Tiga Tahun Badai Al-Aqsha: Pengorbanan, Keteguhan, dan Jalan ke Depan

Catatan Abu Harits, Lc -غفر الله له ولوالديه-

7 Oktober 2023 mengawali ribuan aneka roket sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, meluncur menggempur “Israel” dalam Operasi Badai Al-Aqsha.

SALAM-ONLINE.COM: Tiga tahun telah berlalu sejak pagi bersejarah, 7 Oktober 2023. Hari itu bukan sekadar menandai dimulainya satu babak baru konflik, melainkan meletusnya kemarahan yang telah ditahan puluhan tahun: atas tanah yang dirampas, penduduk yang diusir, kehidupan yang dihancurkan, dan kawasan bersejarah yang terus-menerus diinvasi serta diubah hakikatnya.

Operasi Badai Al-Aqsha mengubah peta kesadaran dunia: Palestina tidak akan lenyap, dan rakyatnya tidak akan menyerah.

Badai Al-Aqsha bukanlah awal perlawanan, melainkan salah satu puncaknya. Sejarah perjuangan Palestina berakar lebih dari satu abad silam: sejak penguasaan dan pengalihan status tanah, gelombang pengusiran besar yang berulang, pendudukan wilayah sejak 1967, hingga peningkatan tekanan permukiman dan pembatasan akses ke kawasan kota tua serta tempat-tempat bersejarah dalam dua dekade terakhir.

Kawasan Baitul Maqdis — yang menjadi nama operasi ini — telah menjadi titik gesekan paling tajam. Penguatan kehadiran pihak pendudukan, pembatasan akses warga setempat, serta upaya sistematis mengubah tata ruang dan demografi kawasan memicu ketegangan yang terus menumpuk. Semua itu melahirkan kesadaran luas di kalangan rakyat: pertahanan kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari pertahanan kebebasan, tanah, dan martabat bangsa. Badai Al-Aqsha lahir dari kesadaran itu.

Pejuang Palestina, Hamas, dengan sayap militernya, Brigade Al-Qassam, memulai “perang” melawan “Israel”, kata menteri pertahanan penjajah itu pada 7 Oktober setelah rentetan roket ditembakkan, sebuah peningkatan besar dalam perang Palestina-“Israel”. (Foto: AFP)

Tiga Tahun Perjuangan: Pengorbanan yang Tak Tergantikan dan Keteguhan yang Tak Terkoyak

Selama tiga tahun yang berjalan sejak 7 Oktober 2023 hingga tanggal yang sama di tahun 2026, rakyat Palestina telah menempuh jalan yang penuh luka sekaligus penuh kebanggaan. Di Jalur Gaza saja, puluhan ribu warga telah gugur, dan sebagian besar di antaranya adalah perempuan, anak-anak, serta warga sipil yang tidak bersenjata — sebuah catatan duka yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan Palestina maupun laporan resmi Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB. Lebih dari 170.000 orang lainnya menderita luka fisik yang mendalam atau gangguan kesehatan yang serius, banyak di antaranya akan membawa bekas seumur hidup, sebagaimana didokumentasikan bersama Organisasi Kesehatan Dunia.

Hampir seluruh penduduk Jalur Gaza pernah kehilangan tempat tinggal setidaknya satu kali, dan tak sedikit yang harus mengungsi berulang kali dari satu tempat ke tempat lain, tanpa pernah memiliki kepastian tempat untuk pulang — fakta yang tercatat dalam laporan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB bagi Pengungsi Palestina.

Rumah, sekolah, rumah sakit, jaringan air bersih, serta sarana kelistrikan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat mengalami kerusakan yang sangat parah hingga rata dengan tanah, sebagaimana dinilai secara terperinci oleh Program Permukiman Manusia PBB dan Bank Dunia.

Di Tepi Barat sekalipun tekanan tidak mereda: serangan pemukim ilegal makin sering terjadi, jalan-jalan ditutup secara sepihak, penahanan warga berlangsung terus-menerus, dan upaya perampasan tanah diperluas. Sementara akses warga ke kawasan Baitul Maqdis makin dibatasi dan dikepung.

