Biadab! Milisi RSF Ambil Paksa Darah Para Warga Sudan yang Coba Melarikan Diri dari El-Fasher

SALAM-ONLINE.COM: Dengan syal yang melilit erat di matanya agar tidak bisa melihat, para pemberontak Pasukan Pendukung Cepat (RSF) menusukkan jarum suntik ke tangan Adam dan dengan paksa mengambil darahnya.
“Saya tidak tahu berapa banyak yang mereka ambil,” ujar warga Sudan berusia 35 tahun itu kepada Middle East Eye (MEE).
Adam adalah warga sipil Sudan dari el-Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara yang direbut Rapid Support Forces (RSF) dukungan UEA dan “Israel” pada akhir Oktober lalu.
“Saya takut mereka akan mengambil semuanya (darah) dan saya akan mati. Namun saya tidak punya cara untuk melawan atau melarikan diri. Saya diikat dan ada tentara di luar, membawa senjata dan siap membunuh siapa pun.”
Dalam proses merebut el-Fasher, yang telah dikepung selama lebih dari 550 hari, pasukan paramiliter RSF dengan biadab dan brutalnya memperkosa, mengeksekusi, dan menyandera sejumlah besar warga sipil.
Perang antara RSF dan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF), yang dimulai pada April 2023 lalu, telah mengusir sepertiga penduduk Sudan dari rumah mereka. Peristiwa ini dianggap sebagai bencana kemanusiaan terbesar di dunia.
Minni Minnawi, mantan komandan pemberontak RSF dan gubernur Darfur, yang kini berpihak pada SAF, mengungkapkan pekan ini bahwa RSF membunuh setidaknya 27.000 orang dalam tiga hari di el-Fasher pada akhir Oktober lalu
Setelah wawancara dengan beberapa korban, saksi mata, petugas bantuan, dan sumber diplomatik, MEE mengungkapkan bahwa milisi pemberontak RSF dengan biadabnya mengambil darah warga sipil secara paksa di Darfur Utara.
Adam, yang terpaksa menggunakan nama lain karena alasan keamanan, ditangkap oleh para pejuang RSF pada 26 Oktober lalu di dekat bandara el-Fasher. “Mereka menempatkan kami di salah satu rumah sakit, lalu memindahkan kami ke rumah komandan, tempat kami tinggal selama seminggu,” ujarnya.
Selama masa penahanannya, pemberontak RSF mengambil darahnya. “Setelah mereka selesai mengambil darah saya, setelah waktu yang sangat lama mereka mengizinkan saya keluar dari ruangan,” katanya.
Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak sendirian, dan rumah tempat ia ditawan dijadikan sebagai bank darah darurat.
“Saya melihat kontainer-kontainer penuh darah di tempat yang tampak seperti klinik kecil. Ada banyak tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai. Tentara RSF mengambil darah dari para korban, yang merupakan orang-orang yang melarikan diri dari el-Fasher,” kata Adam. Ia menghitung lebih dari 50 orang yang menjadi sasaran (korban).
Alaaeldin Nugud, juru bicara Tasis, sayap politik RSF, membantah telah mengambil darah dari warga sipil. Ia mengklaim telah ada “banyak kebohongan dan tuduhan” sejak el-Fasher diambil alih.
Ia menuduh ada “kampanye media palsu” sedang dipromosikan terkait kekejaman di el-Fasher, termasuk tuduhan pengambilan organ.
Di rumah komandan (RSF), Adam mengatakan, bahwa ia dan puluhan orang lain yang ditawan RSF dipaksa memasak, membersihkan, dan mencuci pakaian untuk para tentara pemberontak.
“Setelah kami selesai bekerja hari itu, mereka menahan saya di dalam kamar mandi kecil yang kotor bersama satu orang lain yang tidak saya kenal. Kami harus berdiri sampai pagi karena kamar mandinya sangat kecil.”
Setelah seminggu ditawan, ia diberitahu, seperti banyak tawanan RSF lainnya, bahwa jika ia ingin dibebaskan, ia harus membayar uang tebusan.
Namun, ia tahu bahwa mendapatkan uang tebusan mungkin tidak berarti kebebasan. Orang lain yang telah mendapatkan uang tebusan diminta untuk membayar lagi. “Pada titik ini, saya dan dua orang lainnya memutuskan untuk melarikan diri. Maka dalam satu hari kami menggunakan malam itu untuk keluar dari toilet dan melarikan diri,” kata Adam.
“Perjalanan itu sulit karena kami harus berjalan berjam-jam di malam hari dan kami semua sangat lelah karena pendarahan dan makanan buruk yang terpaksa kami makan,” tuturnya kepada MEE.
Adam pingsan berkali-kali di jalan, tetapi ia dan kedua rekannya berhasil sampai di Tawila, sebuah kota di sebelah barat el-Fasher yang kini menampung 650.000 warga sipil dan lebih dari 300 pekerja bantuan asing. Dari sanalah ia mengungkapkan pengalaman buruknya kepada MEE.
