Kasus HAM Mantan Kepala BIN Hendropriyono Berlanjut, Polisi Periksa Jurnalis Asal AS

Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono-1-jpeg.image
Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Kasus HAM mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono berlanjut. Penyidik Polda Metro Jaya memeriksa seorang jurnalis asal Amerika Serikat (AS) Allan Nairn sebagai saksi terkait dugaan pencemaran nama baik yang dituduhkan kepada mantan Kepala BIN AM Hendropriyono.

“Polisi bertanya wawancara saya dengan Hendropriyono,” kata Allan di Markas Polda Metro Jaya Selasa (10/2), seperti dikutip Antara.

Allan menyebutkan penyidik kepolisian mengajukan 20 hingga 40 pertanyaan dalam proses pemeriksaan yang berlangsung sejak pukul 11.00 WIB-16.00 WIB.

Kepada penyidik kepolisian, Allan mengaku mewawancarai Hendropriyono yang menyebutkan korban dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Talangsari Lampung meninggal dunia karena bunuh diri.

Padahal menurut Allan, Hendropriyono telah membunuh massal masyarakat di Talangsari Lampung yang selanjutnya salah satu keluarga korban melaporkan ke kepolisian.

Allan mengungkapkan hasil wawancara dengan Hendropriyono yang menyebutkan terdapat sekitar seratus orang masyarakat sipil tanpa senjata api termasuk perempuan dan anak-anak yang menjadi korban.

Saat pemeriksaan, Allan menyerahkan barang bukti rekaman hasil wawancara dengan Hendropriyono.

Allan juga mengaku telah memposting hasil wawancara Hendropriyono yang dihubungi via telepon dari New York AS pada 16 Oktober 2014 melalui blog pribadi.

“Publik bisa mendengar langsung di website. Itu audio bisa dengar suara Hendro saat dia katakan orang itu bunuh diri,” ucap Allan.

Baca Juga

Allan siap menyampaikan informasi kepada polisi terkait dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan Hendropriyono seperti Munir dan Timor Timur.

Terkait hal itu, Allan mengaku kerap mendapatkan ancaman pembunuhan dari seseorang yang tidak ingin dipublikasikan.

Sebelumnya diberitakan, mantan Kepala BIN AM Hendropriyono dilaporkan ke polisi terkait dugaan keterlibatannya dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Dusun Talangsari, Lampung, pada 1989. Laporan terhadap Hendropriyono dibuat oleh Azwar, seorang korban HAM dari peristiwa Talangsari, dan didampingi oleh tim advokasi dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Wakil Koordinator Bidang Advokasi Kontras Yati Andriyani mengatakan, Hendropriyono dilaporkan terkait hasil wawancaranya dengan jurnalis investigasi AS, Allan Nairn, pada Oktober 2014.

“Bukti wawancara tersebut telah kami ajukan dalam laporan ke Bareskrim Mabes Polri,” ujar Yati saat ditemui di Kantor Kontras, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/1/2015), sebagaimana dikutip Kompas.com.

Dalam wawancara dengan Nairn, Hendropriyono menyebut bahwa ratusan masyarakat yang menjadi korban tewas dalam peristiwa Talangsari itu tewas akibat bunuh diri. Hendropriyono menyangkal telah terjadi pembunuhan massal yang dilakukan oleh anak buahnya. Padahal, sebut Yati, fakta dan kesaksian para korban dalam peristiwa tersebut mengakui bahwa lebih dari 300 orang menjadi korban pembunuhan secara brutal oleh aparat.

Yati mengatakan, laporan ke polisi itu didasari atas Pasal 320 ayat 1 KUHP mengenai penghinaan terhadap orang yang sudah meninggal. Laporan tersebut awalnya dibawa ke Bareskrim Polri pada November 2014. Namun, penyelidikan atas perkara tersebut kini telah dilimpahkan ke Polda Metro Jaya. Menurut Yati, saat ini proses penyelidikan masih berlangsung dengan agenda pemeriksaan saksi pelapor.

Sumber: Antara, Kompas.com

salam-online

Baca Juga