Horor Masih Selimuti Gaza, 25 Negara Desak Perang Genosida Diakhiri, Sekarang!
SALAM-ONLINE.COM: Sebuah kelompok yang terdiri dari 25 negara, termasuk Prancis dan Inggris, mendesak “Israel” penjajah untuk mengakhiri perang genosida di Gaza yang telah berlangsung 21 bulan. Negara-negara itu mengingatkan, penderitaan rakyat Palestina telah “mencapai titik terendah”.
“Kami mendesak para pihak dan komunitas internasional untuk bersatu dalam upaya bersama untuk mengakhiri genosida mengerikan ini, melalui gencatan senjata segera, permanen, tanpa syarat,” kata negara-negara tersebut dalam pernyataan bersama pada Senin (21/7/2025) seperti dilansir Middle East Eye (MEE).
“Pertumpahan darah lebih lanjut tidak ada gunanya. Kami menegaskan kembali dukungan penuh kami terhadap upaya AS, Qatar dan Mesir untuk mengupayakan hal ini.”
Para penandatangan, yang mencakup beberapa negara Uni Eropa kecuali Jerman, menambahkan bahwa mereka “siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut guna mendukung gencatan senjata segera”.
Pernyataan itu juga mencap Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang kontroversial dan didukung “Israel” sebagai “berbahaya”. Ke-25 negara itu mengatakan bahwa lembaga tersebut telah merampas “martabat manusia” warga Palestina.
“Kami mengutuk pemberian bantuan secara bertahap dan pembunuhan tidak manusiawi terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, yang berupaya memenuhi kebutuhan hidup paling dasar mereka akan air dan makanan,” tegas pernyataan itu.
“Penolakan ‘Israel’ atas bantuan kemanusiaan esensial bagi penduduk sipil tidak dapat diterima,” tambah pernyataan tersebut. Mereka mendesak “Israel” untuk “mematuhi kewajibannya berdasarkan hukum humaniter internasional”.
PBB menyebut model bantuan GHF “pada dasarnya tidak aman” dan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan yang imparsial.
Yayasan yang mulai beroperasi pada akhir Mei setelah blokade “Israel” selama 11 minggu, menggunakan tentara bayaran swasta AS untuk pengirimannya.
Yayasan ini mengabaikan sistem bantuan yang dikoordinir PBB, yang diklaim “Israel” telah disusupi oleh Hamas — sebuah tuduhan yang tidak didukung oleh bukti yang diverifikasi secara independen.
“Israel” mengebom tempat pembibitan
Desakan agar “Israel” mengakhiri perangnya datang pada hari yang sama ketika penjajah itu mengebom salah satu tempat pembibitan terakhir yang tersisa di Gaza tengah.
Video yang dpublikasikan oleh MEE menunjukkan anak-anak, banyak di antaranya mengenakan ransel, berlumuran darah dan berteriak minta tolong kepada guru dan orang yang lewat.
Situasi di Gaza terus memburuk dalam beberapa hari terakhir. Pada hari Ahad (20/7), Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan bahwa “krisis kelaparan di Gaza telah mencapai tingkat keputusasaan yang baru”.
“Orang-orang sekarat karena minimnya bantuan kemanusiaan,” kata WFP dalam sebuah pernyataan.
“Malnutrisi melonjak, 90.000 perempuan dan anak-anak sangat membutuhkan perawatan. Hampir satu dari tiga orang tidak makan selama berhari-hari.”
Kementerian Kesehatan Gaza menggaungkan peringatan tersebut, dengan mengatakan bahwa setidaknya 19 warga Palestina meninggal karena kelaparan pada hari Ahad dan ratusan lainnya menderita malnutrisi yang bisa segera meninggal.
“Kami memperingatkan bahwa ratusan orang yang tubuhnya telah melemah berisiko mengalami kematian mendadak karena kelaparan,” kata seorang juru bicara kementerian.
Kementerian menambahkan bahwa setidaknya 71 anak telah meninggal karena malnutrisi sejak perang dimulai pada 2023.
Sementara 60.000
lainnya menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi yang parah.
Hamas Tawarkan Pembebasan Semua Tawanan
Pekan lalu, juru bicara resmi sayap bersenjata Hamas, Brigade al-Qassam, mengatakan bahwa kelompok perlawanan Palestina itu telah berulang kali menawarkan pembebasan semua tawanan yang ditahan di Gaza sekaligus, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang komprehensif. Tetapi “Israel” menolak tawaran tersebut.
Abu Ubaidah mengatakan bahwa Perdana Menteri (penjajah) Benjamin Netanyahu dan kabinetnya “menolak” tawaran tersebut dan “tidak peduli dengan nasib tentara mereka,” ujarnya, seraya menuduh para pemimpin “Israel” mempersiapkan publik (warga penjajah) untuk menerima kemungkinan kematian semua tawanan.
Awal pekan ini, sejumlah sumber mengatakan kepada MEE bahwa keluarga tawanan “Israel” yang ditahan di Gaza telah menghubungi Hamas melalui seorang perwakilan untuk menanyakan nasib perundingan gencatan senjata.

Sumber di atas mengatakan bahwa perwakilan itu menghubungi Hamas setelah keluarga para tawanan khawatir Netanyahu mencoba menggagalkan kemungkinan kesepakatan tersebut.
Hamas dan “Israel” mencapai gencatan senjata singkat tiga tahap pada Januari lalu. Tetapi kesepakatan tersebut gagal pada Maret setelah penjajah itu melanjutkan kembali serangan brutal ke Gaza.
“Israel” melanggar kesepakatan tersebut sebelum perundingan dengan Hamas mengenai penghentian perang secara permanen dimulai.
Sejak itu, pemerintahan Trump telah memberikan dukungan penuh kepada “Israel” untuk berperang di wilayah kantong tersebut.
“Israel” tanpa henti membombardir Jalur Gaza yang terkepung sejak serangan 7 Oktober 2023, menggusur seluruh penduduknya yang berjumlah 2,3 juta orang beberapa kali, dan telah menewaskan lebih dari 58.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. (ib)
