Surat Wasiat Jurnalis Al Jazeera Anas Al Sharif Sebelum Dibunuh Pasukan ‘Israel’

SALAM-ONLINE.COM: Jurnalis Al Jazeera di Gaza, Palestina, Anas Al Sharif meninggalkan sebuah wasiat dan pesan yang dalam sebelum dibunuh oleh pasukan penjajah “Israel” pada Ahad malam (10/8/2025).
Dalam pesan terakhirnya yang telah ia bayangkan, Al Sharif bersumpah untuk menjadi corong yang teguh bagi rakyat Palestina. Bahkan dalam menghadapi kematian…
Wasiat tersebut ditulis pada April tahun ini dan diunggah oleh tim adminnya di X setelah pembunuhannya.
Middle East Eye (MEE), Senin (11/8) mengunggah ulang pernyataan tersebut:
Ini adalah wasiat saya dan pesan terakhir saya. Jika kata-kata ini sampai kepada Anda, ketahuilah bahwa “Israel” telah berhasil membunuh saya dan membungkam suara saya.
Pertama-tama, semoga Allah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya. Allah tahu bahwa saya telah mengerahkan segenap daya dan upaya untuk menjadi penopang dan penyambung lidah bagi kaum saya, sejak saya membuka mata terhadap kehidupan di lorong-lorong dan jalanan kamp pengungsi Jabalia. Harapan saya adalah Allah memperpanjang umur saya agar saya dapat kembali bersama keluarga dan orang-orang terkasih ke kota asal kami, Asqalan (Al-Majdal) yang diduduki. Namun, kehendak Allah lebih utama, dan ketetapan-Nya adalah mutlak.
Saya telah mengalami penderitaan dalam segala detailnya, merasakan penderitaan dan kehilangan berkali-kali, namun saya tak pernah ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau pemalsuan — agar Allah menjadi saksi bagi mereka yang tetap diam, mereka yang menerima pembunuhan kami, mereka yang mencekik nafas kami, dan yang hatinya tak tergerak oleh sisa-sisa anak-anak dan perempuan kami yang berserakan, tanpa melakukan apa pun untuk menghentikan pembantaian yang telah dihadapi kaum kami selama lebih dari satu setengah tahun.
Kupercayakan Palestina padamu — permata mahkota dunia Muslim, detak jantung setiap orang merdeka di dunia ini.
Kupercayakan rakyatnya padamu, anak-anaknya yang terzalimi dan tak berdosa yang tak pernah punya waktu untuk bermimpi atau hidup aman dan damai. Tubuh mereka yang suci remuk di bawah ribuan ton bom dan rudal “Israel”, terkoyak dan berserakan di dinding-dinding.
Kumohon jangan biarkan rantai membungkammu, atau batas-batas mengekangmu. Jadilah jembatan menuju pembebasan negeri dan rakyatnya, hingga mentari martabat dan kebebasan terbit di atas tanah air kita yang dirampas.
Kupercayakan padamu untuk mengurus keluargaku. Kupercayakan padamu putriku tercinta, Sham, cahaya mataku, yang tak pernah kulihat tumbuh dewasa seperti yang kuimpikan. Kupercayakan padamu putraku tersayang, Salah, yang ingin kudukung dan dampingi sepanjang hidup hingga ia cukup kuat untuk memikul bebanku dan melanjutkan misi.
Kutitipkan padamu ibuku tercinta, yang doa-doanya penuh berkah telah membawaku ke tempatku berada saat ini, yang doanya menjadi bentengku, dan yang cahayanya membimbing jalanku. Kudoakan semoga Allah memberinya kekuatan dan membalasnya dengan pahala yang terbaik untukku.
Kutitipkan pula padamu pendamping hidupku, istriku tercinta, Ummu Salah (Bayan), yang telah terpisah dariku selama berhari-hari dan berbulan-bulan lamanya karena perang. Namun, ia tetap setia pada ikatan kami, seteguh batang pohon zaitun yang tak pernah goyah—sabar, tawakkal kepada Allah, dan memikul tanggung jawab saat aku tiada dengan segenap kekuatan dan imannya.
Kumohon padamu untuk berdiri di samping mereka, menjadi penopang mereka setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika aku mati, aku mati dengan teguh di atas prinsip-prinsipku. Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa aku ridha dengan takdir-Nya, yakin akan pertemuan dengan-Nya, dan yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan abadi.
Ya Allah, terimalah aku di antara para syuhada, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, dan jadikanlah darahku cahaya yang menerangi jalan kebebasan bagi umat dan keluargaku.
Maafkanlah aku jika aku telah berbuat salah, dan doakanlah aku dengan penuh belas kasihan, karena aku telah menepati janjiku dan tidak pernah mengubahnya atau mengkhianatinya.
Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan aku dalam doa-doa tulus kalian.
Anas Jamal Al-Sharif 06.04.2025