Namun di balik semua angka dan laporan itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar dan tak dapat diukur dengan statistik: keteguhan rakyat. Warga Palestina, baik yang berada di Gaza, Tepi Barat, Baitul Maqdis, maupun di tempat-tempat pengungsian, terus berdiri. Mereka tidak menyerah, tidak pergi meninggalkan tanahnya, dan tidak melupakan haknya.

Perlawanan tidak berhenti; ia menyesuaikan diri, bertahan, dan terus menegaskan kehadirannya. Di segenap penjuru dunia, kesadaran masyarakat juga berubah secara nyata. Suara keadilan makin terdengar jelas, dan dukungan kepada perjuangan Palestina tumbuh melintasi batas negara, latar belakang, maupun keyakinan.

Para Syuhada: Mereka yang Mendahului untuk Kita yang Tersisa

Di antara ribuan pejuang yang telah membayar harga tertinggi selama tiga tahun ini, ada nama-nama yang menjadi penanda perjalanan perjuangan ini — pemimpin, komandan, serta pejuang yang meletakkan nyawanya agar tanah dan rakyatnya tetap tegak. Mereka bukan sekadar tokoh di berita; mereka hidup bersama rakyat, berjuang di tengah rakyat, dan gugur di samping rakyat.

Ismail Haniyeh, yang selama puluhan tahun menyuarakan hak Palestina ke panggung dunia dan pernah menjabat sebagai Perdana Menteri, gugur pada akhir Juli 2024. Ia dikenal sebagai sosok yang berupaya mempersatukan barisan perlawanan di tengah tekanan yang makin bertumpuk, hingga akhirnya menjadi sasaran serangan yang mengincarnya di luar negeri.

Hanya hitungan bulan setelah itu, pada pertengahan Oktober 2024, gugur pula Yahya Sinwar. Sosok yang lahir di kamp pengungsi, menghabiskan lebih dari dua puluh tahun di penjara penjajah “Israel”, kemudian memimpin gerakan di Jalur Gaza sejak tahun 2017, dan dikenal sebagai salah satu arsitek utama operasi 7 Oktober. Ia tetap berada di tengah medan pertempuran hingga hari-hari terakhir hidupnya.

Sebelum keduanya, tepat pada pertengahan Juli 2024, Muhammad Deif telah mendahului mereka. Sosok yang menjadi Kepala Staf Brigade Izzuddin Al-Qassam ini merancang dan mempersiapkan operasi Badai Al-Aqsha selama bertahun-tahun. Ia selamat dari puluhan upaya pembunuhan yang direncanakan kepadanya. Ia juga dikenal hidup sederhana jauh dari sorotan, senantiasa berada di antara rakyatnya. Bersamanya gugur pula Rafi Salama, komandan pasukan di kawasan Khan Younis, yang sejak hari-hari awal konflik memimpin pasukannya di garis depan pertempuran.

Pada awal Maret 2024, telah gugur Marwan Issa — wakil dan tangan kanan Muhammad Deif. Dia adalah sosok yang mengawasi persiapan logistik maupun taktis seluruh jaringan perlawanan, dan terus memimpin dari lapangan hingga hari terakhir.

Di antara mereka yang gugur pada hari-hari berdirinya operasi adalah Ayman Nofal, komandan di kawasan tengah Gaza, yang menjadi salah satu pimpinan tertinggi pertama yang gugur pada awal Oktober 2023, dan Ibrahim Al-Biari. Dia adalah komandan batalion yang memimpin langsung penyerbuan ke pos militer Erez pada pagi 7 Oktober. Sebelumnya ia telah melatih pasukannya berbulan-bulan dan gugur pada akhir bulan yang sama.

Baca Juga

Pada akhir Agustus 2025, dunia kehilangan suara yang telah dikenal selama hampir dua puluh tahun: Abu Ubaidah, juru bicara resmi Brigade Al-Qassam. Pesannya tentang keteguhan menjadi kekuatan bagi rakyat Palestina serta jutaan pendukungnya di segenap benua. Identitas aslinya, Hudzaifah Al-Kahlout, baru diketahui publik setelah ia gugur.

