Di bawah Blokade ‘Israel’, Layanan di Gaza Terancam Ditutup karena Bahan Bakar Habis

SALAM-ONLINE.COM: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa kelangkaan bahan bakar di Gaza akibat blokade penjajah “Israel” yang masih berlangsung mendorong respons kemanusiaan ke ambang kehancuran.
Selama berhari-hari, rumah sakit dan lembaga bantuan di Gaza telah mengeluarkan seruan mendesak agar komunitas internasional melakukan intervensi untuk mengamankan pengiriman bahan bakar karena kekurangan terus, melumpuhkan layanan vital bagi lebih dari dua juta warga Palestina.
Middle East Eye (MEE) melaporkan, fasilitas medis terpaksa memutus aliran listrik di beberapa departemen dan menangguhkan perawatan medis yang menyelamatkan jiwa seperti dialisis, sehingga pasien yang menggunakan alat bantu hidup berada dalam bahaya kritis.
Pada hari Rabu PBB mengonfirmasi bahwa penjajah “Israel” mengizinkan pengiriman bahan bakar terbatas ke Gaza yang pertama dalam lebih dari empat bulan. Namun, pengiriman sebanyak 75.000 liter itu jauh dari cukup. Bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan satu hari pun.
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan pada hari Sabtu, badan-badan kemanusiaan PBB mengatakan pasokan bahan bakar di Gaza telah “mencapai tingkat kritis”.
Pemerintah kota di Gaza tengah, tempat ratusan ribu pengungsi berlindung, mengumumkan pada Ahad (13/7/2025) penangguhan penuh semua layanan penting akibat menipisnya persediaan bahan bakar.
“Ketika bahan bakar habis, hal itu memberikan beban baru yang tak tertahankan bagi penduduk yang berada di ambang kelaparan,” kata PBB dalam pernyataannya.
Tanpa bahan bakar yang memadai, badan-badan PBB yang merespons krisis ini kemungkinan besar akan terpaksa menghentikan operasi mereka sepenuhnya — yang berdampak langsung pada semua layanan penting di Gaza.
“Ini berarti tidak ada layanan kesehatan, tidak ada air bersih, dan tidak ada kapasitas untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan.”
Pertahanan Sipil Lumpuh
Mohammad Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, mengatakan bahwa permohonan bahan bakar yang berulang kali diajukan selama beberapa pekan terakhir tidak ditanggapi, membuat tim darurat dan warga sipil semakin berisiko.
“Krisis yang secara efektif telah melumpuhkan kemampuan sektor tersebut untuk berfungsi, menempatkan tim penyelamat dan warga sipil dalam bahaya yang semakin besar,” kata Basal.
“Pertahanan Sipil membutuhkan minimal 500 liter bahan bakar setiap hari untuk mempertahankan operasi dasar,” tambahnya.
Menurut Basal, “Israel” tidak memberikan alokasi bahan bakar resmi untuk Pertahanan Sipil Gaza. Sementara organisasi kemanusiaan internasional telah gagal menjembatani kesenjangan tersebut.
Dengan jalur pasokan yang terblokir dan cadangan bahan bakar yang menipis, kru kini bergantung pada sumbangan, pembelian di pasar gelap, atau bahan bakar sintetis yang terbuat dari plastik daur ulang, sebuah alternatif yang tidak aman dan tidak berkelanjutan.
“Kami terpaksa menggunakan bahan bakar sintetis produksi lokal, tetapi hal itu menyebabkan kerusakan serius pada kendaraan kami yang sudah rapuh,” Basal memperingatkan.
Kelangkaan ini telah memaksa Pertahanan Sipil untuk membuat pilihan yang sulit, seringkali memutuskan keadaan darurat mana yang harus ditanggapi dan mana yang tidak direspons.
“Kami mengurangi respons kami secara drastis, mencoba menghindari penghentian total kendaraan dan layanan kami,” ujar Basal.
“Bayangkan menghitung setiap kilometer misi penyelamatan, khawatir apakah 20 liter di dalam tangki akan cukup untuk kembali hidup-hidup.”
Dalam beberapa kasus, kendaraan penyelamat mogok di tengah misi karena kekurangan bahan bakar, membuat kru terlantar di dalam zona serangan aktif (yang membahayakan keselamatan).
“Jika kendaraan kehabisan bahan bakar di tengah misi, kami terjebak di zona bahaya,” terangnya.
“Anda dihadapkan pada dua pilihan: meninggalkan kendaraan dan melarikan diri, atau mendorongnya keluar dari area serangan (“Israel”) dengan tangan. Keduanya tidak aman.”
Rumah Sakit di Ambang Penutupan
Ismail al-Thawabteh, direktur jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, telah memperingatkan bahwa meskipun pasokan bahan bakar terbatas minggu lalu, pasokan reguler masih terhambat, yang mendorong sistem layanan kesehatan ke ambang kehancuran.
Ia menggambarkan blokade “Israel” yang sedang berlangsung sebagai “pelanggaran berat hukum humaniter internasional yang membahayakan nyawa ratusan ribu warga sipil”.
Thawabteh mengatakan, sebagian besar rumah sakit berada di ambang penutupan total. “Layanan vital terhenti total akibat kekurangan bahan bakar,” ujarnya.
“Lebih dari 9.000 orang telah meninggal dunia akibat kurangnya akses perawatan, penutupan perlintasan perbatasan, dan ketiadaan bahan bakar yang dibutuhkan untuk operasi bedah yang menyelamatkan jiwa,” lanjutnya.
Ia menambahkan, lebih dari setengah juta prosedur bedah darurat saat ini sedang menunggu di rumah sakit-rumah sakit di Gaza.
“Namun tanpa bahan bakar, pelaksanaannya mustahil.”
Thawabteh kembali menyerukan kepada komunitas internasional dan Arab untuk turun tangan sebelum situasi semakin memburuk.
“Kejahatan yang dilakukan oleh pendudukan (penjajah) terhadap rumah sakit dan sistem layanan kesehatan harus dikutuk,” katanya.
“Blokade harus dicabut, perlintasan segera dibuka, dan bahan bakar serta bantuan medis harus segera diizinkan masuk.” (mus)