Eks Jaksa Agung ‘Israel’: Sungguh Memalukan, Orang Yahudi yang Mengalami Genosida 80 Tahun Lalu, Kini Melakukannya di Gaza
SALAM-ONLINE.COM: Mantan Jaksa Agung penjajah “Israel”, Michael Ben-Yair, mengatakan bahwa “Israel” sedang melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
“Orang Yahudi, yang mengalami genosida 80 tahun lalu, sedang melakukan genosida di Gaza,” tulis Ben-Yair di X pada Selasa (29/7/2025), meskipun cerita tentang pembantaian NAZI Jerman atas Yahudi itu sendiri belakangan digugat kebenarannya sehingga disebut merupakan rekayasa Yahudi saja sebagai playing victim (berpura-pura jadi korban).
“Malu, marah, dan sedih,” tambahnya.
Cuitan Ben-Yair ini merupakan respons terhadap laporan media “Israel”, Haaretz, Senin (28/7) yang memberitakan dua organisasi hak asasi manusia (HAM) terkemuka “Israel”, B’Tselem dan Physicians for Human Rights-Israel (PHRI), menyatakan bahwa tindakan “Israel” di Gaza sebagai genosida.
Meskipun lembaga-lembaga HAM global seperti Human Rights Watch dan Amnesty International telah menggunakan istilah genosida untuk menggambarkan tindakan “Israel” di Gaza, namun laporan tersebut menandai pertama kalinya organisasi “Israel” secara resmi menggunakan kata (genosida) tersebut.
Dalam laporannya, B’Tselem mengkaji kebijakan “Israel” di Gaza dan pernyataan para politisi senior dan komandan militer “Israel” terkait tujuan “Israel” di wilayah kantong tersebut.
“Upaya nyata untuk menghancurkan penduduk Gaza dan menciptakan kondisi kehidupan yang begitu buruk sehingga masyarakat Palestina tidak dapat terus hidup di sana. Itulah definisi genosida yang sebenarnya,” kata B’Tselem.
Sementara itu, laporan PHRI menyajikan analisis hukum yang terperinci tentang perang “Israel” di Gaza, dengan fokus pada pembongkaran sistem layanan kesehatan Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, “Israel” telah membunuh lebih dari 60.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 145.000 lainnya sejak 7 Oktober 2025.
Pernyataan Ben-Yair sejalan dengan semakin banyaknya mantan pejabat “Israel” yang secara terbuka mengkritik tindakan rezim penjajah tersebut di Gaza.
Pada Mei lalu, mantan Perdana Menteri penjajah, Ehud Olmert—yang disebut mengawasi kejahatan perang selama konflik di Gaza dan Lebanon pada tahun 2006—menyebut rezim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai “geng kriminal”.
Ia menuduh rezim tersebut menerapkan taktik kelaparan di Gaza. Olmert memperingatkan tindakan rezim Netanyahu itu berisiko menjadi pembersihan etnis.
Olmert pun menulis di harian Haaretz: “Apa yang kita lakukan di Gaza sekarang adalah perang yang menghancurkan. Pembunuhan terhadap warga sipil tanpa pandang bulu, tanpa batas, kejam, dan kriminal.”
Ben-Yair pada tahun 2022 mengatakan “Israel” sebagai “rezim apartheid”. Ia mendesak masyarakat internasional untuk mengakui kenyataan ini dan meminta pertanggungjawaban “Israel”.
Peringatan Kelaparan
“Israel” juga telah memberlakukan blokade dan mencegah bantuan kemanusiaan memasuki Gaza. Blokade dan larangan ini menyebabkan banyaknya kematian menimpa warga Gaza akibat kelaparan.
Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), sebuah lembaga pengawas kelaparan global, mengatakan pada Selasa bahwa dua dari tiga ambang batas kelaparan untuk konsumsi makanan telah dilanggar di sebagian besar wilayah Gaza.
“Skenario terburuk kelaparan saat ini sedang terjadi di Jalur Gaza,” kata IPC dalam peringatan terbarunya.
“Bukti yang semakin banyak menunjukkan bahwa kelaparan yang meluas, malnutrisi, dan penyakit mendorong peningkatan kematian terkait kelaparan,” kata badan global yang terdiri dari badan-badan PBB, badan-badan kemanusiaan, dan kelompok-kelompok bantuan tersebut.
Meskipun IPC belum secara resmi menyatakan bencana kelaparan, namun mereka mengonfirmasi akan segera memulai penilaian.
Menurut organisasi tersebut, bencana kelaparan dinyatakan ketika setidaknya 20 persen populasi menghadapi kekurangan pangan ekstrem. Satu dari tiga anak menderita malnutrisi akut. Angka kematian harian mencapai dua per 10.000 orang akibat kelaparan atau penyakit terkait.
“Tindakan segera harus diambil untuk mengakhiri perang (genosida) sehingga memungkinkan respons kemanusiaan yang bebas hambatan, berskala besar, dan menyelamatkan nyawa,” IPC memperingatkan.
“Ini adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan kematian lebih lanjut dan penderitaan manusia yang dahsyat.”
Kelaparan yang diberlakukan “Israel” berakibat pada kematian 147 warga Palestina, termasuk 88 anak-anak. Para pejabat setempat mengatakan 40.000 bayi berisiko segera meninggal karena kekurangan susu formula yang mengancam bayi-bayi di Gaza.
Sejak Mei lalu, pasukan penjajah juga telah menembak mati lebih dari 1.000 warga sipil Palestina saat berupaya berburu bantuan. Sebagian besar penembakan dilakukan pasukan “Israel” di lokasi-lokasi yang dioperasikan (untuk mendistribusikan bantuan) oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), sebuah lembaga yang didukung oleh AS dan “Israel”.
Kantor Media Pemerintah yang berbasis di Gaza menyebut “Israel” “merekayasa kelaparan” melalui “kekacauan sistematis” di Gaza.
Lebih dari 100 organisasi hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional pekan lalu menyerukan diakhirinya blokade, dengan alasan kelaparan yang meluas yang memengaruhi staf mereka. (ib)
