Pesawat tak Berawak RSF Serang Tempat Pengungsi Sudan, 2 Tewas, 17 Terluka
SALAM-ONLINE.COM: Sedikitnya dua orang tewas dan 17 lainnya luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak, ketika serangan pesawat tak berawak oleh Pasukan Pendukung Cepat (RSF) paramiliter menghantam tempat penampungan pengungsi di kota El-Obeid, Sudan selatan, kata sebuah kelompok medis, Senin (22/6/2026).
Dalam sebuah pernyataan yang dilansir Anadolu, Senin (22/6), Jaringan Dokter Sudan mengatakan serangan itu menargetkan tempat penampungan pengungsi terpadu di kota tersebut, melukai sembilan anak dan tiga perempuan di antara para korban.
Jaringan tersebut mengutuk apa yang mereka sebut sebagai penargetan yang disengaja terhadap warga sipil pengungsi, dan menyebut serangan terhadap tempat penampungan yang menampung orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan itu sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap hukum humaniter dan norma internasional.
Jaringan tersebut mengatakan serangan berkelanjutan di kota itu selama sepekan terakhir telah membahayakan warga sipil dan semakin memperburuk kondisi kemanusiaan.
Mereka mendesak komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan untuk bertindak melindungi warga sipil dan mendesak penghentian serangan terhadap situs-situs sipil.
Serangan itu terjadi ketika blok regional Afrika, Otoritas Antar Pemerintah untuk Pembangunan (IGAD), menyerukan penghentian segera serangan terhadap kota El-Obeid.
Selama hampir dua pekan, El-Obeid telah menyaksikan serangan pesawat tak berawak yang dituduhkan kepada RSF yang menargetkan pembangkit listrik utama, depot bahan bakar, dan fasilitas sipil lainnya, yang menyebabkan puluhan orang tewas dan terluka. Sementara RSF belum memberikan komentar atas tuduhan tersebut.
Bulan lalu, PBB memperingatkan tentang peningkatan serangan pesawat tak berawak di wilayah Kordofan Sudan, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut menewaskan sedikitnya 880 warga sipil antara Januari dan April tahun ini.
Sudan telah dilanda konflik sejak 2023, ketika pertempuran meletus antara tentara dan RSF atas rencana untuk mengintegrasikan pasukan paramiliter ke dalam militer. Perang tersebut telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan hampir 13 juta orang mengungsi. (af).
