Kronologi Bentrokan di Pontianak

 

salam-online.com (Pontianak: eramuslim.com). Api konflik meletus di Pontianak, Kalimantan Barat. Kasus penolakan terhadap FPI atas dasar upaya provokatif yang sempat terjadi di Kalimantan Tengah, kini menjalar di negeri seribu sungai itu.Dari data yang berhasil dikumpulkan, awal mula bentrokan umat Islam dengan suku Dayak non muslim ini dipicu oleh spanduk Penolakan FPI yang dibentangkan Rabu siang (14/3) oleh organisasi yang mengatasnamakan Organisasi Pemuda Dayak. Spanduk ini sendiri kemudian dipasang di depan asrama mahasiswa Panama (Persatuan Mahasiswa Dayak) sebagai bentuk penolakan mereka. Mendapati spanduk berbunyi “Tolak Pembentukan FPI di Kalbar” tersebut, salah seorang anggota FPI meminta agar spanduk provokatif tersebut diturunkan. Namun pemuda Dayak tersebut justru melakukan perlawanan. Hal ini kemudian membuat sebagian anggota FPI dan pihak kepolisian berdatangan. Aparat berwenang meminta agar spanduk tersebut diturunkan. Namun lagi-lagi, Pemuda Dayak itu menolak permintaan polisi dan justru melakukan perlawanan. Sontak saja massa yang geram kemudian meminta secara paksa agar spanduk provokatif tersebut dicopot. Mereka memaksa masuk asrama namun kemudian dibubarkan paksa oleh polisi. Para aktivis Dayak itu kemudian diamankan oleh Polisi agar tidak terjadi bentrokan.Kejadian ini pun kemudian mengundang simpati umat Islam di Kalimantan Barat. Mereka mendatangi asrama mahasiswa sambil meneriakkan takbir. Nyali penghuni asrama yang sebelumnya sudah memamerkan Mandau (sejenis parang khas Dayak) pun mulai menciut. Asrama kemudian dijaga ketat oleh pasukan anti huru-hara berpakaian lengkap. Para mahasiswa Dayak yang ketakutan itu pun terkepung selama tiga jam hingga dievakuasi pihak kepolisian untuk dibawa ke Rumah Adat Dayak Kalimantan Barat yang merupakan “markas”  pemuda dayak di Kota Pontianak. Jalan-jalan menuju akses kota Pontianak pun mulai diblokir untuk mengantisipasi datangnya masyarakat menuju lokasi Asrama.Hingga Rabu malam kemarin, situasi Pontianak berubah panas. Pesan singkat perlawanan terhadap kaum Dayak non-Muslim pun menyebar ke seantero kota Pontianak. Umat Islam berjaga-jaga. Mereka melakukan kewaspadaan akan timbulnya perlawanan dan bentrok dengan suku Dayak provokatif tersebut.

Melihat kondisi demikian memanas, maka pada malam itu diadakanlah pertemuan yang dipimpin oleh Wakapolda Kalbar, Komisaris Besar Syafarudin, Wakil Walikota Pontianak Paryadi, Kapolresta Pontianak Kombes Muharrom Riyadi, Dandim Pontianak Letkol Bima Yoga, dan Dewan Adat Dayak Yakobus Kumis, serta tidak ketinggalan Ketua DPD FPI Pontianak Ishak Ali Al Muntahar.

Dalam pertemuan tersebut, baik pihak Dayak maupun FPI sepakat untuk saling menahan diri agar tidak terjadi bentrokan. Namun hingga Kamis pagi (15/3), masih tampak ratusan polisi berjaga-jaga di depan Asrama Mahasiswa Dayak. Dan sampai kemudian waktu Ashar Suku Dayak non-Muslim terlibat bentrok dan saling berhadap-hadapan dengan umat Islam.

Hingga berita ini diturunkan, umat Islam dan suku Dayak non-Muslim saling melakukan sweeping yang tersebar di sejumlah titik Kota Pontianak.

“Malam ini mereka sweeping umat Islam di Pasar Tanjung Pura-Gajah Mada-Pontianak,” tegas Ketua DPP FPI Munarman, SH melalui pesan singkatnya ke Eramuslim.com, Kamis malam (15/3).  (Pz)

Baca Juga