Pasukan Penjajah Kembali Bunuh Jurnalis dalam Serangan di Rumah Sakit Nasser Gaza
SALAM-ONLINE.COM: Pasukan penjajah “Israel” kembali membunuh jurnalis dalam dua kali serangan di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Senin (25/8/2025).
Dua jurnalis Middle East Eye (MEE), Mohammad Salama dan Ahmad Abu Aziz, adalah dua di antara beberapa jurnalis dan warga Palestina yang gugur dalam serangan brutal penjajah tersebut.
Pasukan teroris zionis “Israel” membombardir lantai empat rumah sakit tersebut sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Beberapa saat kemudian, menurut video yang dilihat MEE, pasukan penjajah itu menembakkan rudal kedua secara sengaja ke arah wartawan, warga sekitar, dan petugas tanggap darurat yang berkumpul untuk membantu mengevakuasi korban gugur dan terluka.
Pada saat serangan terjadi, video menunjukkan asap mengepul dari lantai atas rumah sakit ketika petugas penyelamat, yang berdiri di atas tangga, meminta bantuan kepada mereka yang berada di lantai dasar.
Kemudian rudal kedua menghantam area tempat di mana mereka berkumpul. Seorang koresponden televisi Al-Ghad Yordania berteriak dalam siaran langsung. Ia meneriakkan bahwa orang-orang tak bersalah telah dibunuh!

Setidaknya tiga wartawan lainnya termasuk di antara 19 warga Palestina yang gugur dalam serangan itu. Ketiga wartawan itu adalah Mariam Abu Dagga, seorang reporter wanita bekerja lepas pada beberapa media seperti Associated Press (AP); Hussam al-Masri, seorang jurnalis foto di kantor berita Reuters; dan reporter lepas Moaz Abu Taha.
Salama, yang mulai bekerja di MEE tak lama setelah teroris zionis melancarkan serangan genosida di wilayah kantong yang terkepung tersebut, juga berkontribusi untuk beberapa media lain secara lepas, terutama Al Jazeera Arabic dan Al Jazeera Mubasher (tayangan real-time 24 jam).
Salama juga membuat laporan rutin untuk MEE dan meliput pengepungan “Israel” di Rumah Sakit Nasser pada Januari 2024. Liputan lainnya tentang kehebohan atas film dokumenter BBC yang kini telah ditarik, Gaza: How to Survive a War Zone, dan pembunuhan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang lemah, Abdulrahim ‘Amir’ al-Jarabe’a, di sebuah lokasi distribusi bantuan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) dukungan AS dan “Israel” pada Mei lalu
Akhir pekan lalu, Salama membahas rencana liputan dengan kepala produksi video MEE, Khaled Shalaby, tentang Kejahatan “Israel” yang sengaja membuat lapar warga Gaza. Salama juga membahas apa yang ia, bersama rekannya, Hala Asfour, sesama jurnalis, rencanakan untuk liputan pada pekan mendatang.
Dalam pembicaraan melalui telepon itu Salama mengatakan bahwa ia khawatir menjadi sasaran pasukan “Israel” menyusul pembunuhan terhadap koresponden Al Jazeera Arabic, Anas al-Sharif dan beberapa kru-nya baru-baru ini.
Militer teroris zionis sendiri, tanpa menunjukkan bukti apapun, mengklaim, bahwa penjajah itu membunuh al-Sharif karena ia “bertugas sebagai kepala sel teroris di organisasi teroris Hamas”.
Sejak “Israel” melancarkan perang genosida di wilayah kantong tersebut pada Oktober 2023, penjajah itu secara rutin dan terus menerus menuduh jurnalis Palestina di Gaza sebagai anggota Hamas dan bagian dari apa yang disebut kelompok hak asasi manusia sebagai upaya untuk mendiskreditkan laporan mereka tentang pelanggaran “Israel”.
Sementara itu, Abu Aziz, adalah seorang jurnalis lepas yang berbasis di Khan Younis. Ia telah berkontribusi pada puluhan laporan untuk MEE sejak genosida “Israel” di Gaza dimulai pada Oktober 2023.