Satu tahun kemudian, pada pertengahan Mei 2026, Izzuddin Al-Haddad yang dikenal sebagai “Abu Suhaib” atau “Hantu Al-Qassam” gugur. Ia mengambil alih pucuk pimpinan militer setelah para pendahulunya tiada, dan tetap memimpin dari tengah medan pertempuran. Hanya beberapa minggu sebelum peringatan tiga tahun, tepat pada pertengahan September 2026, gugur pula Nail Abu Ubaid — komandan pasukan di kawasan Rafah, anggota dewan pimpinan militer, dan salah satu dari mereka yang terlibat langsung dalam menyusun rencana operasi sejak awal.

Nama-nama ini hanyalah sebagian dari ribuan pejuang yang telah tiada. Bersama mereka gugur lebih dari seribu anggota Brigade Al-Qassam serta ribuan warga biasa — ayah, ibu, anak, dan pemuda — yang namanya tidak sempat tercatat di berita, namun pengorbanannya menjadi benteng yang menahan perjuangan ini agar tetap berdiri. Setiap kali satu nama gugur, perjuangan tidak berhenti; ia diteruskan oleh mereka yang telah dipersiapkan, dibesarkan, dan diilhami oleh jejak mereka.

Asap mengepul setelah roket diluncurkan dari Jalur Gaza, ke Ashkelon, wilayah jajahan “Israel”, Sabtu (7/10/2023). (Foto: Amir Cohen/REUTERS)

Analisis Perjuangan: Kekuatan, Tantangan, dan Pelajaran

Perjalanan tiga tahun ini menunjukkan bahwa kekuatan perjuangan tidak terletak pada satu orang saja, melainkan pada sistem dan kesadaran yang telah tumbuh bersama rakyat. Ketika para pemimpin gugur satu per satu, barisan tidak runtuh. Pergantian kepemimpinan berlangsung berkelanjutan, membuktikan bahwa perjuangan ini telah dipersiapkan secara matang dan diteruskan oleh generasi yang telah dididik untuk melangkah jika angkatan sebelumnya tiada.

Di garis depan sekalipun, perbedaan pandangan dapat dikesampingkan demi satu tujuan yang sama: mempertahankan tanah dan mengembalikan hak rakyat. Ikatan yang tumbuh di antara masyarakat juga terbukti menjadi pertahanan yang paling tangguh — warga saling berbagi apa yang tersisa, saling melindungi, dan saling menguatkan ketika hampir tidak ada kekuatan lain yang dapat diandalkan. Dukungan dari seluruh dunia pun menjadi kekuatan nyata, mengubah cara masyarakat internasional memandang isu ini.

Namun tantangan tetap berat. Kesenjangan kekuatan militer maupun sumber daya masih sangat lebar, sehingga perjuangan tidak dapat diandalkan untuk berakhir dalam waktu singkat. Usaha memecah belah rakyat, memisahkan wilayah, serta mengalihkan perhatian dari persoalan inti terus dilakukan, dan perpecahan di dalam barisan tetap menjadi risiko yang paling dijaga. Sementara itu, banyak keputusan di tingkat internasional belum diikuti tindakan yang setimpal, sehingga rakyat Palestina tidak dapat menggantungkan harapan sepenuhnya kepada pihak luar.

Dari semua itu, satu pelajaran paling mendasar dapat dipetik: kemerdekaan tidak diraih dalam hitungan bulan, melainkan dalam kesetiaan yang dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengorbanan mereka yang telah gugur mengajarkan bahwa jalan ini panjang, dan tidak ada jalan pintas menuju kemerdekaan Palestina.

Jalan ke Depan: Melanjutkan Apa yang Telah Mereka Mulai

Tugas yang kini berada di tangan kita semua adalah menjaga agar pengorbanan para syuhada tidak menjadi sia-sia. Langkah pertama dan paling penting adalah menjaga persatuan — tidak membiarkan perbedaan apa pun memisahkan barisan, karena itulah warisan paling mahal yang mereka tinggalkan.

Selanjutnya, menyebarkan kebenaran secara terus menerus, menyampaikan fakta dan kisah perjuangan kepada generasi muda agar kesadaran tidak surut. Dukungan juga harus diwujudkan dalam bantuan yang nyata, berkelanjutan, dan terarah — tidak sekadar simpati sesaat, melainkan komitmen hingga rakyat Palestina dapat hidup bebas di tanahnya sendiri.

