Sebuah Catatan dari Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026

Oleh: M. Reza Prima Matondang (PPIH Sektor 10-2026)

SALAM-ONLINE.COM: Aroma kopi yang kuat menyeruak di antara hilir mudik jemaah di gerai kopi Half & Half atau yang biasa dikenal dengan 1/2 M, di pelataran Masjid Haram, Makkah.

Di akhir-akhir penugasan sebagai Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026, sudut gerai kopi ini menjadi tempat perlindungan singkat untuk melepaskan penat setelah selesai melaksanakan ibadah umrah.

Di sanalah kami, PPIH dari Sektor 10 kamar 1115, bertemu dengan seorang jemaah asal kota Bogor. Wajahnya ramah, guratan lelahnya paska umrah kalah oleh binar bahagia yang terpancar dari matanya. Kami terlibat dalam obrolan hangat.

Jamaah asal kota Bogor ini bercerita dengan antusias tentang pengalamannya mengikuti Haji Reguler tahun 2026 ini. “Bagi saya, haji tahun ini sukses luar biasa,” ujarnya sambil menghirup kopi di gerai kopi 1/2 M. “Tahun ini, saya benar-benar merasakan haji yang sesungguhnya.”

Kalimat itu menarik perhatian kami. Beliau kemudian berkisah bahwa beberapa tahun lalu, ia pernah menunaikan ibadah haji menggunakan jalur Khusus (ONH Plus). Berbekal pengalaman masa lalu itu, ia mencoba menimbang dan membandingkan kedua jalur ini secara objektif.

Di bawah naungan Kementerian Haji (Kemenhaj) yang baru, ia merasa fasilitas Haji Reguler 2026 sudah melompat jauh melampaui ekspektasi beliau. Layanan tenda, konsumsi, dan transportasi maktab dinilai setara dengan apa yang ia dapatkan dulu. Kenyamanan yang dirasakan jemaah reguler kini hampir tidak ada bedanya dengan jalur mahal ONH. Jalur khusus memang menang di durasi yang lebih cepat. Datang menjelang pelaksaan haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina. Namun dengan biaya jauh lebih tinggi, fasilitas yang didapat saat ini ternyata sama saja.

Mendengar testimoninya, saya tersenyum. Sebagai petugas, saya tahu persis bahwa pengalaman setiap manusia di tanah suci tidak akan pernah sama. Penafsiran, perasaan, dan cara mengecap dinamika haji adalah ruang yang sangat personal. “Semua itu kembali ke bagaimana kita melihatnya, Mas,” lanjut jemaah kota Bogor tersebut.

Baca Juga

Karena bagi sebagian orang, antrean panjang di depan toilet Muzdalifah atau Mina adalah sebuah penderitaan yang tidak ditolerir. Dapat memicu kemarahan dan keluhan yang tiada hentinya. Namun bagi sebagian yang lain, antrean itu dianggap sebagai ruang belajar bersabar—hal biasa yang lumrah terjadi saat jutaan manusia berkumpul di satu titik yang sama. Tentu beda orang, beda pula cara memaknainya.

Ucapan jemaah tersebut seketika melempar ingatan saya pada sebuah kejadian beberapa hari sebelumnya. Ketika kami di Mina. Saat itu, di puncak kepadatan kamar mandi di Mina, saya terpaksa mengantre sangat lama. Karena memang itu waktu puncak antrean kamar mandi. Tidak setiap saat dan menit. Akibat durasi antrean yang tak terbendung itu, saya tertinggal oleh tim PPIH yang sudah bergerak maju menuju Jamarat.

Jika dinilai secara hitam di atas putih, peristiwa tertinggalnya saya adalah sebuah “masalah”. Namun di tanah suci ini, makna sebuah kejadian selalu bergantung pada lensa hati yang kita gunakan: bisa dimaknai sebagai koordinasi yang buruk dan bisa juga dimaknai sebagai skenario indah dari Allah untuk memberikan waktu jeda, agar saya bisa membantu jemaah lain yang tercecer di jalan. Dan itu yang terjadi. Saya berulang kali memberikan bantuan kepada jamaah yang sedang berjuang berjalan bersama jutaan jamaah haji yang lain menuju jamarat.

Pertemuan di kedai kopi itu menyadarkan saya bahwa Haji Reguler 2026 di era Kemenhaj ini telah menorehkan prestasi yang luar biasa. Ikhtiar perbaikan fasilitas, ketepatan katering, dan zonasi transportasi sudah diupayakan seoptimal mungkin demi memuliakan para tamu Allah.

Tentu saja, tidak ada gading yang tak retak, tidak ada sistem dan ikhtiar manusia yang sempurna. Jika di sana-sini masih ditemukan kekurangan, antrean yang mengular, atau keterlambatan bus, maka hal itu adalah sesuatu yang sangat lumrah dalam mengelola jutaan nyawa di satu ruang dan waktu yang sama.

Kekurangan kecil adalah bumbu yang justru menyempurnakan rasa haji itu sendiri. Karena pada akhirnya, haji bukan tentang kemewahan hotel berbintang atau kecepatan durasi perjalanan. Haji yang sesungguhnya adalah tentang kesabaran untuk menerima setiap dinamika takdir-Nya dengan senyuman, persis seperti senyuman jemaah Bogor di sudut Half & Half sore itu.

Pada akhirnya, lembaran kisah di tanah suci selalu mengajarkan satu hal: haji adalah madrasah hati dan takwa. Setiap antrean yang menguji sabar dan setiap dinamika yang terjadi di lapangan bukanlah penentu gagalnya ibadah, melainkan ruang belajar bagi kita untuk memetik hikmah positif, meningkatkan kesabaran dan ketakwaan.

Ketika kita mampu melapangkan dada dan mensyukuri setiap ketetapan-Nya, di situlah kemabruran yang sejati mulai tumbuh. Menjadi jemaah reguler maupun khusus bukan lagi soal fasilitas dan durasi, melainkan tentang rasa syukur karena telah dipilih dan dimampukan untuk menyelesaikan ibadah suci ini dengan selamat dan bahagia. []

Baca Juga