata pertamanya: roti.
Malam itu, Awidat berangkat ke salah satu titik bantuan. Meskipun dalam kondisi berdesak-desakan dan ancaman tembakan, ia terus maju.
Tak lama kemudian, ia mendapati dirinya terlentang di dasar lubang yang dalam, setelah terjatuh dalam kekacauan dan kegelapan, sama seperti Abu Zubaida sebelumnya.
Di sebelahnya terbaring seorang pemuda dengan cedera dada serius. Di sebelah kanannya, dua orang baru saja dibunuh oleh pasukan “Israel”.
Ia merasakan kehangatan menjalar di punggungnya. Awidat pun menyadari, ia mengalami pendarahan hebat. Serpihan peluru tank mengenai paha kanannya, hampir memutuskan kakinya.
Meskipun terluka, Awidat mengubur kakinya di pasir untuk mencegah anjing-anjing liar, yang ia khawatirkan akan tertarik pada darahnya.bAwidat mengatakan ia lebih suka ditembak daripada diserang anjing.
“Setiap menit terasa seperti penderitaan kematian, siksaan yang hanya diketahui oleh Tuhan,” ujarnya.
Setelah dua jam, warga sipil di dekatnya mendengar tangisannya. Penyelamatan itu penuh dengan kesulitan.
Dengan ambulans dan kru pertahanan sipil yang dilarang memasuki wilayah tersebut oleh pasukan “Israel”, penduduk setempat harus memindahkannya sendiri, dengan sangat hati-hati.
Ia kehilangan kesadaran dua kali selama empat jam yang sulit itu.
Saat Awidat tiba di rumah sakit di waktu fajar, kadar hemoglobinnya telah turun menjadi tiga karena kehilangan banyak darah.
Dua puluh hari kemudian, ia masih menghadapi risiko kehilangan kakinya, dengan masa pemulihan yang panjang.
Kematian seketika
Sejak GHF yang kontroversial memulai mendistribusikan makanan terbatas di Gaza pada akhir Mei, pasukan “Israel” telah membunuh setidaknya 600 warga Palestina di lokasi-lokasi bantuan ini dan melukai lebih dari 4.000 orang.
Beberapa yang terluka, seperti Abu Zubaida dan Awidat, tidak terkena tembakan peluru, tetapi jatuh ke dalam sumur dalam yang rusak akibat bom “Israel”.
Dr Bara’ al-Attar, seorang dokter di unit perawatan intensif Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Ia menggambarkan peluang bertahan hidup yang suram akibat jatuh seperti itu.
“Cedera akibat jatuh ke dalam sumur-sumur ini sebagian besar memengaruhi kepala dan perut,” ujarnya.
“Delapan puluh hingga 90 persen kasus seperti itu mengakibatkan kematian seketika.”
Media lokal melaporkan bahwa setidaknya dua pencari bantuan telah meninggal setelah jatuh ke dalam sumur-sumur terbuka di wilayah Wadi Gaza.
Dr. Ismail Al-Thawabta, direktur jenderal Kantor Media Pemerintah yang berbasis di Gaza, mengatakan rencana respons tiga tahap telah disusun untuk mengatasi risiko tersebut. Rencana itu melibatkan koordinasi antara otoritas kota dan tim pertahanan sipil.
Namun, sebagian besar sumur yang terdampak terletak di zona berisiko tinggi, yang tidak dapat diakses tanpa koordinasi sebelumnya dengan pasukan penjajah.
Tanpa persetujuan tersebut, setiap upaya penyelamatan atau perbaikan, akan menghadapi risiko penargetan langsung, yang secara signifikan membatasi operasi di lapangan. (mus)
Sumber: MEE
