Di Momen HUT RI ke-80, Ustadz Fahmi Salim Luncurkan Buku ‘Petunjuk Manusia Pilihan’

SALAM-ONLINE.COM: Dua hari jelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 tahun, Al Fahmi Institute menggelar peluncuran dan bedah buku “Petunjuk Manusia Pilihan: Jalan Indonesia Mengakhiri Kegelapan” pada Jumat, 15 Augustus 2025.
Buku karya Terbaru Ustadz Fahmi Salim, Lc, MA ini digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional RI Jakarta, sekaligus menyambut Kemerdekaan Indonesia ke-80 tahun.
Tampil sebagai pembedah buku: Dr KH Amir Fath (pakar Tafsir Al-Qur’an), Dr Toni Rosyid (pengamat politik kebangsaan), Ibu Neno Warisman (budayawan nasional) dan Dr Ahmad Heryawan (anggota DPR RI).
Menteri Kebudayaan RI Dr Fadli Zon menyampaikan sambutan pengantar dalam acara peluncuran dan bedah buku ini lewat video.

Sementara apresiasi dalam tayangan video disampaikan oleh Prof Abdul Mu’ti (Mendikdasmen RI), Prof Atip Latipul Hayat (Wamendikdasmen), Ustadz Dr Abdul Somad, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Dr Zaitun Rasmin dan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.
HUT RI ke-80: Belajar dari Kisah Nabi, Membangun Bangsa yang Kuat, Pemimpin yang Tangguh
Dalam keterangan pers dari Al Fahmi Institute yang diterima redaksi, acara peluncuran dan bedah buku dalam suasana HUT Kemerdekaan RI ke-80 ini jadi momentum muhasabah nasional: Bangsa seperti apa yang telah kita bentuk? Pemimpin seperti apa yang telah kita lahirkan? Pertanyaan ini menuntut jawaban yang jujur, tajam dan berani.
Allah ﷻ memberikan jawaban itu sejak 14 abad lalu:
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman,”
(Q.s. Yūsuf [12]:111).

Sepertiga isi Al-Qur’an adalah kisah—bukan untuk hiburan, bukan dongeng pengantar tidur, tetapi manual hidup yang mengajarkan prinsip kepemimpinan, ketahanan, strategi perjuangan, dan cara membangkitkan umat dari kegelapan. Jika kisah ini tidak penting, ia tidak akan menempati porsi yang begitu besar dalam kitab suci.
Kisah yang Membangun Karakter, Bukan Hanya Mengharukan
Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam mengajarkan lembut hati kepada ayah, tetapi teguh melawan berhala. Nabi Nuh ‘Alaihissalaam menunjukkan kesabaran dakwah ratusan tahun, meski putranya menolak iman. Nabi Musa ‘Alaihissalaam mencontohkan keberanian melawan tirani meski dihadapkan pada kekuatan absolut Fir’aun.
Semua ini adalah potret kepemimpinan yang memadukan empati, visi, dan keberanian— tiga unsur yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini.

Kisah Sebagai Panduan Menghadapi Tirani
Sejarah para nabi adalah sejarah perlawanan terhadap ketidakadilan. Al-Qur’an tidak sekadar menceritakan kemenangan akhir, tetapi juga menggambarkan jalan terjal, pengkhianatan, ketakutan, dan pengorbanan yang harus dilalui.
Visi ini dipertegas oleh ulama seperti al-Kawākibī yang memaparkan strategi menghadapi tirani: membangkitkan kesadaran, mengikis ketakutan, dan menanamkan keyakinan bahwa kebenaran tidak akan dikalahkan oleh kekuatan batil.

Bangsa yang ingin bertahan bukan hanya perlu pemimpin yang pandai berjanji, tetapi pemimpin yang siap membayar harga kebenaran—sebagaimana para nabi membayar perjuangan mereka dengan nyawa, kesepian, bahkan pengasingan.
HUT RI ke-80: Momentum Memutus Rantai Kelemahan
Hari ini, kita masih melihat bangsa yang sering terjebak pada narasi instan, proyek mercusuar instan, mengagungkan tokoh karena popularitas, bukan integritas. Kisah para nabi menampar pola pikir ini: mereka mengajarkan bahwa kemajuan lahir dari kesabaran membangun fondasi moral, bukan sekadar proyek cepat jadi. Sat set sut camera on. Malah berakhir gigit jari dan kebangkrutan negara.
Dari Nabi Yusuf ‘Alaihissalaam kita belajar kepemimpinan yang membebaskan rakyat dari krisis pangan dengan visi jangka panjang.
Dari Nabi Sulaiman ‘Alaihissalaam, kita belajar kepemimpinan yang memadukan kekuatan militer dan diplomasi.
Dari Nabi Muhammad ﷺ, kita belajar membangun peradaban dari nol, dimulai dari pembentukan karakter sahabat satu per satu.

Kisah sebagai Bahan Bakar Perubahan
Buku “Petunjuk Manusia Pilihan” ini mengemas 33 kisah nabi dan rasul serta dua refleksi tentang menghadapi kekuasaan tiran, bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai peta jalan untuk menyalakan obor perubahan di negeri ini.
Inilah bahan bakar moral yang harus kita suntikkan ke dalam jiwa bangsa, agar kemerdekaan yang kita rayakan tidak hanya menjadi peringatan rutin, tetapi pernyataan tegas bahwa kita siap menjadi bangsa berkarakter dan berdaulat sepenuhnya.
HUT RI ke-80 harus kita jadikan titik balik: dari bangsa yang mudah melupakan pelajaran sejarah, menjadi bangsa yang hidup dengan kesadaran sejarah. Kisah para nabi adalah kompas yang menuntun kita melewati badai global, krisis moral, dan ancaman perpecahan.
Kita tidak butuh sekadar pemimpin populer narsistik ala ala pencitraan. Kita butuh Ibrahim ‘Alaihissalaam yang tegas, Yusuf ‘Alaihissalaam yang visioner, Musa ‘Alaihissalaam yang berani, dan Muhammad ﷺ yang membangun peradaban.
“Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang merdeka di atas kertas, tapi bangsa yang berjiwa merdeka, berkarakter kuat, dan dipimpin oleh orang-orang yang takut hanya kepada Allah.” []