Ketika Facebook Sebut ‘Janda Saracen’

-CATATAN M RIZAL FADHILLAH-

Publik dikejutkan dengan berita bahwa Facebook menghapus akun-akun yang berkaitan dengan jaringan sindikat hoaks Saracen. Akun yang dibanned itu antara lain Permadi Arya (halaman), Kata Warga (halaman), Darknet ID (halaman), Berita Hari Ini (grup) dan AC Milan (grup). SALAM-ONLINE: Jaringan Saracen yang dikenal sebagai penyebar kebencian dan hoaks melalui media sosial dari awal dicurigai keberadaannya. Mereka tak muncul ke permukaan menampilkan identitas dirinya. Bergerak dalam gelap. Bayang-bayangnya mengacak jagat maya dengan konten penyebaran kebencian dan hoaks.

Tidak ada upaya mencari tahu siapa di balik Saracen ini, apalagi menindak. Nitizen pun akhirnya membiarkan atau mengabaikan. Pembusukan (decaying) pun terjadi pada akun-akun tersebut.

Publik dikejutkan dengan berita bahwa Facebook menghapus akun-akun yang berkaitan dengan jaringan sindikat hoaks Saracen. Akun yang dibanned itu antara lain Permadi Arya (halaman), Kata Warga (halaman), Darknet ID (halaman), Berita Hari Ini (grup) dan AC Milan (grup).

Penghapusan ini menurut Facebook menyangkut perilaku, bukan konten. Permadi Arya alias Abu Janda memprotes penghapusan dan pengaitannya dengan sindikat hoaks Saracen. Ia mensomasi Facebook dan menuntut 1 Triliun Rupiah. Publik tentu senang dan ingin melihat jika perseteruan naik ke permukaan, siapa, apa dan bagaimana sindikat jahat Saracen itu bekerja.

Penamaan mereka sendiri sebagai “Saracen” sebenarnya telah menyakiti hati Muslim. Karena Saracen awalnya adalah panggilan orang untuk Arab di Romawi Timur, lalu menjadi panggilan orang Kristen untuk Muslim sejak abad 12.

Karenanya mengidentifikasi diri sebagai komunitas Muslim lalu menyebar hoaks dan ujaran permusuhan adalah penistaan terhadap masyarakat Muslim di Indonesia.

Memang sindikat Saracen harus diberantas sampai ke akarnya. Ternyata agak mengejutkan ada “Abu Janda” di sana, menurut Facebook.

Sindikat yang gelap bermain di akun palsu lalu menyebarkan permusuhan dan berita hoaks sejak awal sulit dilacak. Namun kini “blessing in disguised” Facebook menghapus akun-akun yang terindikasi menjadi bagian dari Saracen.

Ini menjadi pembuka kedok. Polisi tentu harus mulai masuk mendalami kasus “hantu” hoaks di jagat maya khususnya. Siapa yang bermain di sini. Komunitas Muslim atau dalam pilpres, lawan petahana, selalu saja dituduhkan sebagai penyebar hoaks. Sementara pembuatnya menari-nari menertawakan korban. Tarian dari orang yang sakit ingatan. Menari dan tertawa sendiri.

Aktivis hoaks yang menjadi jaringan Saracen wajar ketar-ketir. Borok-boroknya akan terbongkar sebentar lagi. Sementara aparat kepolisian dituntut pula keseriusannya dalam mengusut, karena pembuatan dan penyebaran hoaks adalah kejahatan serius yang menciptakan kultur saling curiga dan permusuhan. Ini momentum bagus.

Ayo kita buktikan siapa penjahat dan siapa korban. Biasanya berlaku bagi yang tak jujur dan “pemain” dari kekacauan akan kena batunya. Senjata makan tuan. Saracen akan ditinggalkan para suami. Yang ada adalah “Janda Saracen” Biarkan “Saracen” hancur lebur jadi “abu”…!

Bandung, 13 Februari 2019

-Penulis adalah Ketua Masyarakat Unggul (MAUNG) Bandung Institute

Baca Juga
awefawef93769
%d bloggers like this: