Tontonan Menjijikkan: Ketika Kue Ulang Tahun Berubah Menjadi Perayaan Genosida

Ayala, istri Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Penjajah, memberikan kue ulang tahun berbentuk tali gantungan, setelah pengesahan UU hukuman  mati bagi tahanan Palestina. (Reuters)

SALAM-ONLINE.COM: Orang macam apa yang merayakan ulang tahunnya dengan kue yang dihiasi tali gantungan? Manusia macam apa yang dengan bangga menampilkan simbol eksekusi sebagai dekorasi perayaan?

Jawabannya adalah Itamar Ben-Gvir, menteri keamanan penjajah “Israel”. Ia merayakan ulang tahunnya yang ke-50 pada 3 Mei 2026 dengan tontonan yang menjijikkan dan mengerikan.

Istri Ben-Gvir, Ayala, seperti dilansir The New Arab, memberinya kue besar tiga tingkat yang dihiasi tali gantungan emas. Kue lainnya menampilkan dua pistol yang mengarah ke peta wilayah Palestina yang diduduki/dijajah. Ini bukanlah dekorasi yang polos; ini adalah perayaan kematian dan dehumanisasi.

Bagi yang belum tahu, tali gantungan tersebut mewakili undang-undang rasis “Israel” yang baru saja disahkan. Undang-undang itu mewajibkan hukuman mati bagi tahanan Palestina.

Sementara pistol-pistol tersebut mewakili kebijakan kriminalnya yang telah membanjiri para pemukim ilegal “Israel” dengan senjata untuk membunuh warga Palestina dan merusak properti mereka secara bebas.

Cuplikan layar dari video yang beredar di internet menunjukkan istri Itamar Ben-Gvir, yaitu Ayala, memberikan kue kepadanya yang dihiasi dengan tali gantungan emas, beserta teks Ibrani yang berbunyi:  “Selamat Menteri Ben-Gvir. Terkadang mimpi menjadi kenyataan”. Gambar tersebut dikatakan berasal dari Emunim, “Israel”, pada 2 Mei 2026.

“Mimpi” pria ini, yang secara terang-terangan ditampilkan di kue ulang tahunnya, adalah mengeksekusi warga Palestina, semata-mata berdasarkan identitas mereka dan tidak lebih dari keberadaan mereka sebagai bangsa yang melawan pendudukan ilegal.

Tindakan Ben-Gvir yang kurang ajar, serta perilaku banyak pejabat “Israel” lainnya, telah melampaui semua batasan yang diasosiasikan orang waras dengan para pemimpin fasis mengerikan di abad lalu dan sebelumnya, di tengah keheningan yang memekakkan telinga dari komunitas dunia. Termasuk lembaga-lembaga yang memegang mandat untuk melindungi umat manusia dari orang-orang yang berpikiran jahat, seperti Ben-Gvir.

Kue ulang tahun tiga tingkat yang dihiasi tali gantungan emas. Kue lainnya menampilkan dua pistol yang mengarah ke peta wilayah Palestina yang diduduki/dijajah. Ini bukanlah dekorasi yang polos; ini adalah perayaan kematian dan dehumanisasi.

Catatan kelam nafsu berdarah

Untuk memahami kengerian penuh dari momen ini, seseorang harus memahami siapa Itamar Ben-Gvir sebenarnya, karena ini bukanlah insiden terisolasi. Ini adalah babak terbaru dalam karir yang ditandai dengan rasisme, hasutan, kebencian, dan haus darah Palestina yang tak terpuaskan, karena ia adalah seorang pengacara yang memperoleh reputasi buruknya dari membela teroris Yahudi yang dituduh melakukan kejahatan terhadap Palestina.

Ben-Gvir begitu ekstrem sehingga ia dibebaskan dari wajib militer karena latar belakang politiknya yang ekstrem dan rasis. Bayangkan paradoks ini: militer “Israel” yang selalu agresif terhadap Palestina dan baru-baru ini melakukan genosida besar-besaran di Gaza, menolak wajib militernya.

Sepanjang hidupnya, 53 dakwaan kriminal telah diajukan terhadapnya atas tuduhan “kebencian, menghasut, dan rasisme”. Ia dihukum pada tahun 2007 atas tuduhan “rasisme dan mendukung organisasi teroris”. Ia pernah menjadi anggota gerakan Kahanis, sebuah organisasi rasis yang dilarang oleh “Israel” sendiri dan ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat.

Namun, Ben-Gvir, bersama dengan tokoh-tokoh Kahanis lainnya seperti Menteri Keuangan penjajah Bezalel Smotrich, yang bersaing dengannya dalam hal siapa yang dapat memperkenalkan kebijakan dan tindakan terburuk terhadap Palestina, telah menemukan jalan melalui sistem genosida “Israel” untuk mengarahkannya kepada kekerasan dan fasisme yang lebih besar.

Perilakunya sebagai pejabat penjajah sesuai dengan citra ekstremisnya. Pada Februari 2026, hanya beberapa hari sebelum bulan Ramadhan – bulan suci umat Islam – Ben-Gvir menyerbu Penjara Ofer di Tepi Barat yang diduduki/dijajah.

Rekaman video menunjukkan dia mengawasi pasukan represif penjara yang menyerang dan mempermalukan tahanan yang tidak berdaya serta menyeret mereka secara brutal dari sel mereka dengan tangan terikat di belakang punggung.

Saat menyaksikan kejadian itu, dia menyatakan, “Saya menginginkan satu hal lagi: mengeksekusi mereka, hukuman mati untuk teroris.”

Menteri Keamanan penjajah “Israel” Itamar Ben-Gvir (tengah) dan istrinya Ayala, bereaksi pada hari Mahkamah Agung mendengarkan petisi yang berupaya memaksa Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu untuk menmecat Ben-Gvir. Yerusalem Barat, 15 April 2026 (Reuters)
Baca Juga

Rezim (Penjajah) yang Menjamin Impunitas

Pesta ulang tahun Ben-Gvir bukanlah acara keluarga pribadi seperti yang secara terbuka ia rencanakan untuk memamerkan kue kebenciannya. Daftar tamu berbicara sendiri; termasuk banyak pejabat tinggi dan senior dalam rezim penjajah “Israel” seperti Menteri Pertahanan Penjajah, Katz, Ketua Knesset (Parlemen) penjajah Amir Ohana, Menteri Pendidikan Penjajah Yoav Kisch, Menteri Energi Penjajah Eli Cohen, bersama komandan polisi senior, pejabat layanan penjara, dan tokoh sayap kanan yang semuanya memiliki pandangan dan ekstremisme yang sama dengan Ben-Gvir.

Dekorasi kue ulang tahunnya disetujui oleh rezim penjajah; itu adalah simbol dari realitas yang lebih luas yang diterapkan selama beberapa tahun terakhir. Di bawah kepemimpinan Ben-Gvir, yang dimulai ketika Perdana Menteri penjajah Benjamin Netanyahu membawanya ke tampuk kekuasaan pada Desember 2022, dimana kekerasan pemukim di Tepi Barat lebih meluas dan memasuki tingkat berbahaya.

Sungguh, sebuah era yang benar-benar mengancam keberadaan bangsa Palestina di tanah mereka sendiri. Kebijakannya telah membanjiri permukiman ilegal di seluruh Tepi Barat yang diduduki/dijajah dengan senjata.

Retorikanya telah mendorong kelompok-kelompok ekstremis untuk bertindak impunitas (tanpa hukum). Dan undang-undang hukuman mati yang disahkan pada Maret 2026, melembagakan rasisme yang justru dirayakan oleh kue ulang tahun Ben-Gvir..

Undang-undang itu, seperti dicatat oleh lembaga pengawas PBB, belum pernah terjadi sebelumnya dalam desainnya: sistem hukuman mati yang hanya berlaku untuk satu populasi di bawah pendudukan/penjajahan.

Undang-undang itu tidak berlaku untuk warga “Israel” yang membunuh warga Palestina. Undang-undang itu hanya berlaku untuk warga Palestina yang dianggap bersalah atas “terorisme” di pengadilan militer yang tidak memiliki standar persidangan yang adil.

Pesta ulang tahun Ben-Gvir sebenarnya, adalah manifesto rezim penjajah yang mengirimkan pesan yang jelas kepada komunitas dunia: garis merah kemanusiaan yang disepakati secara global tidak berlaku untuk “Israel”. Ini adalah penentangan langsung terhadap dunia, yang secara terbuka mengatakan: “Kami berada di atas hukum dan di luar pertanggungjawaban.”

Memalukan bagi kemanusiaan

Pemimpin politik macam apa yang merayakan kematian orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya? Manusia macam apa yang melihat tali gantungan, alat eksekusi, dan tersenyum? Masyarakat macam apa yang mentolerir pejabatnya, yang menjadikan pembunuhan yang disponsori “rezim negara” sebagai tema ulang tahun?

Jawabannya adalah rezim yang telah kehilangan kompas moralnya dan meninggalkan parameter dasar nilai-nilai kemanusiaan yang disepakati secara global.

Meskipun rezim penjajah “Israel’ memikul tanggung jawab langsung atas naiknya “tokoh-tokoh” yang berpikiran jahat dan fasis tersebut ke tampuk kekuasaan, komunitas internasional juga turut bertanggung jawab, karena telah terlalu lama mengabaikan praktik rasis “Israel” terhadap rakyat Palestina, yang mendorong rezim tersebut untuk melakukan tindakan biadab dan penghinaan terhadap kemanusiaan..

Hingga Juni 2025, beberapa negara, termasuk Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, Norwegia, Belanda, dan Spanyol, memberlakukan sanksi dan larangan perjalanan terhadap Ben-Gvir. Namun, hal ini masih jauh dari efektif dalam mengubah arah kebijakan rasis yang diadopsi oleh rezim penjajah itu.

Ini bukan sekadar tentang Ben-Gvir atau Smotrich; Ini tentang sebuah sistem utuh yang menghina kemanusiaan dan mengejek hukum internasional di bawah pengawasan dunia.

Sebelum kita melihat pengadilan internasional bereaksi dan memenuhi tugas mereka, berapa banyak lagi tali gantungan yang harus dipajang? Berapa banyak lagi kue yang harus dihiasi dengan simbol kematian? Berapa banyak lagi warga Palestina yang harus dieksekusi sebelum dunia berhenti memperlakukan orang ini sebagai tokoh politik yang sah dan mulai memperlakukannya sebagaimana adanya: seorang rasis, haus darah, dan aib bagi umat manusia?

Kue ulang tahun Ben-Gvir bukan untuk dimakan atau dirayakan. Kue itu secara terang-terangan dimaksudkan sebagai penobatan kemerosotan moralnya dan perwujudan bagaimana umat manusia dilanda mentalitas yang sakit seperti itu.

Yang terburuk dari semua itu adalah dia ingin dunia menyaksikan ulang tahunnya dengan segenap pesannya, dengan lantang dan jelas. (ib)

Baca Juga