Muhammadiyah dan ‘Salafi’: Mirip tapi Tak Sama

Catatan M. Reza Prima*

SALAM-ONLINE.COM: Bagi orang yang baru mengenalnya, dakwah kalangan “Salafi” dan dakwah Muhammadiyah bisa tampak seperti dua wajah dari semangat yang sama. Keduanya lahir dari kegelisahan yang serupa: keresahan terhadap praktik keagamaan yang dianggap telah bercampur dengan takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), serta keinginan untuk mengembalikan umat pada pemahaman Islam yang lebih murni, bersandar langsung pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Agung Danarto,. M.Ag mengakui adanya kemiripan akar genealogi ini, beliau menyebut bahwa baik Muhammadiyah maupun “Salafi” sama-sama dapat disebut sebagai bagian dari spirit gerakan purifikasi yang merujuk pada tokoh-tokoh seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah.

Kemiripan ini bukan kebetulan sejarah semata, melainkan berakar pada jalur intelektual yang benar-benar bersinggungan. KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, melalui dua kali perjalanan hajinya (1890 dan 1903), banyak menyerap pemikiran para pembaru dari Timur Tengah.

Koleksi bacaannya mencakup karya Muhammad ‘Abduh, gagasan Rasyid Ridha yang disebarkan lewat majalah Al-Manar, serta tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah tentang bid’ah. Yang menarik, tokoh yang sama, yaitu Rasyid Ridha, juga dikenal luas sebagai salah satu inspirator penting bagi kebangkitan pemikiran “Salafi” kontemporer, termasuk bagi ulama hadits seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Dengan kata lain, kedua gerakan ini pernah minum dari mata air pembaruan yang sama sebelum akhirnya mengalir ke arah yang berbeda. Perbedaan arah itulah yang kemudian menjadi sumber titik seteru dan gesekan di lapangan dakwah dan ruang sosial.

Baca Juga

Perbedaan metodologis ini, pada tataran lapangan dakwah, tidak selalu berhenti sebagai diskursus akademik yang adem-ayem. Sejumlah kajian mendokumentasikan bagaimana perbedaan ini berubah menjadi gesekan nyata. Riduwan dan Zaini Tamin AR, dalam penelitian mereka yang dipublikasikan di SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan (2020), mengungkap adanya resistensi dan bahkan konflik ketika sebagian dai “Salafi” berupaya masuk ke dalam institusi amal usaha Muhammadiyah di Sidoarjo melalui pola yang mereka istilahkan sebagai infiltrasi, agitasi, dan propaganda yang menawarkan gagasan alternatif sembari tetap mempertahankan ideologi “Salafi” mereka sendiri di dalam lembaga yang berbeda haluan metodologis.

Para peneliti ini merekomendasikan dua pendekatan penyelesaian bagi Muhammadiyah: pendekatan struktural melalui penegakan aturan organisasi, dan pendekatan intelektual melalui dialog ilmiah serta penegasan kembali manhaj Tarjih.

Gesekan serupa juga pernah mencuat ke ruang publik ketika seorang dai “Salafi” menuding metode hisab yang digunakan Muhammadiyah dalam penetapan awal Ramadhan berasal dari kalangan Syiah. Tudingan yang kemudian dicabut dan dimintakan maaf oleh yang bersangkutan. Namun sempat menimbulkan ketegangan di kalangan jamaah akar rumput.

*)Sumber: buku Kritik Salafi Jawaban Muhammadiyah oleh M. Reza Prima halaman: 2-3

Baca Juga