SALAM-ONLINE.COM: Film blockbuster Hollywood yang baru dirilis, “Superman: Legacy”, tayang perdana secara global mulai 11 Juli 2025.
Film ini menarik perhatian warga media sosial karena dinilai oleh banyak penonton sebagai sikap “pro-Palestina” yang berani.
Meskipun sutradara James Gunn belum mengonfirmasi referensi apa pun secara publik, penonton daring menyebut film ini sebagai salah satu kisah superhero paling bermuatan politis. Perang genosida penjajah “Israel” di Gaza dan penggerebekan imigrasi di AS menjadi sorotan utama.
Berlatar sebagian di negara fiksi Boravia, sekutu militer berteknologi tinggi AS, film ini bercerita tentang Superman saat ia menghadapi rezim yang dituduh melakukan invasi, pengawasan terhadap para pembangkang, dan dominasi yang didukung senjata atas penduduk tetangga yang terkurung di balik pagar perbatasan.
Alur ceritanya, seperti digambarkan Middle East Eye (MEE) telah menyentuh banyak penonton yang melihat adanya kesamaan dengan perang genosida yang sedang berlangsung di Gaza.
Salah satu unggahan di Reddit yang paling banyak beredar di bawah subreddit “Israel” merangkum kekhawatiran dari penonton pro-“Israel”, di antaranya:
“Kalian semua sudah nonton film Superman yang baru? Saya merasa sangat tidak sopan dan menyedihkan bahwa seorang pahlawan super ciptaan dua seniman Yahudi kini digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan anti-“Israel” ke seluruh dunia… Saya tidak habis pikir bagaimana ini bisa disetujui di saat seperti ini, di tengah meningkatnya antisemitisme (anti-Yahudi) global… Tentu saja, para penjajah digambarkan berkulit putih, sementara para korbannya didominasi kulit cokelat. Dan tentu saja, jika “Israel” menentang film tersebut, mereka akan dianggap ‘ya sudahlah, kalau memang persis.'”
Para pengguna Twitter yang merespons menulis: “Lucu sekali mereka langsung tahu film ini tentang genosida “Israel” di Gaza tanpa diberi tahu, tapi masih berani tersinggung dan mengungkapkan kemarahan mereka di depan umum. Kok bisa ya kalian tahu penjahat-penjahat pembunuh itu Israel, ya?”
Seorang pengguna membandingkan adegan penutup dengan gambar-gambar dari Great March of Return 2018 di Gaza.

Komentator politik Hasan Piker turut mengemukakan teorinya sendiri. Ia mengatakan bahwa tokoh jahat dalam film tersebut —pemimpin Boravia— “didasarkan pada David Ben-Gurion”, perdana menteri/pendiri “Israel”.
“Banyak orang bilang itu (Benjamin Netanyahu),” kata streamer Twitch tersebut. “Tapi saya rasa itu Ben-Gurion. Film ini berdurasi dua jam 10 menit tentang ‘Israel’ yang menyebalkan.”
Selain pesan yang dirasakan bahwa film ini adalah tentang Gaza, banyak juga penonton mengatakan film tersebut mengambil sikap pro-imigrasi (imigran) yang kuat — sikap yang muncul di saat kritik di AS di tengah gelombang penggerebekan deportasi oleh ICE (badan hukum federal yang melindungi AS dari kejahatan lintas batas & imigrasi ilegal) di seluruh negeri.
Beberapa penggemar mengaitkan peristiwa dunia nyata ini dengan penggambaran Superman dalam film tersebut, yang secara historis digambarkan dalam komik dan film sebagai alien dari planet lain yang dibesarkan di Midwest, AS.
Penonton daring menafsirkan pembingkaian ini sebagai penekanan yang disengaja pada identitas imigran.
Iklan tandingan “Israel”
Namun, tidak semua orang senang. Komentator konservatif Ben Shapiro menjanjikan ulasan kritis.
Konsulat “Israel” di Los Angeles juga menanggapi film tersebut dengan dua unggahan di Facebook.
Satu unggahan menggunakan tagar #The_Real_Superheroes di samping gambar tentara “Israel” yang nampak berkilau, seolah-olah hasil rekayasa AI, yang berpose seperti karakter komik.
Yang lainnya adalah video bergaya trailer yang menyatakan: “Ketika kejahatan bangkit dengan segala kemegahannya, saat itulah pahlawan super sejati terungkap.”
Video tersebut menampilkan tentara penjajah “Israel”, tawanan, dan petugas darurat.
Seorang pengguna media sosial merangkum tanggapan umum terhadap unggahan tersebut: “Israel sangat terganggu oleh Superman yang menyebut mereka sebagai rasis genosida sehingga mereka membuat iklan tandingan.”
Dalam sebuah unggahan di media sosial setelah perilisan film ini, James Gunn, sang sutradara, mengatakan ia bangga telah membuat versi Superman yang menekankan “sisi ‘manusia’ dalam persamaan” — menggambarkannya sebagai “orang baik yang selalu memperhatikan mereka yang membutuhkan”.
“Hal yang begitu beresonansi dengan sangat kuat di antara begitu banyak orang di seluruh dunia merupakan bukti harapan akan kebaikan dan kualitas manusia.” (ib)