Darah di Jalan
Pengambilan darah tidak terbatas pada pusat-pusat penahanan darurat di kota el-Fasher.
Korban dan petugas bantuan lainnya memberi tahu bahwa tentara RSF menangkap orang-orang di jalan dari el-Fasher ke Tawila dan mengambil paksa darah mereka saat itu juga.
“Saya ditangkap bersama dua sepupu saya saat kami melarikan diri ke Tawila,” kata seorang warga Sudan di el-Fasher, yang, untuk alasan keamanan, tidak ingin disebutkan namanya.
“Mereka mengikat kami dengan tali dan mengambil paksa darah kami. Mereka membawa alat-alat itu dan membawa serta unit ambulans kecil di dalam kendaraan militer yang mereka gunakan,” kata korban.
“Mereka tertawa saat mengambil darah, sambil berkata kepada kami, ‘Kalian budak, jangan khawatir, kalian tidak akan mati, kami membutuhkan ini untuk tentara kami’.”
Ahmad, seorang guru sekolah asal Sudan, mengatakan kepada MEE melalui telepon bahwa pada tanggal 27 dan 28 Oktober, ia melihat pemberontak RSF “mengambil darah dari beberapa warga sipil dan bahkan personel militer (tentara pemerintah/SAF) yang ditangkap bersama kami”.
“Sungguh brutal melihatnya. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan darah itu, tetapi saya pikir mereka menyimpannya untuk para tentara mereka yang terluka,” katanya.
Ahmad dan sekitar 450 warga sipil lainnya, termasuk perempuan, lansia, dan anak-anak, ditahan di sekolah al-Shahid Siraj selama sekitar tiga hari.
“Itu terjadi setelah kami mencoba melarikan diri dari kota ke selatan dan kemudian ke barat sejak dini hari tanggal 26 Oktober,” katanya. “Saya dan sepupu-sepupu saya sedang bergerak di kota di tengah kebakaran hebat. Kami melihat orang-orang sekarat, mayat-mayat tergeletak di jalanan, baik yang meninggal maupun terluka. Seseorang memohon bantuan kami, tetapi kami tidak dapat membantunya.”
Pada saat-saat itu, Ahmad sedih dan takut. “Tetapi semua orang melarikan diri, tidak ada yang peduli selain melarikan diri dari neraka itu.” Pada suatu saat, ketika ia, sepupu-sepupunya, dan teman-temannya mencoba pergi ke barat, RSF muncul dengan puluhan kendaraan untuk mencegah warga sipil itu melarikan diri.
“Itulah salah satu momen di mana kami menyadari bahwa ini adalah genosida,” kata Ahmad.
Dari sekolah, Ahmad dipindahkan ke rumah seorang komandan RSF, tempat para tentara pemberontak memerasnya bersama sepupu-sepupunya, meminta mereka membayar uang tebusan.
“Kami sepakat dengan tentara RSF untuk membayar sekitar 20 juta pound Sudan (lebih dari $7.000) untuk saya dan dua orang lainnya,” ujar Ahmad.
“Ketika mereka setuju untuk membebaskan kami, kami meminta mereka untuk mengizinkan kami kembali ke sekolah untuk mengambil barang bawaan kami, tetapi ketika kami tiba di sana, kami mendapati bahwa 400 orang yang kami tinggalkan tidak ada di sana.”
Ketika Ahmad bertanya kepada seorang milisi RSF di mana warga sipil itu berada, ia diminta untuk tidak bertanya lagi. “Saya menyadari RSF telah membunuh mereka,” katanya.
‘Tindakan paling brutal’
Sumber lain, termasuk pekerja bantuan lokal dan internasional serta organisasi yang memantau perang Sudan, mengonfirmasi bahwa RSF telah mengambil darah dari warga sipil di Darfur Utara.
Seorang pekerja bantuan Sudan, yang telah bekerja di Darfur selama bertahun-tahun, mengatakan bahwa ia telah menyaksikan banyak kasus anak muda yang menderita karena pengambilan darah secara paksa.
“Ini adalah salah satu tindakan RSF yang paling brutal,” ujarnya.
“Mereka menahan orang-orang yang mencoba melarikan diri dari el-Fasher dan mengambil darah mereka. Penculikan ini juga terjadi di sepanjang jalan. Mereka menderita karena pengambilan darah mereka haus, lapar, dan telah menyaksikan kekejaman yang tak terlupakan.”
Seorang pekerja bantuan internasional, yang tidak dapat disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan bahwa sebelum jatuhnya el-Fasher pada akhir Oktober, mereka telah menyaksikan kasus-kasus pengambilan darah oleh pasukan RSF di Zamzam, sebuah kamp untuk pengungsi.
“Kami mendengar bahwa insiden-insiden ini berulang setelah jatuhnya el-Fasher… Kami tidak dapat melacak banyaknya pelanggaran yang terus terjadi di dalam dan sekitar el-Fasher,” kata pekerja bantuan tersebut. (is)