Lagi, ‘Israel’ Bunuh Jurnalis Palestina dan keluarganya dalam Serangan di Gaza

SALAM-ONLINE.COM: Serangan udara penjajah “Israel” mengakibatkan kematian seorang jurnalis perempuan Palestina, Walaa al-Jabari, beserta seluruh keluarganya di Kota Gaza pada Rabu (23/7/2025).
Dengan kematian Walaa al-Jabari, maka jumlah pekerja media yang terbunuh selama perang “Israel” di Gaza menjadi setidaknya 231 orang
Dilansir dari Middle East Eye (MEE), Kamis (24/7), Jabari, yang sedang hamil saat itu, gugur ketika rumahnya di kawasan Tal al-Hawa di barat daya Kota Gaza dibombardir.
Serangan itu juga membunuh suaminya, Amjad al-Shaer, dan empat anak mereka.
Laporan media lokal menyebut kekuatan ledakan itu begitu kuat sehingga mengeluarkan bayi yang belum waktunya lahir dari rahimnya.
Foto yang beredar di media sosial menunjukkan janin yang dibungkus kain kafan, meskipun belum dapat diverifikasi keasliannya secara independen.
Jabari bekerja sebagai editor surat kabar untuk beberapa media lokal dan merupakan salah seorang dari banyak jurnalis Palestina yang gugur dalam apa yang disebut oleh kelompok hak asasi manusia dan aktivis pers sebagai serangan terarah penjajah “Israel” terhadap jurnalis.
Kematiannya menambah jumlah total jurnalis yang gugur akibat serangan pasukan “Israel” sejak Oktober 2023 menjadi setidaknya 231 orang, demikian menurut Kantor Media Pemerintah Gaza.
Awal pekan ini, pasukan penjajah menembak mati jurnalis foto Tamer al-Zaanin dalam sebuah penggerebekan di dekat fasilitas Palang Merah di Rafah.
Dalam operasi yang sama, sebuah unit penyamaran “Israel” menahan Dr. Marwan al-Hams, direktur rumah sakit lapangan di Jalur Gaza.
‘Kejahatan Sistemik terhadap Jurnalis’
Kantor Media Pemerintah menyerukan kepada organisasi internasional dan komunitas internasional yang lebih luas untuk mengutuk apa yang digambarkannya sebagai “kejahatan sistematis terhadap jurnalis dan profesional media Palestina”.
“Kami juga menyerukan kepada mereka untuk memberikan tekanan yang serius dan efektif guna menghentikan kejahatan genosida, melindungi jurnalis dan pekerja media di Jalur Gaza, serta menghentikan pembunuhan terhadap mereka,” demikian pernyataan kantor tersebut.
“Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan rahmat, keridhaan, dan surga bagi seluruh rekan dan jurnalis kami yang gugur, serta memberikan kesabaran bagi keluarga mereka dan keluarga pers Palestina. Kami juga mendoakan kesembuhan yang cepat bagi seluruh jurnalis yang terluka.”
Perang genosida “Israel” di Gaza telah digambarkan sebagai “perang terburuk yang pernah ada” bagi para jurnalis, demikian sebuah laporan yang diterbitkan pada April oleh Watson Institute for International and Public Affairs.
Laporan berjudul “News Graveyards: How Dangers to War Reporters Endanger the World” itu menyatakan bahwa serangan “Israel” di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 telah “membunuh lebih banyak wartawan daripada gabungan jumlah korban Perang Saudara AS, Perang Dunia I dan II, Perang Korea, Perang Vietnam (termasuk konflik di Kamboja dan Laos), perang di Yugoslavia pada tahun 1990-an dan 2000-an, dan perang pasca-9/11 di Afghanistan”. (mus)