Perintah Baru dari Rezim Palsu Mesir Buka Jalan Lanjutkan Pembantaian

Mesir-korban pembantaian mesir-jpeg.image
Salah seorang korban pembantaian rezim kudeta Mesir

KAIRO (SALAM-ONLINE): Rezim hasil kudeta Mesir, Rabu (31/7/2013), secara resmi memerintahkan polisi untuk membubarkan demonstran pro-Presiden terguling, Muhammad Mursi.

Perintah resmi ini merupakan sinyal keras dari pihak rezim tidak sah itu untuk kembali melakukan tindakan. Mendengar hal ini, pengunjuk rasa mempersenjatai diri dengan tongkat dan helm. Tak hanya itu, ribuan massa juga bersembunyi di belakang gundukan pasir dan melakukan penjagaan berkala.

Seperti dilaporkan laman Aljazirah, Kamis (1/8/2013), rezim bikinan militer itu meminta polisi untuk membubarkan aksi duduk yang dilakukan rakyat pendukung Mursi. Rezim menegaskan, rakyat pendukung Mursi telah menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional. Karenanya, rezim hasil kudeta berdarah itu memberikan mandat kepada kepolisian untuk mengambil langkah yang diperlukan guna membubarkan massa pro-Mursi.

Meski demikian, seperti dikatakan Kementerian Dalam Negeri, langkah-langkah penindakan itu akan dilakukan secara bertahap. ”Saya berharap mereka segera bubar sebelum aparat datang,” ujar Kemendagri Mesir.

Juru Bicara Partai Kebebasan dan Keadilan, Ahmad Sobaei mengatakan, perintah terbaru dari rezim palsu Mesir itu seperti membuka jalan bagi pembantaian selanjutnya. Polisi, menurut dia, sedang bersiap untuk kembali membantai rakyat yang tak bersalah. ”Mereka akan menyerang warga sipil tak bersenjata yang berusaha melakukan aksi duduk demi legitimasi,” kata Sobaei.

Terkait hal ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Marie Hard mengimbau Pemerintah Mesir yang dikendalikan militer untuk menghindari kekerasan. Ia juga meminta pejabat pemerintah sementara dan pasukan keamanan menghormati hak berkumpul secara damai. ”Itu jelas termasuk aksi duduk,” ujarnya, Kamis (1/8/2013).

Saat ini, massa pro-Mursi masih melakukan aksi duduk di luar Masjid Rabiah al-Adawiya di Kairo Timur dan di dekat Universitas Kairo. Sementara Ikhwanul Muslimin tetap menolak bekerjasama dengan rezim yang mereka sebut pengkhianat. Ikhwanul Muslimin juga menolak berpartisipasi dalam rencana transisi yang didukung militer.

Baca Juga

Sejauh ini, aparat keamanan sudah menindak tegas organisasi yang juga dilarang di era Husni Mubarak itu. Sejumlah tokohnya, termasuk Mursi, ditahan. Dalam dua bentrokan hebat antara massa pro-Mursi dan aparat, ratusan orang gugur.

Tekanan hebat yang dialami rakyat pro-Mursi diyakini akan membuat mereka semakin kuat. Mantan Gubernur Kafr el Sheikh yang juga tokoh Ikhwanul Muslimin, Saad el Huseini mengatakan, semakin banyak darah tumpah maka akan semakin banyak rakyat yang bergabung.

Huseini menilai, pasukan keamanan sangat bodoh karena tak melakukan langkah bertahap untuk membubarkan aksi rakyat  pro-Mursi. Sementara, dari Amerika Serikat (AS) dilaporkan, Senat menolak menyetujui proposal bantuan dana Gedung Putih ke Mesir.

Anggota Senat dari Partai Republik, Rand Paul menjadi promotor utama penolakan tersebut. Dari 99 kursi di Senat, 86 di antaranya tidak setuju dengan rencana Presiden Barack Obama itu. ”Bantuan (ke Mesir) harus segera diakhiri,” ujar Paul seperti dilansir Washington Times, Kamis (1/8/2013).

Pascakudeta militer di Mesir, Obama memutuskan untuk membantu Mesir lewat kucuran dana 1,5 miliar dolar AS. Komitmen bantuan itu segera mengundang kecurigaan internasional. Sebab, pada saat yang sama, Obama enggan menyebut penggulingan Mursi sebagai kudeta militer. Menurut Paul, sikap tersebut menunjukkan inkonsistensi diplomasi AS. Bagi dia, lengsernya Mursi jelas disebabkan oleh kudeta. (ROL)

salam-online

Baca Juga