Abu Aziz terus memperbarui meja berita MEE dengan laporan dari wilayah kantong tersebut, meskipun menderita cedera punggung serius yang tidak ditangani akibat perang.
David Hearst, pemimpin redaksi Middle East Eye, menyebut Salama dan Abu Aziz sebagai “jurnalis yang luar biasa”. Hearst mengatakan mereka bekerja dalam “kondisi yang hampir mustahil” sebelum mereka “dibunuh” oleh pasukan teroris”Israel”.
“Israel tidak bisa menyembunyikan kebenaran genosida yang dilancarkannya di Gaza, jadi mereka membunuh sebanyak mungkin orang yang merekam setiap serangan,” ujarnya.
“Apa yang dilakukan “Israel” di Gaza adalah terorisme yang dipraktikkan oleh suatu negara. Dengan membunuh sebanyak mungkin warga sipil dan non-kombatan, menargetkan rumah sakit, petugas tanggap darurat, dan jurnalis, mereka berusaha meneror warga Palestina agar melarikan diri ke luar negeri.
“Hal itu tidak boleh dan tidak bisa dibiarkan berhasil. Setiap bangsa yang menyebut dirinya beradab harus menghentikannya.”
Kepala Biro MEE di Yerusalem, Lubna Masarwa, mengatakan bahwa ia sangat terkejut atas pembunuhan para jurnalis tersebut. Masarwa mengatakan bahwa Abu Aziz, yang selalu ia hubungi, memiliki “kecintaan yang mendalam terhadap kehidupan”.
“Kisah-kisahnya luar biasa, sekaligus sangat mendalam,” ujarnya. “Ia memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang lain dan menggambarkannya secara detail.
“Ia memiliki ambisi, keras kepala, dan terus berjuang. Ia mengajari saya bahwa saya tidak boleh berhenti bekerja di Gaza.”
Tak lama setelah serangan hari Senin, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, mendesak masyarakat internasional untuk menjatuhkan sanksi kepada “Israel”.
“Tim penyelamat gugur saat bertugas. Pemandangan seperti ini terjadi setiap saat di Gaza, seringkali tak terlihat, sebagian besar tidak terdokumentasi,” tulisnya.
“Saya mohon kepada negara-negara: berapa banyak lagi yang harus disaksikan sebelum Anda bertindak untuk menghentikan pembantaian ini? Hancurkan blokade. Berlakukan Embargo Senjata. Berlakukan Sanksi,” serunya.

Lebih dari 200.000 warga Palestina telah terbunuh atau terluka sejak teroris “Israel” melancarkan perang di Gaza pada Oktober 2023. Laporan terbaru, berdasarkan data intelijen militer penjajah itu menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen dari mereka yang terbunuh di wilayah kantong tersebut hingga Mei tahun ini adalah warga sipil.
Perang genosida penjajah “Israel” digambarkan sebagai “perang terburuk yang pernah ada” bagi para jurnalis, demikian menurut sebuah laporan yang diterbitkan pada April lalu oleh Watson Institute for International and Public Affairs.
Laporan yang berjudul “News Graveyards: How Dangers to War Reporters Endanger the World” itu menyatakan bahwa serangan penjajah”Israel” di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 telah “membunuh lebih banyak jurnalis daripada gabungan Perang Saudara AS, Perang Dunia I dan II, Perang Korea, Perang Vietnam (termasuk konflik di Kamboja dan Laos), perang di Yugoslavia pada tahun 1990-an dan 2000-an, serta perang pasca-9/11 di Afghanistan”.
Dalam sebuah pernyataan, the Foreign Press Association, mendesak “penjelasan segera” dari militer “Israel” dan menyebut serangan dua kali di Rumah Sakit Nasser tersebut sebagai “salah satu serangan paling mematikan terhadap jurnalis yang bekerja untuk media internasional sejak perang Gaza dimulai”.
Mereka mengatakan serangan itu “datang tanpa peringatan” dan menghantam tangga depan rumah sakit “tempat para jurnalis sering kali menempatkan diri dengan kamera mereka”. (mus)