Hal yang terpenting adalah menyiapkan penerus: mendidik anak-anak dan pemuda agar mengenal sejarah, mencintai tanah airnya, memahami haknya, dan bertekad melanjutkan perjuangan ini jika angkatan sekarang telah tiada — persis seperti yang dilakukan oleh para syuhada sebelum mereka gugur.

Seorang pria berlari di jalan saat api berkobar setelah roket diluncurkan dari Jalur Gaza, ke wilayah jajahan “Israel” pada 7 Oktober 2023. (REUTERS)

Penutup
Tiga tahun telah berlalu — penuh air mata, pengorbanan, dan ujian yang berat. Namun tiga tahun ini juga membuktikan satu hal yang tak dapat dibantah: kehendak rakyat untuk merdeka tidak dapat dipadamkan. Dari Ismail Haniyeh hingga Nail Abu Ubaid, dari Muhammad Deif hingga mereka yang namanya tidak tercatat di mana pun, semuanya telah mewariskan satu pesan yang sama: kubah Al-Aqsha masih berdiri, tanah Palestina masih dijaga, dan perjuangan belum berakhir.

Kita belum tahu kapan kemenangan itu tiba. Namun kita tahu dengan pasti apa yang harus dilakukan: tetap berdiri, tidak menyerah, tidak melupakan mereka yang telah mendahului, dan terus berjalan bersama rakyat Palestina — hari ini, esok, dan selama apa pun yang diperlukan.

Suatu hari nanti, kebebasan dan kemerdekaan akan datang. Dan ketika itu tiba, tidak ada yang dapat mencegahnya. Hasbunallah wa ni’mal wakil. []

Daftar Referensi:

1. Kementerian Kesehatan Negara Palestina — Laporan Data Korban Kumulatif, September 2026.
2. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA-OPT) — Laporan Situasi Bulanan, September 2026.
3. Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB bagi Pengungsi Palestina (UNRWA) — Laporan Situasi No. 229, Juli 2026.
4. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) — Laporan Kondisi Kesehatan di Jalur Gaza, 2026.
5. Program Permukiman Manusia PBB (UN-Habitat) — Penilaian Kerusakan Infrastruktur di Gaza, 2026.
6. Bank Dunia — Laporan Dampak Ekonomi dan Pemulihan Wilayah Palestina, 2026.
7. Ismail Haniyeh: Pemimpin Politik Hamas Dibunuh di Teheran, 31 Juli 2024.
8. Al Jazeera — Yahya Sinwar: Pemimpin Hamas di Gaza Gugur dalam Pertempuran, 16 Oktober 2024.
9. Al Jazeera — Muhammad Deif: Kepala Staf Brigade Al-Qassam Dikonfirmasi Gugur, 13 Juli 2024.
10. Al Arabiya — Marwan Issa: Wakil Kepala Staf Al-Qassam, Diumumkan Gugur 10 Maret 2024.
11. Al Arabiya — Abu Ubaidah (Hudzaifah Al-Kahlout): Juru Bicara Al-Qassam Dikonfirmasi Gugur, 30 Agustus 2025; identitas resmi diumumkan 29 Desember 2025.
12. Al Jazeera — Izzuddin Al-Haddad “Abu Suhaib”: Komandan Al-Qassam di Gaza Gugur, 15 Mei 2026.
13. Asharq Al-Awsat — Profil dan Kesyahidan Rafi Salama, Komandan Brigade Khan Younis, 13 Juli 2024.
14. Al Jazeera — Ayman Nofal: Komandan Sektor Tengah Gaza, Gugur Awal Oktober 2023.
15. Brigade Al-Qassam/Al Jazeera — Ibrahim Al-Biari: Komandan Batalyon Penyerbuan Pos Erez, Gugur 30 Oktober 2023.
16. Al Arabiya/Pusat Informasi Palestina — Nail Abu Ubaid: Komandan Brigade Rafah, Anggota Dewan Militer, Gugur 15 September 2026.
17. BBC, Reuters — Laporan Konfirmasi Kesyahidan Pimpinan Hamas, 2024–2026.
18. Encyclopaedia Britannica — Biografi Yahya Sinwar, Ismail Haniyeh; diperbarui September 2026.

Baca Juga