Barangsiapa mencari rida Allah meski tidak disukai manusia, maka Allah meridainya dan membuat manusia meridainya. Dan barangsiapa mencari rida manusia dengan melakukan hal yang dimurkai Allah, maka Allah murka kepadanya, dan akan membuat manusia murka kepadanya. (HR Ibnu Hibban)
Seorang Tolol memperhatikan seekor unta yang sedang makan rumput.
Katanya kepada binatang itu, “Tampangmu mencong. Kenapa begitu?”
Unta menjawab, “Dalam menilai kesan yang timbul, kau mengaitkan kesalahan dengan hal yang mewujudkan bentuk. Hati-hatilah terhadap hal itu! Jangan menganggap wajahku yang buruk sebagai suatu kesalahan. Pergi kau menjauh dariku, ambil jalan lintas. Tampangku mengandung arti tertentu, punya alasan tertentu. Busur memerlukan yang lurus dan yang bengkok, pegangannya dan talinya.”
Orang tolol, enyahlah: “Pemahaman keledai sesuai dengan sifat keledai.”
Mus’ab ibn Umair duduk bersandar pada dinding pagar sebuah kebun di kota Yathrib di suatu siang yang panas. Di depannya duduk dua tiga orang yang usianya hampir sebaya, mendengarkan apa yang dituturkannya.
Mus’ab, sang pembicara, bukanlah seorang orator, bukan pula seorang pemuka kabilah, apalagi pejabat. Dia seorang pemuda, seperti kebanyakan pemuda biasa.
Usianya baru lewat seperempat abad, cerdas dan bersemangat, tutur katanya pun santun, sehingga orang pun senang mendengarkan apa yang dibicarakannya.
“Are U still connected with your Muslim friends?” tanyaku.
“Yes, in fact I learned a lot from them about Islam”, jawabnya.
“And so, who direct you to come to the Center?” tanyaku lagi.
Dia kemudian menjelaskan bahwa salah seorang teman kelasnya, sama-sama mengambil sosiology, bernama Katherine. Saya bercanda, asal bukan Katherine temannya “hurricane?” (badai).
Seorang laki-laki datang kepada Wahab Imri, lalu berkata:
“Ajarkanlah kepadaku kerendahan hati.”
Wahab Imri menjawab:
“Aku tidak dapat mengajarkannya kepadamu, karena sesungguhnya kerendahan hati itu merupakan guru itu sendiri. Rendah hati dapat dipelajari dengan diamalkan. Jika engkau tidak dapat mengamalkannya, engkau tentu tidak dapat mempelajarinya. Jika engkau tidak dapat mempelajarinya, sesungguhnya dalam hatimu memang sama sekali tidak ingin mempelajarinya.”
Silang selisih jangan dicari,
jika bersua janganlah lari.
Membuat perkara amatlah mudah,
jika terjadi timbullah gunda.
Kalau diri kena perkara,
turut susah sanak saudara.
Jika ilmu tiada sempurna,
tiada berapa ia berguna.
Berbuat jahat jangan sekali,
terbawa cemar segala ahli.
ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MINAL JUU’I FA INNAHU BI’SADH-DHAJII’U WA A’UUDZUBIKA MINAL KHIYAANATI FA INNAHAA BI’SATIL BITHAANATU.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan karena ia adalah seburuk-buruk teman tidur, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat khianat karena ia adalah sejahat-jahat kawan yang dekat.
Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Ahzab, 33:54)
In case you display anything or you conceal it, then surely Allah has been Ever Knowing of everything.. (QV. Al Ahzab, 33:54)
Seseorang bertanya kepada Abu Nawas tentang pembagian harta pusaka.
“Ada seorang meninggal dunia. Dia meninggalkan seorang putra, seorang putri, seorang ibu, dan seorang istri. Sementara dia tidak meninggalkan harta pusaka. Bagaimana cara membagi pusaka peninggalannya?”
“Oh, itu gampang. Yang jelas putra-putrinya mendapat bagian pusaka status yatim, ibunya mendapat bagian pusaka status wanita yang malang, dan istrinya mendapat bagian pusaka status janda serta puing-puing rumah.” Jawab Abu Nawas.
Malu adalah perasaan tidak enak hati ketika melakukan perbuatan, mengucap-kan perkataan yang melanggar norma-norma dalam masyarakat dan ajaran agama. Orang yang memiliki sifat malu berarti dia memahami bagaimana dia harus berbuat atau berkata yang tidak melanggar ajaran agama dan adat atau kebiasaan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. “Malu itu termasuk bagian dari keimanan”, demikian sabda Rasulullah saw dalam HR. Bukhari.

