Halimah Yacob Terpilih sebagai Presiden Wanita Pertama Singapura dari Etnis Melayu


Halimah Yacob

SINGAPURA (SALAM-ONLINE): Kegembiraan terpancar di mata para aktivis perempuan Singapura, Senin (11/9), ketika Elections Department (ELD), badan urusan pemilu di Singapura, mengeluarkan pernyataan pers yang mengatakan hanya ada satu calon presiden yang berhasil mendapatkan sertifikasi kelayakan dari Presidential Election Committee PEC dan Community Committee untuk menjadi presiden Singapura berikutnya.

Dari lima calon yang ada, hanya satu orang yang mendapatkan kedua sertifikasi itu dan karenanya berdasarkan undang-undang ia berhak menjadi presiden.

Saleemah Ismail, yang mengenal dekat Halimah Yacob ketika sama-sama memperjuangkan nasib kaum perempuan Singapura, menceritakan suasana di negara berpenduduk 5,6 juta jiwa itu setelah pengumuman badan urusan pemilu meluas.

“Saya gembira luar biasa dapat tahu berita ini dan pada masa ini hanya ada satu calon, yaitu Mdm Halimah Yacob untuk jadi Presiden Singapura. Saya gembira karena ia adalah presiden wanita pertama bagi Singapura. Ia dikenal sebagai aktivis, pemersatu, yang sudah lama bekerja untuk masyarakat Singapura. Tak terkira hati ini. Besar hati saya!” ujar Saleemah.

Tak lama setelah pengumuman itu dua kandidat lainnya, Mohamed Salleh Marican dan Farid Khan, mengukuhkan bahwa mereka gagal mendapatkan sertifikasi kelayakan yang dibutuhkan.

Kepada wartawan yang menunggunya di gedung ELD, Halimah Yacob mengatakan, “Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk melayani rakyat Singapura dan hal ini tidak akan berubah, dengan atau tanpa pemilu.”

Saleemah Ismail seperti dilansir VOA, mengatakan, ia tidak pernah ragu dengan kemampuan Halimah Yacob.

“Saya tidak pernah ragu Mdm Halimah bisa menyatukan kaum di Singapura, masyarakat Melayu, India, Cina dan lain-lain. Ia disukai ramai dan akan bisa menyatukan kaum ini. Ia sudah lama menjadi pejuang HAM wanita supaya mendapat lebih banyak perlindungan, memperjuangkan wanita yang mengalami keganasan (KDRT, red), isu-isu masyarakat Melayu-Islam di Singapura. Ia sudah berjuang selama lebih dari 20 tahun. Jadi saya tidak ragu ia akan mampu mengatasi halangan yang dikedepankan,” ujar Saleemah.

Stasiun televisi Channel News Asia menyiarkan pernyataan Halimah Yacob yang mengatakan “Salah satu fokus dan fungsi utama presiden terpilih adalah bertindak sebagai kekuatan pemersatu. Tentunya ada pekerjaan yang harus saya lakukan, tapi yang terpenting adalah saya ingin warga Singapura bekerjasama dengan saya. Presiden mewakili seluruh ras, agama, dan komunitas di Singapura.”

Orang Melayu terakhir yang menjadi presiden adalah Yusof Ishak, yang wajahnya menghiasi uang kertas Singapura. Yusof Ishak menjabat sebagai presiden antara tahun 1965-1970, tahun-tahun pertama kemerdekaan Singapura setelah berpisah dari Malaysia. Bersama Lee Kuan Yew, perdana menteri pertama Singapura, Yusof Ishak bahu-membahu membangun negara multi-etnis itu.

Halimah Yacob yang kelahiran 23 Agustus 1954 memiliki campuran darah India dan Melayu. Mantan anggota Partai Aksi Rakyat PAP itu sempat menjadi anggota parlemen antara tahun 2001 hingga 2017 untuk dua konstituen berbeda, sebelum menjadi ketua parlemen Singapura selama delapan bulan, pada Januari hingga Agustus 2017. Pada 7 Agustus ia mengundurkan diri dari posisi di parlemen untuk bertarung dalam pemilu presiden.

Elections Department dijadwalkan akan menyampaikan pernyataan resmi, pada Rabu (13/9), yang menjadikan Halimah Yacob sebagai presiden kedelapan Singapura setelah seluruh proses nominasi ditutup.

Sumber: Voa Indonesia