Malam Pergantian Tahun Masehi di Palu: Tak Ada Hura-hura dan ‘Hiburan’

Meski beberapa saat lagi memasuki pukul 24.00 WITA, ribuan masyarakat tak beranjak dari tempat duduknya. Mereka memilih untuk terus melantunkan doa.

Warga Palu, megikuti dzikir dan doa bersama di Pondok Pesantren Khabib Rotan, Palu, Sulteng, pada Senin (31/12/2018) malam. (Foto: Ismawati)

PALU (SALAM-ONLINE): Ada yang berbeda pada malam pergantian tahun 2018 – 2019 Masehi di Kota Palu. Seluruh lapisan masyarakat menghabiskan malam untuk berdzikir dan berdoa bersama di beberapa masjid dan sejumlah tempat.

Sejak adzan Maghrib berkumandang, hampir seluruh masyarakat Kota Palu berbondong-bondong menuju masjid dan mushalla di sekitar mereka. Tanpa terkecuali, baik tua, muda dan anak-anak sekalipun.

Usai shalat Magrib, mereka mengikuti dzikir berjamaah hingga shalat Isya dengan wajah penuh kebahagiaan karena dapat berkumpul bersama.

Tanpa terkecuali masyarakat Kelurahan Kabonena yang berjalan kaki menuju pondok pesantren Khabib Rotan. Mereka tak nampak lelah.

Suasana semakin khidmat ketika dzikir dimulai. Ribuan masyarakat yang memadati lokasi berdoa sangat khusyuk. Mereka meminta kepada Allah agar bencana gempa bumi, likuifaksi dan tsunami tidak terjadi lagi.

Beberapa orang terlihat menetaskan air mata saat mendengarkan dzikir dari para habaib.

Meski beberapa saat lagi memasuki pukul 24.00 WITA, ribuan masyarakat enggan beranjak dari tempat duduknya. Mereka memilih untuk terus melantunkan doa.

Kendati kembang api masih terlihat menghiasi langit kota Palu di beberapa tempat, tahun baru masehi kali ini benar-benar sangat berbeda dari tahun 2017 dan 2018 lalu. Saat itu, masyarakat memadati area pantai untuk menikmati pertunjukan musik dan kembang api yang sangat megah.

Namun, kini semuanya telah berubah. Masyarakat berbondong-bondong melaksanakan dzikir bersama di masjid dan beberapa tempat lainnya.

Humas Hotel Santika Palu Karina Prastiwi mengungkapkan perayaan pergantian tahun di tempatnya hanya dilakukan para karyawan dengan berdoa.

“Kami hanya kumpul bersama, berdoa, saling bersilaturahmi karena masih diberikan kesempatan hidup di tahun 2019,” ucapnya.

Pagelaran acara sengaja tidak dilakukan karena Kota Palu masih sangat berduka atas musibah gempa dan tsunami yang terjadi. Kini, pihak hotel fokus pada perbaikan gedung dan promo.

“Kami fokus ke promo kamar saja, tidak ada even,” ujarnya.

Beberapa warga saat ditanya mengenai harapan pada 2019 masehi rata-rata menginginkan bencana segera berakhir dan kota Palu kembali seperti semula.

“Doanya tidak ada lagi bencana, dan Kota Palu segera pulih,” ujar Ismawati, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Nusantara, saat ditanya di sela-sela dzikir bersama.

Menurut Ismawati, kegiatan dzikir selain bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai sarana saling bersilaturahim pasca bencana.

“Semua orang kumpul dari seluruh kelurahan, jadi sekalian silaturahmi,” ungkapnya.

Nathan, Plt Kepala Satpol PP Kota Palu, mengatakan pergantian tahun kali ini sangat berbeda. Dia mengaku tak mendapati kemacetan saat melakukan patroli lalu lintas seperti tahun lalu.

Selain itu, Nathan juga mengungkapkan tak melihat adanya kegiatan hura-hura di sejumlah tempat. Hanya ada keramaian di lokasi dzikir dan gereja (kebaktian).

“Sesuai surat edaran gubernur dan wali kota, tidak ada hiburan dan pesta kembang api di wilayah kota Palu,” terangnya.

Hal tersebut, bagi Nathan, memudahkan pengamanan, sehingga satpol PP fokus pada pengamanan gereja dan lokasi dzikir.

“Kami juga patroli keliling Kota Palu, tidak ditemukan ‘hiburan’ dan pesta kembang api,” jerangnya. (Umi Ramlah, Peserta Islamic Journalist Class)

Baca Juga